Sebenarnya ini keresahan yang sudah lama saya rasakan. Tapi entah kenapa baru coba saya tuliskan. BTW, saya tidak bermaksud gimana-gimana, saya hanya menyampaikan keresahan saja sebagai warga kabupaten yang hampir semua jalan rayanya hancur lebur. Oleh karena itu, saya agak risih jika ada yang merasa kalau Lamongan itu punya suatu daerah yang disebut “kota”.
Iya, sebagai warga asli Lamongan, saya selalu merasa ada yang ganjil ketika seseorang menyebut dirinya berasal dari “Lamongan kota”. Sampai hari ini saya masih bingung, kok bisa ada orang yang dengan mantab menjawab pertanyaan, “Lamongan mana?” dengan mengatakan, “Lamongan kota”.
Saya selalu mengernyit ketika mengalami momen itu. Maksud saya sejak kapan Lamongan punya kota? Setahu saya, secara administrasi Lamongan itu kabupaten. Tidak ada embel-embel kota seperti Kediri atau Pasuruan yang memang punya dua versi: kabupaten dan kota.
Pun jika dinilai dari segi pembangunan, saya tidak menemukan satu sudut pun yang benar-benar meyakinkan bahwa Lamongan pantas menyandang embel-embel kota. Bukan merendahkan, ini lebih ke soal kepantasan istilah saja.
Penyebutan yang terlalu maksa
Saya paham maksudnya. Biasanya yang mereka maksud “Lamongan kota” adalah wilayah pusat kabupaten. Daerah sekitar alun-alun dan kantor pemerintahan. Saya juga paham penyebutan itu semacam cara mudah berkomunikasi. Namun tetap saja, ada yang terasa janggal. Dan entah kenapa telinga saya menjadi tiba-tiba gatal ketika mendengar istilah itu.
Jika diibaratkan, menyebut Lamongan sebagai kota rasanya seperti memberi outfit formal ke anak balita. Iya, secara umum tetap bisa-bisa saja, tapi kelihatan maksa. Karena memang belum pas.
Sebagai gambaran, ketika malam hari, kawasan yang sering disebut Lamongan kota itu bahkan tidak selalu lebih hidup dibanding beberapa kecamatan pesisir seperti Paciran atau wilayah Blimbing–Brondong. Aktivitas ekonominya biasa saja, denyut malamnya juga tidak yang “wah banget”.
BACA JUGA: Lamongan Adalah Daerah dengan Pusat Kota Terburuk yang Pernah Saya Tahu
Hanya ada alun-alun di sana
Kalau boleh sedikit maido, pusat yang disebut-sebut itu sebenarnya belum punya banyak penanda kuat sebagai kawasan yang benar-benar “kota banget”. Selain alun-alun dan deretan kantor pemerintahan, magnet ruang publiknya masih terbatas.
Alun-alun memang ramai di waktu tertentu (terutama malam minggu), tapi keramaian itu sifatnya periodik, bukan denyut harian yang stabil seperti kota-kota yang benar-benar hidup. Di hari biasa, ritmenya kembali normal, bahkan cenderung lengang di beberapa titik.
Kondisi jalan di beberapa ruas utama pun belum sepenuhnya mulus. Pun terminal busnya juga tidak selalu sibuk. Ruang pedestrian juga belum yang bikin orang betah jalan kaki lama-lama. Kalau ukurannya adalah “vibes kota”, jujur saja, Lamongan masih agak jauh untuk sampai. Iya, label “kota” itu terasa sedikit terlalu dini.
Mari menyebut dengan Kecamatan Lamongan saja
Saya paham, ada semacam kebanggaan tersendiri ketika menyebut sebuah daerah dengan “kota”. Seolah-olah otomatis menaikkan gengsi. Sementara kabupaten sering diasosiasikan dengan wilayah yang biasa-biasa saja. Bahkan kadang dianggap tertinggal
Namun, memberikan embel-embel kota pada sebuah daerah yang memang bukan kota kok adalah rasanya terlalu memaksakan. Kenapa tidak kita sebut saja sebagaimana adanya: Kecamatan Lamongan. Secara administrasi memang ada. Secara visual juga lebih pas. Tidak berlebihan.
Sekali lagi, saya bisa memahami kenapa istilah itu muncul. Ini lebih soal kebiasaan tutur saja. Hanya saja, sebagai orang yang tumbuh di sana, saya merasa Lamongan tidak perlu dipaksa disebut “kota”.
Toh, menjadi kota tidak otomatis membuat jalan lebih halus atau tata ruang lebih rapi. Status administratif tidak serta-merta mengubah kualitas hidup warganya. Pun banyak kota yang tetap semrawut, dan tidak sedikit kabupaten yang justru nyaman ditinggali.
Menurut saya, Lamongan itu cukup menjadi dirinya sendiri dulu. Nanti kalau memang sudah terasa “kota”, orang juga akan dengan sendirinya menyebut begitu, tanpa terlihat terlalu dipaksakan.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 4 Hal Tidak Menyenangkan Jadi Warga Kabupaten Lamongan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













