Mudik atau pulang kampung jadi mimpi buruk bagi sandwich generation.
Mudik atau pulang kampung saat Lebaran atau libur panjang jadi momentum yang ditunggu-tunggu banyak orang. Saat itulah mereka bisa kumpul bersama keluarga, bertemu teman di kampung halaman, hingga sekadar bersantai di rumah.
Akan tetapi, bagi segelintir orang lain, mudik justru jadi mimpi buruk. Mereka merantau dari kampung halaman ke kota besar demi penghidupan yang lebih baik. Namun, mudik atau pulang ke kampung halaman malah “mengacak-acak” tatanan ekonomi .
Kondisinya semakin berat bagi sandwich generation seperti saya. Sudah sehari-hari menanggung biaya hidup untuk diri sendiri dan keluarga, masih harus memikirkan budget mudik dan biaya sosial lain yang mengikutinya. Saya jadi sadar, paman, bibi, dan tetangga yang merantau dahulu hanya pulang setahun sekali.
Sandwich generation menanggung semuanya
Satu hal yang selalu jadi pikiran para sandwich generation adalah biaya. Tidak hanya diri sendiri, para sandwich generation juga menanggung biaya orang tua, saudara seperti kakak atau adik, bahkan ada juga yang menanggung keluarga lain seperti ponakan. Itu mengapa, biaya jadi persoalan utama dan bikin overthinking. Bahkan, tak jarang mereka menunda kesenangan untuk diri sendiri demi orang lain dan demi bisa mudik.
Itu mengapa, mudik jadi semacam beban baru untuk sandwich generation, terlebih mereka yang belum mapan. Bukan hanya menyiapkan, berarti menyisihkan duit lebih besar untuk transportasi pulang ke kampung halaman. Mudik juga berarti punya budget untuk oleh-oleh. Perlu juga punya budget untuk memberi ke orang tua, saudara, bahkan bukan tidak mungkin tetangga. Jangan lupa soal oleh-oleh juga, biayanya jadi tidak dikit.
Bahkan, sering terjadi, ada teman dekat yang minta traktir. Parahnya, ada teman lama tiba-tiba sok akrab yang berujung tanya dana dingin. Itu kalau masih single, bayangkan kalau sudah berkeluarga dan harus mudik. Biayanya bisa berkali-kali lipat lebih besar.
Membayangkannya saja sudah eman-eman. Budgetnya bisa untuk makan dan keperluan lain selama berbulan-bulan ke depan. Budgetnya bahkan bisa sama dengan beli perabotan baru, renovasi rumah, atau sekadar membeli barang yang diimpikan sejak dahulu.
Baca juga Kak Ros di Upin & Ipin Adalah Teladan bagi para Sandwich Generation.
Selain berat di ongkos, beban juga secara sosial
Tujuan utama sandwich generation merantau adalah bekerja dengan harapan bisa mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Hal ini yang menjadikan tetangga memiliki waktu luang untuk meneliti tetangga yang baru saja mudik. Menilai seberapa jauh perubahan yang didapat karena sudah lama hidup di kota.
Kebanyakan pertama kali dilihat adalah fisik, mulai dari perubahan warna kulit, riasan hingga fashion. Berlanjut pada kendaraan apa yang dibawa. Jika tidak ada perubahan auto diomongin. Ditambah badan terlihat lebih kurus, byuh, tetangga makin menduga-duga.
Tidak lupa dengan perbandingan dengan anak tetangga. Si ini baru bantu renovasi rumah, si itu baru beli sawah, si ono udah nikah dan lain sebagainya. Sebenarnya mereka nggak secara gamblang membandingkan, tapi membicarakan harta itu hal sensintif. Diri ini jadi minder.
Selain minder, hal seperti ini menjadi pressure, terlebih saat menyadari umur yang semakin tua. Rasanya seperti sia-sia sudah bekerja lama, tapi belum mendapatkan pencapaian yang berharga. Hal ini memang bisa untuk introspeksi diri, namun buruknya malah menjadi beban pikiran.
Jadi, bagi sebagian orang, terlebih sandwich generation, mudik dan pulang kampung bukanlah hal yang diidam-idamkan dan harus dilakukan dengan segera. Selain karena bikin boncos, beberapa orang juga nggak siap dengan ekspektasi kesuksesan yang dibebankan kepada perantau. Selain itu, terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan seperti dana dan jumlah hari libur.
Penulis: Ratih Yuningsih
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















