Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Film

Satria Dewa: Gatotkaca, Film Superhero Lokal yang Berisik

Muhammad Sabilurrosyad oleh Muhammad Sabilurrosyad
12 Juni 2022
A A
Satria Dewa: Gatotkaca, Film Superhero Lokal yang Berisik Terminal Mojok

Satria Dewa: Gatotkaca, Film Superhero Lokal yang Berisik (Instagram Cinema 21)

Share on FacebookShare on Twitter

Setelah sekian lama menanti, akhirnya Indonesia kembali kedatangan sebuah film superhero dengan universe barunya, yaitu Satria Dewa: Gatotkaca. Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, menonton film superhero lokal memang harus hati-hati memasang ekspektasi. Terlepas dari inginnya punya sajian superhero kearifan lokal, genre ini memang masih terasa prematur di industri lokal.

Populernya film genre superhero di dunia saat ini, termasuk di Indonesia, membuat saya sebagai penonton ingin dihibur film bergenre serupa dengan latar belakang yang lebih relate dan familier. Dan akhirnya, dalam beberapa tahun terakhir, beberapa judul film superhero lokal—bahkan sudah dibuat sampai 4 universe—disajikan untuk para penonton seperti saya ini.

Tentu saya sangat mengapresiasi. Terlepas dari kualitas secara film keseluruhan belum bisa dikategorikan sebagai matang, keinginan filmmaker lokal membuat sajian superhero secara tidak langsung memaksa mereka untuk mencoba berbagai hal baru, mulai dari kostum, koreografi aksi, CGI, dan banyak hal lagi. Hal itu juga berlaku dalam Satria Dewa: Gatotkaca.

FIlm ini jelas memiliki beberapa pencapaian, dan hal ini sudah tampak bahkan sejak trailer. Banyak yang memuji penampakan Gatotkaca di trailer saat memperlihatkan cuplikan aksinya ketika terbang menggunakan kostum sembari menghajar musuhnya secara destruktif.

Bagi saya, penampakan tersebut adalah pertanda industri perfilman kita naik level dalam penggunaan CGI. Dengan trailer yang seperti itu, wajar saja kalau akhirnya menciptakan ekspektasi besar bagi para calon penonton. Sayangnya, isi filmnya benar-benar tidak bisa melebihi trailer.

Satria Dewa: Gatotkaca berlatar di sebuah kota fiksi bernama Kota Astina. Dengan memanfaatkan berbagai mitologi pewayangannya dalam ranah yang lebih modern, kota ini tampaknya memiliki masalah baru akan hadirnya beberapa manusia berkekuatan super yang terbagi hanya pada dua golongan, yakni manusia yang memiliki gen Pandawa dan gen Kurawa.

Terjadi berbagai kematian dalam kota tersebut yang akhirnya diketahui kalau orang dengan gen Pandawa tengah diburu dan dihabisi. Di antara masyarakat Kota Astina, Yuda adalah seseorang yang ditakdirkan sebagai Gatotkaca, sang pelindung Pandawa.

Secara konsep, saya amat sangat menyukainya. Ide soal pembagian Pandawa dan Kurawa berdasarkan gen serta soal tugas Gatotkaca sebagai pelindung Pandawa adalah salah satu solusi yang cukup baik dalam hal menerapkan kisah mitologi ke dunia modern. Sayangnya, konsep saja tidak cukup. Butuh eksekusi yang baik untuk membuatnya bisa dinikmati, dan hal inilah yang gagal diwujudkan oleh Hanung Bramantyo selaku sutradara.

Baca Juga:

Pengalaman Nonton Film di Bioskop Bandara Sepinggan Balikpapan, Alternatif Menunggu Penerbangan Tanpa Menguras Dompet 

5 Tayangan Netflix yang Sebaiknya Jangan Ditonton Saat Makan, Bikin Mual!

Film ini tampak memiliki beban yang begitu berat sebagai film pertama Satria Dewa Universe. Entah dari mana datangnya konsep film pertama shared universe punya beban harus menjelaskan dunianya sebanyak mungkin. Gundala melakukan itu, dan kini, Satria Dewa: Gatotkaca pun melakukan hal yang sama.

Sepanjang durasi, film ini terasa terlalu banyak menjelaskan berbagai hal. Bahkan bisa dibilang, film ini memang full eksposisi. Tiap scene-nya selalu menjelaskan sesuatu, entah itu karena situasi baru, pengetahuan baru, atau kemunculan karakter baru yang banyak. Lama-lama penonton seperti bukan sedang menonton film, melainkan sedang diberi materi kuliah.

Banyaknya dialog eksposisi atau penjelasan membuat film ini terkesan begitu bawel nan berisik. Bukan cuma dialog, kesan berisik ini diperkuat dengan karakter-karakter yang secara harfiah berisik.

Banyaknya eksposisi ini disebabkan beban film untuk menceritakan berbagai hal; menjelaskan apa itu Pandawa, apa itu Kurawa, menjelaskan motifnya yang berasal dari perang Bharatayuda, menjelaskan benda pusaka, menjelaskan Gatotkaca, menjelaskan karakter ini, karakter itu, dan banyak karakter lagi. Penjelasannya saja terasa capek banget. Cakupan dunianya yang begitu luas membuat film ini begitu keteteran hingga durasi dua jam saja rasanya terlalu sedikit agar film ini tidak cuma berbagi info semata, tapi juga berbagi rasa.

Padahal materi dalam film ini bisa memiliki potensi menarik jika mau dipisah menjadi materi di sekuel-sekuelnya, memperkecil skala ceritanya. Rasanya mencicil penjelasan konsep dunianya tidak akan terlalu bermasalah, ketimbang harus dipadatkan jadi satu film yang berakibat menjadi terlalu bawel nan berisik menjelaskan banyak hal secara tidak natural.

Salah satu penyebab kenapa film yang penuh eksposisi ini terasa melelahkan adalah tidak ada hal menarik yang ditawarkan, tidak ada rasa yang ditawarkan. Ada beberapa usaha seperti memasukkan beberapa komedi, tapi itu pun tidak bekerja dengan baik. Yang disayangkan justru minimnya fokus penggalian karakter inti akibat terlalu banyak karakter yang diperkenalkan.

Pada awalnya, Yuda sebagai karakter utama memang memiliki latar cerita yang rasanya cukup bisa menarik simpati, khususnya soal ibunya dan sahabatnya, Erlangga. Sayangnya, penggalian karakter Yuda jadi teralihkan dengan berbagai karakter baru yang muncul. Akhirnya, potensi dramanya jadi sia-sia.

Selain komedi yang jarang lucu dan drama yang diganggu eksposisi serta berbagai karakter baru, usaha membuat film enjoyable melalui adegan aksi pun ternyata tidak bisa maksimal. Sangat mengesalkan rasanya punya talent dan koreografer sekelas Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman, tapi lebih memilih penyuntingan cut to cut penuh close up atau medium shot yang membuat adegan aksi sulit diikuti. Padahal kurang capable apa coba talent stunt-nya untuk melakukan gerakan menarik dengan tangkapan frame kamera penuh?

Pada akhirnya, tidak ada satupun adegan pertarungan yang memorable, meskipun di sisi lain saya setuju dengan penempatan dan porsi aksinya yang tidak berlebihan. Satu-satunya adegan yang memorable dan mengesankan adalah saat pertarungan CGI dimulai, saat Yuda menggunakan form Gatotkaca sepenuhnya. Walau performa CGI fight scene-nya pun tidak konsisten, di mana hal keren yang terjadi sudah ditampilkan semua di trailer, yang artinya tidak ada hal baru juga.

Saya merasa Satria Dewa: Gatotkaca memiliki potensi semesta serta konsep yang menarik. Melihat bagaimana semesta superhero satu ini mengimplementasikan cerita pewayangan perselisihan abadi Pandawa dan Kurawa dengan latar modern, dan bagaimana implementasi nilai-nilai heroism di semesta ini. Tentu saja dengan adanya perbaikan di sana-sini.

Penulis: Muhammad Sabilurrosyad
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Film Ngeri-ngeri Sedap, Relatable dengan Keluarga Indonesia.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 11 Juni 2022 oleh

Tags: FilmSatria Dewa: Gatotkacasuperhero
Muhammad Sabilurrosyad

Muhammad Sabilurrosyad

Tukang nonton.

ArtikelTerkait

Doctor Strange in the Multiverse of Madness: Menyenangkan, tapi Ending-nya Biasa Saja

Doctor Strange in the Multiverse of Madness: Menyenangkan, tapi Ending-nya Biasa Saja

6 Mei 2022
3 Rekomendasi Film Indonesia yang Relevan dengan Hiruk Pikuk Negara Saat Ini Mojok.co

3 Rekomendasi Film Indonesia yang Relevan dengan Hiruk Pikuk Negara Saat Ini

3 September 2025
6 Rekomendasi Film Detektif Lawas selain Sherlock dan Poirot

6 Rekomendasi Film Detektif Lawas selain Sherlock dan Poirot

1 Juni 2022
dora

Review Film Dora and the Lost City of Gold dan Bukti Bahwa Dora Berzodiak Leo

23 Agustus 2019
Credit Scene, Senjata Ampuh Film-film Marvel dalam Raih Kesuksesan Terminal Mojok.co

Credit Scene, Senjata Ampuh Film-film Marvel dalam Raih Kesuksesan

11 Mei 2022
Jadi Wadah bagi Keragaman Film Lokal, Ini Film yang Wajib Tonton di Bioskop Online terminal mojok.co

Jadi Wadah bagi Keragaman Film Lokal, Ini Film yang Wajib Tonton di Bioskop Online

14 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Dayeuhkolot Bandung- Wujud Ruwetnya Jalanan Bandung (Unsplash)

Jalan Dayeuhkolot Bandung: Jalan Raya Paling Menyebalkan di Bandung. Kalau Hujan Banjir, kalau Kemarau Panas dan Macet

17 Januari 2026
Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas Mojok.co

Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas

14 Januari 2026
Sragen Daerah yang Cuma Dilewati, Tak Pernah Jadi Tujuan Orang karena Tidak Punya Apa-apa

Sragen Daerah yang Cuma Dilewati, Tak Pernah Jadi Tujuan Orang karena Tidak Punya Apa-apa

20 Januari 2026
Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja Mojok.co

Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja

16 Januari 2026
Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda Mojok.co

Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda

15 Januari 2026
Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga

Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga

18 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.