Saya Bukan Vegan, dan Saya Bukan Pembunuh – Terminal Mojok

Saya Bukan Vegan, dan Saya Bukan Pembunuh

Artikel

Sigit Candra Lesmana

Suatu hari muncul sebuah pemberitahuan di Instagram saya bahwa akun saya telah diikuti oleh akun yang mengampanyekan untuk mencintai hewan serta menjadi vegan (Tidak makan hewan dan semua produk olahannya). Dari situ saya berpikir bahwa jika admin tersebut ingin mengampanyekan kepada saya untuk berhenti memakan daging hewan, sepertinya dia sudah salah sasaran. Bukan karena saya memang seorang vegan, tapi saya itu jarang sekali makan daging.

Sekali lagi bukan karena keinginan saya, tapi saya terlahir di keluarga yang kurang mampu sehingga daging menjadi barang yang sangat mewah. Saya baru bisa puas makan daging ketika Idul Fitri tiba. Nah, budaya kita selama Idul Fitri pasti berkunjung ke rumah saudara atau kerabat, saat berkunjung ke rumah saudara inilah saya bisa makan daging. Saat Lebaran di rumah juga pasti menyediakan masakan berbahan daging untuk menyambut sanak saudara yang berkunjung.

Jujur saja, momen sekali setahun itu rasanya sangat berat untuk saya tinggalkan, dan saya kira sebagian besar masyarakat Indonesia sama seperti saya. Jika dibandingkan dengan Amerika Serikat yang konsumsi dagingnya begitu brutal, di mana setiap masakannya pasti berbahan daging. Sebagai contohnya makanan yang Amerika banget seperti ayam krispi, hamburger, steak, ham dan bacon, itu semua makanan yang berbahan daging. Jadi jika dibandingkan dengan mereka, konsumsi daging masyarakat Indonesia rasanya belum ada apa-apanya.

Kenyataan ini saya lihat dari kacamata orang miskin, entah jika orang kaya, mungkin setiap hari juga makan daging meskipun dia orang Indonesia asli. Saya tidak keberatan dengan kampanye untuk mengurangi bahkan menghentikan konsumsi daging. Saya lihat tujuannya positif dan baik. Namun, terkadang yang menyebalkan sebagian dari mereka mengampanyekan hal tersebut dengan menyebut kami orang yang masih makan daging adalah seorang pembunuh.

Ayolah, Bro, saya hanya bisa makan daging setahun sekali tapi sudah kau sebut sebagai pembunuh. Bukannya merasa bersalah saya justru sebel dan lama-lama muak dengan kampanye tersebut. Saya pecinta hewan, di rumah saya pelihara kucing dan dirawat dengan baik. Saya juga tidak pernah menebang pohon secara berlebihan sehingga merusak habitat hewan. Satu-satunya pohon yang pernah saya tebang adalah sebuah pohon bambu, itupun saya gunakan untuk tugas kerajinan dari sekolah.

Saya juga pernah menanam benih pohon manga dengan harapan bisa menyumbang oksigen yang bisa dinikmati semua makhluk dan menambal lapisan ozon. Saya juga sedih melihat topeng monyet dan sejak lama memustuskan untuk tidak lagi menonton topeng monyet setelah tau bagaimana si monyet diperlakukan. Saya juga tidak pernah berburu hewan liar. Perburuan yang pernah saya lakukan dulu hanyalah memancing ikan dan pernah sekali nyetrum, hanya sekali.

Bahan terbesar yang saya konsumsi adalah beras serta sayur. Bahkan ikan asin sudah termasuk bahan yang mewah bagi keluarga saya. Jadi apakah saya salah jika saya mengaku pecinta hewan tapi saya bukan seorang vegan? Jika dibandingkan dengan mereka yang membuka lahan dengan merusak habitat apakah saya masih jauh lebih buruk? Saya harap kepada mereka yang seperti itu kalian tidak diam saja.

Saya paham dan mengerti bahwa kalian tidak ingin ada hewan yang tersakiti lagi karena menjadi bahan konsumsi manusia. Saya menentang segala bentuk eksploitasi hewan liar, namun untuk hewan ternak sepertinya itu kebiasaan yang sangat sulit untuk dihentikan. Coba bayangkan bagaimana jadinya jika semua manusia tiba-tiba menjadi vegan, populasi hewan ternak meningkat drastis, lahan rumput semakin sempit dan pada akhirnya mereka mati kelaparan karena kekurangan makanan.

Terhadap kehidupan manusia juga pasti berpengaruh. Sektor peternakan tidak akan ada lagi, lalu bagaimana dengan mereka yang menggantungkan hidup kepada sektor tersebut? Bagaimana para peternak, karyawan peternakan, para pemerah susu, pekerja pabrik susu, para pencari rumput, para jagal, serta para penjual daging di pasar, bagaimana mereka semua bisa mendapat penghasilan? Itu semua harus dipikirkan, jangan sampai kampanye yang kalian gaung-gaungkan malah menjadi petaka bagi orang lain.

Coba kampanyenya dilakukan dengan cara yang lebih lembut dan sebelum berkampanye terlebih dahulu dipikirkan solusinya serta lihat targetnya, jangan sampai menyasar orang-orang seperti saya, disuruh berhenti makan daging sedangkan kami makan daging saja jarang. Jika menjadi vegan adalah sebuah hidayah karena demi kebaikan, sampaikanlah hidayah tersebut dengan cara yang lebih baik. Jangan sampai hidayah itu justru terhalangi karena penyampaian yang buruk.

Saya percaya kalian adalah orang-orang baik, perasaan hewan saja kalian pikirkan apalagi perasaan manusia, bukankah begitu?

BACA JUGA Curhatan Orang yang Nggak Suka Daging Sapi, Hidup Jadi Nano-nano dan tulisan Sigit Candra Lesmana lainnya.

Baca Juga:  Produk Kecantikan kok Memutihkan? Indonesia kan Panas, Sis!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
18


Komentar

Comments are closed.