Saya Orang Wonogiri, Kerja di Jogja. Kalau Bisa Memilih Hidup di Mana, Tanpa Pikir Panjang Saya Akan Pilih Jogja

Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah (wikipedia.org)

Sebagai perantau asal Wonogiri yang kerja di Jogja, saya kerap dapat pertanyaan yang hingga kini pun susah saya jawab: mau stay hidup tenang di Wonogiri atau malah cabut dari kampung dan hidup di Jogja?

Pertanyaan ini entah kenapa makin susah saya jawab setelah saya memutuskan untuk pindah dari rumah saya. Sembari menunggu pembeli rumah, saya menganalisis pros and cons stay di Wonogiri, atau gambling memulai hidup dari 0 di Jogja. Setelah ketemu, bukannya makin tenang dan terang, saya malah makin gamang.

Banyak yang heran kenapa saya bingung. Bagi orang-orang, saya aneh karena saya justru ragu untuk “hidup slow living” di kabupaten yang apa-apanya indah. Tapi buat orang yang sudah terpapar Jogja, serta tahu ada realitas bernama kemapanan ekonomi, hidup slow living di kabupaten kecil itu bukan urusan sederhana.

Ya, yang bikin saya gamang itu memang uang. Dan memang masalah orang hidup itu sesederhana uang. Oke, saya jelaskan sedikit.

BACA JUGA: 4 Pertanyaan yang Bikin Warga Wonogiri Naik Darah

Gaji, dan gaji

Dulu, 2021, saya sempat ditanya oleh Bapak, apakah mau hidup saja di Wonogiri, ketimbang bolak-balik Jogja-Wonogiri. Saya sih mau, tapi gajinya harus sama. Alih-alih mendukung, Bapak saya malah ketawa. Katanya, mana ada yang mau menggaji segitu di kota ini.

Nah itulah masalahnya. Wonogiri ini salah satu kabupaten dengan UMR terendah. Kalau saya mau dapat gaji yang sama dengan gaji saya sekarang, jabatan saya harus tinggi. Itu pun jelas tidak mudah. Atau saya harus jadi PNS dengan golongan tinggi. Ya sama saja susahnya, pun saya tak mau jadi PNS.

Perkara gaji itu satu hal, ada hal lain lagi. Entah kenapa, saya selalu mentok nyari ide usaha di tempat saya lahir. Saya tidak melihat peluang cari uang yang besar di sana. Sedangkan di Jogja, saya bisa memberi satu kertas penuh daftar peluang usaha yang bisa ngasih saya income setidaknya 2 kali UMR. Bisnis saya, kelas menulis pun, sekalipun online, basisnya tetap di Jogja. Jadi ya, itu kendalanya.

Oke, kalian mungkin menganggap saya tidak tahu caranya melihat peluang. Kalian mungkin benar, tapi kalian lupa satu fakta bahwa amat banyak orang merantau dari Wonogiri ke kota besar macam Jakarta. Kenapa? Ya simply renek duite kene ki.

Wonogiri enak, tapi Jogja jauh lebih enak

Gara-gara saya sedang cari rumah, saya jadi tahu bahwa harga properti di Wonogiri mulai gila. Rumah seharga 400 juta makin umum, padahal kalau dilihat, nggak mewah juga ini rumah.

Harga kopi di kafenya juga sama kayak Jogja. Harga makanannya sekarang juga nggak jauh beda. Makin maju sih emang, tapi kok malah apa-apanya makin mahal. Pemasukan saya sih pemasukan luar kota, tapi pengeluarannya juga sama saja, padahal hidup di Kabupaten. Kalau sama mahalnya gini, saya pilih hidup di Jogja kalau bisa. Mungkin saya akan ngontrak rumah, tapi kesempatan hidup lebih baik jauh lebih terbuka.

Yang orang nggak tahu itu, kota-kota yang dianggap slow living itu sebenernya nggak semurah itu. Ada alasannya kota tersebut kosong, atau orangnya merantau. Ya karena living opportunitynya nggak sebagus yang ada di pikiran kalian. Kalau kalian punya investasi yang bisa ngasih kalian dua digit bulanan meski nggak ngapa-ngapain, ya enak-enak aja.

Sedangkan warga asli desanya, justru tidak seberuntung itu. Mereka harus angkat kaki demi porsi nasi yang lebih baik. Kalaupun mereka bertahan, mereka tak lantas bisa hidup tenang, karena biaya yang mereka keluarkan untuk bertahan juga besar.

Ya itulah realitas asli orang kabupaten: angkat kaki berat, bertahan pun juga berat. Dulu saya memilih hidup di Wonogiri. Tapi kini, saya kok mulai ragu ya.

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menikmati Slow Living di Wonogiri: Hidup Nyaman di Kabupaten yang Dipandang Sebelah Mata

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version