Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Sandwich Generation Merantau demi Perbaiki Ekonomi, Eh Duit Malah Ludes Tiap Mudik

Ratih Yuningsih oleh Ratih Yuningsih
12 Februari 2026
A A
Sandwich Generation Merantau demi Perbaiki Nasib, Eh Duit Malah Ludes Tiap Mudik Mojok.co

Sandwich Generation Merantau demi Perbaiki Nasib, Eh Duit Malah Ludes Tiap Mudik (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Mudik atau pulang kampung jadi mimpi buruk bagi sandwich generation.

Mudik atau pulang kampung saat Lebaran atau libur panjang jadi momentum yang ditunggu-tunggu banyak orang. Saat itulah mereka bisa kumpul bersama keluarga, bertemu teman di kampung halaman, hingga sekadar bersantai di rumah.

Akan tetapi, bagi segelintir orang lain, mudik justru jadi mimpi buruk. Mereka merantau dari kampung halaman ke kota besar demi penghidupan yang lebih baik. Namun, mudik atau pulang ke kampung halaman malah “mengacak-acak” tatanan ekonomi . 

Kondisinya semakin berat bagi sandwich generation seperti saya. Sudah sehari-hari menanggung biaya hidup untuk diri sendiri dan keluarga, masih harus memikirkan budget mudik dan biaya sosial lain yang mengikutinya. Saya jadi sadar, paman, bibi, dan tetangga yang merantau dahulu hanya pulang setahun sekali. 

Baca juga Katanya, Gaji Berapa pun kalau Nggak Direncanain Pasti Habis: Generasi Sandwich Can’t Relate.

Sandwich generation menanggung semuanya

Satu hal yang selalu jadi pikiran para sandwich generation adalah biaya. Tidak hanya diri sendiri, para sandwich generation juga menanggung biaya orang tua, saudara seperti kakak atau adik, bahkan ada juga yang menanggung keluarga lain seperti ponakan. Itu mengapa, biaya jadi persoalan utama dan bikin overthinking. Bahkan, tak jarang mereka menunda kesenangan untuk diri sendiri demi orang lain dan demi bisa mudik. 

Itu mengapa, mudik jadi semacam beban baru untuk sandwich generation, terlebih mereka yang belum mapan. Bukan hanya menyiapkan, berarti menyisihkan duit lebih besar untuk transportasi pulang ke kampung halaman. Mudik juga berarti punya budget untuk oleh-oleh. Perlu juga punya budget untuk memberi ke orang tua, saudara, bahkan bukan tidak mungkin tetangga. Jangan lupa soal oleh-oleh juga, biayanya jadi tidak dikit. 

Bahkan, sering terjadi, ada teman dekat yang minta traktir. Parahnya, ada teman lama tiba-tiba sok akrab yang berujung tanya dana dingin. Itu kalau masih single, bayangkan kalau sudah berkeluarga dan harus mudik. Biayanya bisa berkali-kali lipat lebih besar. 

Baca Juga:

Bersyukur Gagal Naik PO Haryanto Magelang-Demak, Kehabisan Tiket Berujung Pengalaman Mudik yang Lebih Berkesan dan Hangat

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

Membayangkannya saja sudah eman-eman. Budgetnya bisa untuk makan dan keperluan lain selama berbulan-bulan ke depan. Budgetnya bahkan bisa sama dengan beli perabotan baru, renovasi rumah, atau sekadar membeli barang yang diimpikan sejak dahulu.

Baca juga Kak Ros di Upin & Ipin Adalah Teladan bagi para Sandwich Generation.

Selain berat di ongkos, beban juga secara sosial

Tujuan utama sandwich generation merantau adalah bekerja dengan harapan bisa mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Hal ini yang menjadikan tetangga memiliki waktu luang untuk meneliti tetangga yang baru saja mudik. Menilai seberapa jauh perubahan yang didapat karena sudah lama hidup di kota. 

Kebanyakan pertama kali dilihat adalah fisik, mulai dari perubahan warna kulit, riasan hingga fashion. Berlanjut pada kendaraan apa yang dibawa. Jika tidak ada perubahan auto diomongin. Ditambah badan terlihat lebih kurus, byuh, tetangga makin menduga-duga.

Tidak lupa dengan perbandingan dengan anak tetangga. Si ini baru bantu renovasi rumah, si itu baru beli sawah, si ono udah nikah dan lain sebagainya. Sebenarnya mereka nggak secara gamblang membandingkan, tapi membicarakan harta itu hal sensintif. Diri ini jadi minder.

Selain minder, hal seperti ini menjadi pressure, terlebih saat menyadari umur yang semakin tua. Rasanya seperti sia-sia sudah bekerja lama, tapi belum mendapatkan pencapaian yang berharga. Hal ini memang bisa untuk introspeksi diri, namun buruknya malah menjadi beban pikiran.

Jadi, bagi sebagian orang, terlebih sandwich generation, mudik dan pulang kampung bukanlah hal yang diidam-idamkan dan harus dilakukan dengan segera. Selain karena bikin boncos, beberapa orang juga nggak siap dengan ekspektasi kesuksesan yang dibebankan kepada perantau. Selain itu, terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan seperti dana dan jumlah hari libur.

Penulis: Ratih Yuningsih
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Nasib Sial Mudik dari Jogja ke Sumatra via Merak-Bakauheni Akibat Terlalu Berharap ke ASDP dan Pelni.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Februari 2026 oleh

Tags: Kampung Halamankota besarmerantauMudikperantauPulang KampungSandwich Generation
Ratih Yuningsih

Ratih Yuningsih

Seorang perempuan petualang yang menjadikan dunia sebagai buku bacaannya. Memiliki mimpi besar untuk menjejaki setiap sudut bumi, demi mengumpulkan fragmen kehidupan dan membagikan cerita yang mampu menyatukan hati setiap penghuninya

ArtikelTerkait

Kerobokan, Kelurahan di Bali yang Ramah Perantau Mojok.co

Kerobokan, Kelurahan di Bali yang Ramah Perantau

26 September 2024
3 Hal yang Perlu Diperhatikan Warga Jawa Timur yang Mau Merantau ke Jogja

3 Hal yang Perlu Diperhatikan Warga Jawa Timur yang Mau Merantau ke Jogja

17 Februari 2023
Repotnya Orang Paninggaran Pekalongan di Perantauan karena Kerap Disalahpahami Orang-orang yang Nggak Paham Geografi

Repotnya Orang Paninggaran Pekalongan di Perantauan karena Kerap Disalahpahami Orang-orang yang Nggak Paham Geografi

15 Februari 2024
4 Tips Hidup Selamat dari Himpitan Biaya Hidup di Kota Besar

4 Tips Hidup Selamat dari Himpitan Biaya Hidup di Kota Besar

22 November 2023
Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar Mojok.co

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

13 Maret 2026
Perantau dari Palembang Bersiaplah Menerima Pertanyaan-pertanyaan Ini Mojok.co

Perantau dari Palembang Bersiaplah Menerima Pertanyaan-pertanyaan Ini

17 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Universitas Trunojoyo Madura Banyak Mahasiswa Abadi Gara-Gara Dosen Sering Ngilang Mojok.co

Reputasi Universitas Trunojoyo Madura Makin Menurun, bahkan Orang Madura Sendiri Mikir Dua Kali untuk Kuliah di Kampus Ini

26 Maret 2026
WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

27 Maret 2026
Mobil Hybrid (Sebenarnya) Bukan Pilihan Buruk, tapi Bisa Bikin Tekor

Mobil Hybrid (Sebenarnya) Bukan Pilihan Buruk, tapi Bisa Bikin Tekor

27 Maret 2026
Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living Mojok.co

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Punya Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living

27 Maret 2026
Jangan Tergiur Ban Motor Murah: Kisah Nyata Hampir Celaka di Jalan Pantura

Jangan Tergiur Ban Motor Murah: Kisah Nyata Hampir Celaka di Jalan Pantura

25 Maret 2026
10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata Mojok.co

10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata

26 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Tak Cukup Satu Pekerjaan, Gen Z Harus “Side Hustle” demi Punya Penghasilan Tambahan dan Alasan Bertahan Hidup
  • WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal
  • Kisah Penerima Golden Ticket Unair dari Ketua Padus hingga Penghafal Al-Qur’an, Nggak Perlu “Plenger” Ikut SNBP-Mandiri untuk Diterima di Jurusan Bergengsi
  • Pekerja Jakarta Resign Pasca-THR Bukan karena Gaji, tapi Kehilangan Makna Pekerjaan akibat Lingkungan Kerja yang “Toxic”
  • Nekat Resign After Lebaran karena Muak Kerja di Kantor Toxic, Pilihan “Ngawur” untuk Cari Happy tapi Stres Tetap Tak Terhindarkan
  • Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.