Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sebagai Warga Asli Lamongan, Saya Risih ketika Ada yang Menyebut Lamongan Kota

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
4 Maret 2026
A A
Lamongan, Kota yang Tak Pernah Lahir untuk Menjadi Rumah bagi Anak Mudanya

Lamongan, Kota yang Tak Pernah Lahir untuk Menjadi Rumah bagi Anak Mudanya (unplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebenarnya ini keresahan yang sudah lama saya rasakan. Tapi entah kenapa baru coba saya tuliskan. BTW, saya tidak bermaksud gimana-gimana, saya hanya menyampaikan keresahan saja sebagai warga kabupaten yang hampir semua jalan rayanya hancur lebur. Oleh karena itu, saya agak risih jika ada yang merasa kalau Lamongan itu punya suatu daerah yang disebut “kota”.

Iya, sebagai warga asli Lamongan, saya selalu merasa ada yang ganjil ketika seseorang menyebut dirinya berasal dari “Lamongan kota”. Sampai hari ini saya masih bingung, kok bisa ada orang yang dengan mantab menjawab pertanyaan, “Lamongan mana?” dengan mengatakan, “Lamongan kota”.

Saya selalu mengernyit ketika mengalami momen itu. Maksud saya sejak kapan Lamongan punya kota? Setahu saya, secara administrasi Lamongan itu kabupaten. Tidak ada embel-embel kota seperti Kediri atau Pasuruan yang memang punya dua versi: kabupaten dan kota.

Pun jika dinilai dari segi pembangunan, saya tidak menemukan satu sudut pun yang benar-benar meyakinkan bahwa Lamongan pantas menyandang embel-embel kota. Bukan merendahkan, ini lebih ke soal kepantasan istilah saja.

Penyebutan yang terlalu maksa

Saya paham maksudnya. Biasanya yang mereka maksud “Lamongan kota” adalah wilayah pusat kabupaten. Daerah sekitar alun-alun dan kantor pemerintahan. Saya juga paham penyebutan itu semacam cara mudah berkomunikasi. Namun tetap saja, ada yang terasa janggal. Dan entah kenapa telinga saya menjadi tiba-tiba gatal ketika mendengar istilah itu.

Jika diibaratkan, menyebut Lamongan sebagai kota rasanya seperti memberi outfit formal ke anak balita. Iya, secara umum tetap bisa-bisa saja, tapi kelihatan maksa. Karena memang belum pas.

Sebagai gambaran, ketika malam hari, kawasan yang sering disebut Lamongan kota itu bahkan tidak selalu lebih hidup dibanding beberapa kecamatan pesisir seperti Paciran atau wilayah Blimbing–Brondong. Aktivitas ekonominya biasa saja, denyut malamnya juga tidak yang “wah banget”.

BACA JUGA: Lamongan Adalah Daerah dengan Pusat Kota Terburuk yang Pernah Saya Tahu

Baca Juga:

Bagi Warga Kabupaten, Orang Jakarta Terlihat Terlalu Buru-buru dan Terlalu Punya Tujuan

Panduan Memilih Lele di Tenda Lamongan yang Sudah Pasti Enak dan Nggak Bau

Hanya ada alun-alun di sana

Kalau boleh sedikit maido, pusat yang disebut-sebut itu sebenarnya belum punya banyak penanda kuat sebagai kawasan yang benar-benar “kota banget”. Selain alun-alun dan deretan kantor pemerintahan, magnet ruang publiknya masih terbatas.

Alun-alun memang ramai di waktu tertentu (terutama malam minggu), tapi keramaian itu sifatnya periodik, bukan denyut harian yang stabil seperti kota-kota yang benar-benar hidup. Di hari biasa, ritmenya kembali normal, bahkan cenderung lengang di beberapa titik.

Kondisi jalan di beberapa ruas utama pun belum sepenuhnya mulus. Pun terminal busnya juga tidak selalu sibuk. Ruang pedestrian juga belum yang bikin orang betah jalan kaki lama-lama. Kalau ukurannya adalah “vibes kota”, jujur saja, Lamongan masih agak jauh untuk sampai. Iya, label “kota” itu terasa sedikit terlalu dini.

Mari menyebut dengan Kecamatan Lamongan saja

Saya paham, ada semacam kebanggaan tersendiri ketika menyebut sebuah daerah dengan “kota”. Seolah-olah otomatis menaikkan gengsi. Sementara kabupaten sering diasosiasikan dengan wilayah yang biasa-biasa saja. Bahkan kadang dianggap tertinggal

Namun, memberikan embel-embel kota pada sebuah daerah yang memang bukan kota kok adalah rasanya terlalu memaksakan. Kenapa tidak kita sebut saja sebagaimana adanya: Kecamatan Lamongan. Secara administrasi memang ada. Secara visual juga lebih pas. Tidak berlebihan.

Sekali lagi, saya bisa memahami kenapa istilah itu muncul. Ini lebih soal kebiasaan tutur saja. Hanya saja, sebagai orang yang tumbuh di sana, saya merasa Lamongan tidak perlu dipaksa disebut “kota”.

Toh, menjadi kota tidak otomatis membuat jalan lebih halus atau tata ruang lebih rapi. Status administratif tidak serta-merta mengubah kualitas hidup warganya. Pun banyak kota yang tetap semrawut, dan tidak sedikit kabupaten yang justru nyaman ditinggali.

Menurut saya, Lamongan itu cukup menjadi dirinya sendiri dulu. Nanti kalau memang sudah terasa “kota”, orang juga akan dengan sendirinya menyebut begitu, tanpa terlihat terlalu dipaksakan.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Hal Tidak Menyenangkan Jadi Warga Kabupaten Lamongan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Maret 2026 oleh

Tags: Kabupaten Lamongankecamatan lamonganlamonganlamongan kotapaciran
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Ibu Kota Jawa Timur Boleh Pindah ke Mana Saja, Asal Nggak ke Lamongan

Ibu Kota Jawa Timur Boleh Pindah ke Mana Saja, Asal Nggak ke Lamongan

25 Maret 2023
Jangan Hidup di Lamongan kalau Nggak Punya Kendaraan Pribadi, Transportasi Umum Nggak Bisa Diharapkan Mojok.co

Jangan Hidup di Lamongan kalau Nggak Punya Kendaraan Pribadi, Transportasi Umum Nggak Bisa Diharapkan

24 Mei 2024
Jalan Mulus di Kabupaten Lamongan Itu Mitos!

Jika Ingin Jadi Sufi, Silakan Lewat Jalanan di Lamongan, Niscaya Kesabaran Anda Diuji hingga Titik Tertinggi

15 Juli 2023
Mitos Gunung Pegat Lamongan yang Bisa Bikin Pegatan terminal mojok.co

Mitos Gunung Pegat Lamongan yang Bisa Bikin Pegatan

14 Desember 2021
Seandainya Ada Trans Jatim Lamongan Tuban, Banyak Warga akan Terbantu Mojok.co

Seandainya Ada Trans Jatim Lamongan–Tuban, Banyak Warga akan Terbantu

24 Februari 2025
Jalan Pucuk-Blimbing Lamongan, "Raja Terakhir" Jalur Berbahaya di Lamongan

Jalan Pucuk-Blimbing Lamongan, “Raja Terakhir” Jalur Berbahaya di Lamongan

18 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Deodoran Kahf, Deodoran Murah yang Tidak Jualan Klaim yang Mewah, tapi Kualitasnya Begitu Hebat dan Nggak Bau, Nggak kayak Merek yang Itu tuh

Deodoran Kahf, Deodoran Murah yang Tidak Jualan Klaim yang Mewah, tapi Kualitasnya Begitu Hebat dan Tidak Bau, Nggak kayak Merek yang Itu tuh

17 Juni 2026
Sidang Skripsi Nggak Perlu Dirayakan Berlebihan, Ingat Ada Revisi Mojok.co

Jangan Bangga Skripsi Nggak Banyak Revisi, Bisa Jadi Itu Pertanda Salah Arah yang Bikin Repot Saat Sidang Nanti  

20 Juni 2026
tiket Go Show Tidak Sama dengan Tarif Khusus, dan Istilah Kereta Api Lain yang Sering Dianggap Sama, padahal Beda KAI

Jangan Sampai Zonk di Stasiun! 3 Kiat Berburu Tiket Go Show KAI Tanpa Drama Telantar

19 Juni 2026
Pertamax di Pertashop Memang Lebih Murah, tapi Tetap Saja Orang pada Beli Pertalite, Harga Pertamax Nggak Ngotak! pertamina pertamax oplosan

Cerita Mereka yang Masih Tetap Membeli Pertamax: Jualan Pertamax Eceran Makin Nggak Laku hingga Seorang Kurir yang Terpaksa Menekan Pengeluaran

21 Juni 2026
7 Rokok Murah Harga di Bawah 15 Ribu yang Masih Enak Dinikmati In This Economy  

7 Rokok Murah Harga di Bawah 15 Ribu yang Masih Enak Dinikmati In This Economy  

20 Juni 2026
40 Jam Disiksa Bus Putra Remaja dari Jogja Sampai Jambi (Unsplash)

Pengalaman Naik Bus Putra Remaja dari Jogja Menuju Jambi: Seni Bertahan Hidup Selama 40 Jam di Atas Kursi Rusak yang Menyiksa

16 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.