Saya Mualaf dan Ini yang Saya Rasakan Ketika Natal

Sebagai orang-orang yang muslim sejak lahir dan dikelilingi keluarga muslim, bersyukurlah kalian karena hal-hal dilematis seperti ini tidak perlu kalian alami.

Featured

Mimi Hilzah

Beberapa hari yang lalu saya membaca di sebuah kolom komentar, seseorang menyebut lagu Hai Mari Berhimpun. Otak saya langsung tersengat, ah ya… ada lagu berjudul seperti itu ketika saya masih sekolah di sekolah Kristen Protestan dulu. Saya bersenandung dan masya Allah, saya masih hapal liriknya.

Apakah setelahnya iman Islam saya menjadi ciut? Kayaknya nggak, haha. Saya merasa terkejut saja sebab setelah 22 tahun menjadi muallaf, saya masih menghapal lagu itu padahal sebelumnya seingat saya, saya tak pernah mengulangnya. Atau mungkin karena saya belajar lagu itu sejak masih sangat kecil, jadi memori tentang lirik dan nadanya terasa sangat familiar? Pun saya memang suka musik, hingga telinga dan otak saya sangat mudah mencerna nada.

Tapi setelahnya, saya tidak justru merasa terintimidasi dan berburuk sangka bahwa mungkin saja saya telah menodai diri dan iman saya dengan mencoba melantunkan lagu itu. Toh ketika saya lantunkan kemarin, penghayatan saya jauh berbeda dengan ketika saya masih di dalam gereja dulu. Sebenarnya ini rahasia saya, tapi tak apalah saya bagi dengan kalian. Apa yang menjadi persepsi kalian, toh kalian sendiri yang kelak bertanggung jawab.

Pun ketika berkunjung ke Manado dua malam beberapa hari yang lalu, kemeriahan persiapan Natal terasa begitu kental. Pusat perbelanjaan dipenuhi orang-orang, di hotel sejak pagi sudah terdengar lantunan lagu natal. Saya sering tergelitik ikut menikmati kegembiraan orang lain, tak peduli apa agamanya. Bahwa mempersiapkan sesuatu yang ditunggu-tunggu semacam kelahiran Kristus itu tentu adalah termasuk momen istimewa bagi umat Kristiani.

Dua tahun ini dapur kami berturut-turut bahkan ikut ambil bagian, walau kecil saja. Kami di dapur ikut mempersiapkan kue-kue kering pelengkap keceriaan Natal di rumah masing-masing pelanggan beragama Kristen. Ada kartu ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru yang saya cetak, ada puluhan paket kue hadiah Natal yang kami diamanahi untuk dikerjakan dan dikirimkan sebelum Natal tiba. Saya ikut bergembira bisa menjadi perantara kegembiraan orang lain, yang tidak ada hubungannya dengan naik turunnya kualitas iman saya. Asisten-asisten saya ketiban rejeki, bulan ini mereka mendapat upah lebih dari lembur mengerjakan pesanan natal.

Sehari-harinya saya masih menjalankan kewajiban saya sebagai seorang muslimah. Shalat, bekerja sungguh-sungguh, mengeluarkan zakat, dan lain sebagainya tanpa merasa diri sedang dinodai euforia Natal.

Saya memandang Natal hari ini sebagai sesuatu yang bukan lagi milik saya, tapi bukan juga serta-merta menjadi sesuatu yang harus saya benci. Ibu, kakak dan adik kandung saya masing-masing masih merayakan Natal. Kue-kue terbaik sudah saya kirimkan supaya keceriaan mereka nanti semakin lengkap. Para pelanggan yang berada di luar kota Makassar sudah terurus dan terkirim dengan baik semua pesanannya, supaya kue-kue itu tiba tepat sebelum Natal dimulai.

Partisipasi saya mengandung dosa? Dosa apa yang diperoleh oleh orang yang bekerja dengan tekun dan jujur dalam kegiatan muamalah, dan kemudian tidak meninggalkan kewajibannya pada agamanya sendiri? Seletih-letihnya saya bekerja hingga larut, saya tidak melupakan sajadah saya. Sesibuk-sibuknya kami di dapur, saya selalu mengingatkan jam shalat kepada para asisten saya. Saya tetap mendahulukan apa yang harus saya dahulukan, tetapi saya juga bersungguh-sungguh menuntaskan kewajiban menyelesaikan akad penjualan dengan para pelanggan tidak peduli apa agama dan latar belakangnya.

Baca Juga:  Hal-Hal Ini Bakal Kamu Rasakan Jika Menjadi Muslimah yang Menjaga Hijab

Sebanyak-banyaknya pesanan yang bisa saya penuhi, saya masih bersyukur kepada Allah, mengirimkan shalawat kepada Rasulullah, tidak lantas salah alamat kepada Yesus.

Saya justru tersenyum membaca pertikaian yang dihadirkan oleh orang-orang yang mengharamkan ucapan Natal. Mereka cuma bisa melakukan itu? Saya sejak lama telah memutar otak bagaimana dapur ini bisa bermanfaat bagi semua manusia yang bersentuhan dengannya, tanpa peduli dari latar belakang dan agama apa yang mereka anut.

Saya menghadiahi beras kepada para driver ojol yang melakukan pengantaran kue. Darimana uangnya? Beras kualitas super dengan berat 4kg untuk setiap driver, darimana asal uangnya? Kalau dari keuntungan penjualan kami takkan menutup sepenuhnya. Beras itu bisa tersedia dari tak terhitung jumlah pelanggan yang menyisihkan rejekinya khusus untuk pembelian beras, pun mereka yang melebihkan pembayaran kuenya, plus sebagian dari keuntungan toko. Ketika saya menerima amanah pelanggan, tak seorang pun yang menitipkan pesan; mbak…tolong nanti berasnya dikasih ke orang muslim saja, ya? Atau; mbak…saya maunya beras dari saya untuk yang nasrani saja.

Saya yang merasa lega bertemu pelanggan-pelanggan yang tidak kuatir rejeki yang dititipkannya dinikmati oleh bukan golongan dan seagamanya.

***

Saya mungkin harus bersyukur, saya menyeberang agama dari Kristen Protestan ke Islam sekitar 22 tahun yang lalu di mana orang-orang tidak sedemikian mudah meributkan hal-hal menyangkut atribut dan media sosial memang belum ada.

Coba jamannya sudah seperti sekarang, mungkin saya akan jadi seorang pencinta Islam sejati yang ujung pakaian saya mendadak bisa menjadi najis jika bersentuhan dengan pakaian orang yang beragama lain. Mengucapkan selamat hari raya ke pemeluk agama lain akan mengotorkan hati dan memberi hadiah kepada yang bukan Islam akan terhitung pekerjaan sia-sia.

Ketika saya meninggalkan Kristen bukan perkara soal pertimbangan baik dan buruk. Ada panggilan hati yang tidak bisa saya lawan, dan kemudian saya harus memberanikan diri membuat pilihan. Pilihan yang tidak dimengerti oleh saudara saya yang nasrani, pilihan yang ditepuktangani oleh kawan-kawan saya yang muslim. Padahal, dalam prosesnya kedua kubu ini tidak tahu-menahu secara persis, bagaimana saya berjuang untuk menjadi seorang muslimah yang bertanggung jawab tetapi juga menjadi manusia yang masih bisa berada di antara mereka dan tidak berubah menjadi musuh. Ada beberapa sahabat nasrani yang begitu menyayangi saya, demikian juga sebaliknya.

Setelah bersahadat, ada proses panjang yang berliku dalam belajar mengenai Islam. Bukan sekadar menghapal surah-surah untuk keperluan shalat, bukan juga cuma bisa puasa dan berzakat. Saya masih punya tugas berat, bagaimana memenuhi kewajiban-kewajiban saya sebagai seorang muslim dan kewajiban saya sebagai anak dan saudara mereka yang tidak seiman.

Mereka yang begitu takut tercemar oleh ucapan selamat Natal mungkin tak pernah tahu rasanya ketika suatu ketika saya harus hadir di jamuan makan malam acara ulang tahun ibu kandung saya dan menu daging babi ada di seluruh permukaan meja. Saya yang tetap datang tapi menolak makan. Saya tetap mencium dan memeluk ibu saya, meski setelahnya saya menyumpahi dalam hati kakak saya yang menginisiasi acara tersebut. Apakah setelahnya saya lantas memusuhi kakak saya dengan prasangka mungkin saja ia memang hendak menjebak saya atau memperuncing perbedaan dengan menganggap ia betul tidak mampu menghargai saya? Tidak. Kami masih bersaudara hingga kini. Saya yang kemudian berpikir, saya harusnya bersyukur bahwa ujian atas keteguhan saya sudah terlewati dengan baik tanpa ada orang yang harus saya sakiti.

Baca Juga:  Karakter Orang Padang di Perantauan

Di misa pemberkatan terakhir jenasah ayah kandung saya belum sampai satu tahun yang lampau, saya meminta ijin untuk duduk di dekat pintu gereja. Bukan di depan bersama barisan keluarga, tapi juga bukan di luar gereja seperti mereka yang takut menginjakkan kaki di gereja konon bisa membuat mereka berdosa. Saya lagi-lagi mengambil jalan tengah sebagai anak dari ayah yang nasrani sekaligus istri dari seorang lelaki muslim. Saya ada di sana menyaksikan. Saya melafalkan doa dalam hati menurut kepercayaan saya. Saya maju ke depan saat peti hendak ditutup dan diberi kesempatan membelai wajah ayah saya. Saya sedih sebab mungkin saja saya telah mengecewakan mendiang ayah saya, tapi demi Allah saya tidak pernah menyesal telah memeluk Islam.

Yang bisa saya lakukan adalah memohon ampun kepada Allah jikalau apa yang saya lakukan keliru sekaligus saya memohon maaf kepada ayah saya jika saya tidak cukup berbakti sebagai anak.

Sebagai orang-orang yang muslim sejak lahir dan dikelilingi keluarga muslim, bersyukurlah kalian karena hal-hal dilematis seperti ini tidak perlu kalian alami. Bahwa biar bagaimana saya ingin menjadi hamba Allah yang taat, saya tak bisa serta merta melepaskan diri dari kenyataan bahwa saya adalah anak dari seorang perempuan dan seorang lelaki yang saya sebut sebagai orang tua, saudara dari beberapa manusia baik lainnya, tidak peduli mereka kesemuanya kalian sebut sebagai kafir. Saya pun masih saudara bukan sedarah dengan sahabat-sahabat saya yang memilih mengimani Yesus, tanpa kami harus saling membenturkan keyakinan yang kami miliki dan percayai.

Saya selalu percaya, kasih sayang Allah luasnya jauh melampaui logika dan pemahaman manusia. Dalamnya jauh melebihi kedalaman hati seorang pencinta sejati sekalipun. Kita yang hanya manusia jelas tidak akan mampu seadil diriNya, tapi minimal kita sedikit banyak bisa berusaha belajar menjadi manusia yang memelihara dan menularkan kasih sayang, bukan kebencian.

Selamat merayakan Natal.

BACA JUGA Salah Satu Indahnya Keberagaman: Dapat Hantaran dan Menikmati Makanan saat Hari Raya Agama Lain atau tulisan Mimi Hilzah lainnya. Follow Facebook Mimi Hilzah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
79


Komentar

Comments are closed.