Dunia Tidak Butuh Anak yang Jago Menghafal

Artikel

Aisha Rara

Dunia Tidak Butuh Anak yang Jago Menghafal

Pernyataan yang dilontarkan Mendikbud baru ini saya perhatikan mendapat kritikan tajam oleh beberapa aktivis dakwah yang menyangkutpautkan pernyataan ini dengan hapalan Alqur’an. Sebagian menganggap Nadiem ingin mematikan sistem pendidikan yang menggali dan mengembangkan potensi, minat dan bakat anak dalam menghapal Alqur’an sejak usia dini.

Saya lalu penasaran menelusuri beritanya. Banyak juga. Ada 4 halaman yang harus saya klik di salah satu sumber berita utama, lalu beberapa halaman lagi di sumber berita lainnya.

Dan tanpa bermaksud menyalahkan opini teman-teman yang telah lebih dahulu membaca dan mempersepsikan omongan Nadiem seperti pada paragraf pertama tulisan ini, saya memiliki opini sendiri tentang ini.

Menurut saya, apa yang dibicarakan Nadiem lebih menyasar kepada sistem pendidikan dan evaluasi sekolah mainstream yang masih berbasis hapalan. Saat tiba ujian, banyak sekolah yang hanya membekali siswa dengan buku paket, catatan sekolah dan lembaran kisi-kisi untuk menghadapi ujian.

Siswa belajar di rumah. Bagaimana belajarnya? Tentu saja membaca dan menghapal bahan ujian dari buku sesuai dengan kisi-kisi yang diberikan. Lalu esoknya kembali ke sekolah, duduk manis dan mengerjakan soal pilihan ganda dan esai. Bagaimana jika siswa tidak hapal saat belajar, habis sudah!

Saya pikir inilah yang sedang dikritisi oleh Nadiem.

Ada begitu banyak assesment yang dapat diberikan untuk menguji kemampuan siswa. Lalu mengapa hanya hapalan yang menjadi penentu keberhasilan belajar?

Untuk itulah lebih lanjut, Nadiem meminta dan berniat memberi kewenangan penuh kepada guru untuk berkreasi lebih baik dalam menguji dan memberikan assesment kepada siswanya dalam menentukan keberhasilan belajar.

Saya sempat sangat kecewa ketika mengintip gaya mengajar seorang guru di sebuah sekolah unggulan. Waktu itu ada pelajaran bertema lingkungan. Sub tema kebersihan. Yang diaasses kemampuan siswa untuk bertanggung jawab dan mengerjakan perintah sederhana secara berurutan serta mengukur kemampuan motorik kasar. Sang guru menuliskan di papan tulis:

Langkah-langkah mengepel lantai:
1. Ambil alat pel dan ember
2. Isi ember dengan air
3. Masukan sabun pel
4. Masukan alat pel, bla…bla…bla…

Baca Juga:  RUU KPK Adalah Bukti Betapa Progresifnya DPR dan Presiden Kita

Bagus yaaa. Simpel dan berurutan. Sayangnya itu hanya stop sampai disitu. Siswa disuruh mencatat dan saya kaget waktu hal ini menjadi salah satu soal ujian. Saya coba datangi sang guru lalu bertanya apakah beliau mempraktikan apa yang ia tulis di papan tulis setelah menyuruh siswanya mencatat? Apakah beliau mengambil alat pel dan ember dari gudang lalu bersama siswa mengepel lantai kelas? Jawabnya: TIDAK!

Beliau malah bersikeras bahwa anak-anak sudah mengerti. Buktinya sebagian besar bisa menjawab soal tersebut. Saya bilang yup Ibu betul. Anak-anak memang bisa menjawab soal, tapi mereka tetap tidak bisa atau tidak berminat membantu ibunya mengepel lantai di rumah. Lagipula belum tentu anak yang bisa menjawab dengan runut dan benar itu benar-benar bisa mengepel, dan sebaliknya, anak yang jawabannya salah bukanlah berarti ia tidak bisa ngepel. Kan Ibu belum pernah lihat mereka ngepel.

Bukankah yang ingin diukur adalah bisa tidaknya anak bertanggung jawab? Iya sih terukur. Anak bertanggung jawab menghapai langkah-langkahnya, bukan mengerjakannya. Lalu motorik kasar mana yang bisa dinilai saat anak hanya menghapal tanpa mempraktikan? Oh saya tahu, mingkin kecepatan dan kelincahan tangan dalam mengambil aneka cemilan saat sedang menghapal. Toh, sebagian orang memang butuh terus mengunyah agar bisa berkonsentrasi. Saya contohnya. 😑

Itu baru pelajaran mengepel yang begitu sederhana.
Bagaimana dengan pelajaran lainnya. Apalagi yang terkait sains dan ilmu bahasa.

Terkait ujian bahasa ini juga lucuk sekali, terutama bahasa daerah. Saya dulu pernah disodorin lembaran ujian bahasa betawi untuk ansk SD yang membuat saya nyengir sendiri. Seumur-umur diasuh emak, bapak, engkong, enyak, ncang, ncing tapi hasilnye berak sekebon. Saya gak ngarti itu soal bahasa mane. Urutan kalimatnya saya lihat acak kadut, gak sesuai dengan bahasa yang kami pakai sehari-hari. Padahal keluarga kami ini betawi tok-tok dan tinggal di lingkungan betawi tok-tok juga.

Dan ini juga terjadi pada kawan saya yang dikasih lihat lembar ujian bahasa sunda. Koq susah yaaa. Padahal dia lahir dan besar di tanah pasundan. Entah siapa yang buat soal.

Baca Juga:  Nunggu Bisikan Najwa ke Nadiem: “Jadikan Kampus Cerdikiawan, Jangan Cendikiawan”

So, kalau soal bagian ini saya setuju dengan Nadiem. Teori itu penting, tapi jauh lebih penting jika teori itu bisa dipraktikan dalam kehidupan, bukan sekedar dihapalkan.

Karena dalam praktik pasti tercipta proses. Proses inilah yang membuat siswa berpikir tentang sebab dan akibat. Mengapa begini dan mengapa begitu. Bukan hanya “what” nya saja yang didapat lalu dinilai, tapi juga sampai ke “how”. Ketertarikan terhadap “how” inilah yang harus ditumbuhkan sehingga dapat membuahkan bahkan mengembangkan ide dan kreasi lain yang lebih baik. Bukan hanya sekedar berhenti di narasi.

Selembar kertas ujian hanya baik untuk mengukur standarisasi dasar keilmuan di tempat yang memiliki standar kompetensi pendidikan yang sudah merata. Tetapi bukan hal bijak untuk menentukan tingkat kemampuan siswa demi mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya. Karena setiap manusia itu istimewa. Mungkin ia seperti Ikan yang pandai berenang, tapi tidak bisa selincah Rara *eh Kera saat memanjat pohon. Mungkin juga ia tak bisa keduanya, namun ia pandai merangkai kata dalam sebuah karya.

Dan bukan saatnya lagi kita memaksakan apa yang mereka tidak bisa, melainkan mengembangkan apa yang mereka bisa. Karena mereka memang bukan ensiklopedia berjalan yang harus tahu segalanya. Dan untuk hidup dan berkarya, mereka tak perlu harus bisa segala rupa. Cukup fokus terhadap apa yang mereka BISA dan SUKA sambil bertakwa kepada yang Maha Kuasa.

Semua orang adalah pemimpin. Masing-masing pemimpin pasti punya peran dalam hidupnya. Dan kita tidak perlu menjadi orang lain untuk menjalani peran kita.

BACA JUGA Selamat Kamu Tidak Juara Kelas, Dik! atau tulisan Aisha Rara lainnya. Follow Facebook Aisha Rara.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
13


Komentar

Comments are closed.