Duka Muslimah yang Mudik Sendirian

Sebagai seorang muslimah, tentunya tidak mudah untuk bepergian sendirian. Apalagi menggunakan transporatasi umum—kadang harus bersenggolan dengan kaum Adam.

Artikel

Avatar

Sebagai seorang muslimah, tentunya tidak mudah untuk bepergian sendirian. Apalagi menggunakan transporatasi umum, yang membuatmu kadang harus bersenggolan dengan kaum Adam. Seperti perjalananku kemarin dari kota Malang ke Yogyakarta menggunakan transportasi Kereta Api. Butuh waktu sekitar 7 jam lebih untuk sampai di stasiun tujuan. Saya sudah memiliki bayangan akan kejadian yang perlu diantisipasi agar tak terjadi. Pilihan kursi yang tersedia pun tak bisa di pungkiri membuat kepalaku agak gelisah. Berada di bangku 19A, di pojok dekat jendela dengan posisi kursi saling berhadapan dan berjejeran tiga, tentu membuat “saling senggol” kemungkinan besar tak terelakkan.

Sebelum naik kereta, saya selalu berharap bahwa orang di depan dan samping saya adalah wanita. Tapi ternyata, takdir berkata lain. Dua orang di sampingku adalah bapak-bapak. Sedangkan di hadapanku adalah seorang pria dan di sampingnya keluarga kecil bahagia—suami-istri dan dedek bayi. Tentu saja dalam situasi seperti ini saya harus lebih waspada agar tidak sampai bersentuhan dengan yang bukan mahram. Kebayangkan bagaimana usahaku juga para muslimah di luar sana harus menekuk badan, kaki juga tangan dengan posisi bangku yang tidak ada batasan. Ditambah lagi dengan barang-barang yang tergeletak di bawah dan depan kursi, membuat tubuhku makin meringsek.

Selain itu, saya juga sudah mengantisipasi situasi kursi seperti ini dengan membawa hijab. Bukan hijab yang ada di masjid apalagi tripleks yah haha. Tapi tas gandeng yang tidak terlau besar, sehingga tidak memakan tempat duduk terlalu banyak. Setidaknya bisa sebagai pembatas saya dan dia yang belum halal. Cara ini juga sering saya lakukan saat memesan ojek online. Tas gandeng akan saya taruh di tengah sebagai pembatas saya dan mas drivernya. Terkadang si mas driver harus memposisikan tempat duduk dengan baik, karena wilayah tempat duduknya diambil oleh tas bawaanku. Apalagi kalau tas yang kubawa isinya banyak. Wah, mungkin tempat duduk si ojol cuman sejengkal. Yah gimana lagi, belum ada yang bisa antarin kesana-kemari sih, Mas—lah curhat. hehe.

Selain itu, perjuanganku tak berhenti disitu saja. Dengan jarak tempuh yang jauh dan memakan waktu yang panjang, biasanya para penumpang memanfaatkan waktu dengan tidur—tapi tidak denganku. Kenapa? Emang gak ngantuk? Yah ngantuklah, Ferguso. Cuman saya mesti tetap terjaga, agar jangan sampai ada kepala yang melewati batas posisinya. Harus menggunakan jurus gerak-gerak atau uhuk-uhuk jika ada tanda-tanda perubahan posisi kepala yang tak terkendali. Sehingga penumpang di depan atau sampingku yang sudah setengah sadar dapat memperbaiki kembali posisinya. Haduh riweuh kan yhaaa~

Biasanya saat yang lain tidur, guna mengusir kebosanan saya selalu membawa buku bacaan. Saya suka membaca, tapi tujuh jam baca buku—pening juga kan. Maka dari itu, saya sudah membuat list kegiatan yang akan saya lakukan di kereta. Niat banget—padahal kerjanya cuman duduk doang. Tapi justru karena hanya duduk, di mana duduk selalu identik dengan menunggu dan saya paling nggak suka nunggu tanpa ngapa-ngapain padahal alasan utamanya sering di php-in sih, saya buatlah waktu tujuh jam itu biar agak produktif.

Baca Juga:  Apa yang Salah Dengan Logat—Aksen dan Dialek?

Selama dalam perjalanan, tujuh jam Malang – Yogyakarta, saya juga banyak merenung sambil melihat tas pembatas dan bergumam, “Hmmm ini sebabnya nih, muslimah dalam bepergian harus bersama mahramnya. Tas oh tas. Semoga kamu segera diganti oleh sesosok manusia yang bisa kupanggil imam.” —eh, kok curhat lagi. haha. Paling nggak Pemerintah juga mempertimbangkan untuk membedakan kursi laki-laki dan perempuan pada transportasi Kereta Api lainnya. Meskipun memang sudah ada sih pemberlakukan kursi Kereta Api untuk muslimah, tapi masih di wilayah Jabodetabek saja—lah kan perempuan bukan hanya di kota metropolitan doang, Pak. Setidaknya, saya dan jutaan muslimah di Indonesia tidak perlu memasang jurus tekuk-menekuk, gerak-gerak atau pembatas lagi—sumpah itu melelahkan—dan tentunya akan membuat para wanita juga merasa lebih aman dan nyaman.

Menjadi muslimah itu memang tidak mudah. Harus menjaga diri dan menegakkan syariat yang sudah ditetapkanNya. Untuk para muslimah yang juga sedang mudik dan dalam keadaan mblo sendirian, silahkan keluarkan jurus-jurus inovasi kalian dalam menjaga kehormatan seorang muslimah. Semoga di tengah perjuangan itu, kita akan dipertemukan dengan para pengganti tas pembatas.

Stay strong, mah~

---
547 kali dilihat

3

Komentar

Comments are closed.