Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

Sampai Kapan Mau Jadi Barista?

Riyanto oleh Riyanto
26 Desember 2021
A A
barista
Share on FacebookShare on Twitter

“Gantung apronmu, pensiunlah menjadi barista, dan jelajahi pekerjaan baru!”

Kalimat itu memenuhi kepala saya beberapa bulan terakhir sebelum akhirnya tekad bulat itu dibuat. Ya, setelah enam tahun menjadi seorang barista, saya memutuskan untuk berhenti.

Ada beberapa faktor yang membulatkan tekad saya, dan perlu digarisbawahi bahwa gaji sebagai barista tidak menjadi faktor sama sekali kenapa saya memilih berhenti. Jika ditanya apakah gaji barista cukup untuk hidup, jawabannya adalah tergantung di kedai kopi mana barista itu bekerja. Menjadi barista di Starbucks tentu saja sangat bisa untuk dijadikan pegangan hidup. Pun beberapa kenalan saya yang memang niat untuk berduit banyak dengan menjadi barista, sanggup memberanikan diri bekerja di luar negeri seperti Kuwait maupun Dubai. Lantas jika gaji bukan menjadi alasan, kenapa saya berhenti?

Salah satu alasan yang mungkin akan menjadi kontroversi dari saya adalah terkait passion. Ya, itu adalah kata yang paling seksi selama beberapa tahun terakhir ini. Saya memiliki pandangan bahwa passion sangat berhubungan dengan emosi, dan emosi seseorang bisa berubah dari waktu ke waktu. Itu benar-benar terbukti pada diri saya, yang sejauh ini ternyata telah memiliki passion yang berganti seiring perjalanan hidup.

Semasa kuliah di bidang Sistem Informasi, passion saya adalah ngoding. Saya bakal betah ngoding dari pagi sampai malam tanpa henti demi membuat program. Pada waktu itu, saya merasa menjadi programmer adalah masa depan saya, toh terbukti dari beberapa proyek menghasilkan duit yang saya kerjakan di masa lalu. Sampai akhirnya, saya tertarik dengan dunia kopi. Mendalami dunia kopi membuat saya menemukan adrenalin baru. Ternyata saya baru menyadari, bahwa selain ngoding, saya juga menyukai membuat kopi dan segala seluk beluk tentangnya. Itulah awal mula saya terjun ke dunia barista dan sedikit demi sedikit melupakan passion saya terkait pemrograman. Pada saat itu, saya merasa menjadi barista adalah masa depan menjanjikan untuk saya.

Pada masanya, saya adalah barista yang sangat idealis. Yah, semacam tipe barista yang bakal dihujat warga Twitter karena ngotot kopi harus diminum tanpa gula. Bertahun-tahun saya menjadi tipe orang semenyebalkan itu, sampai akhirnya perubahan industri kopi menampar wajah saya keras-keras. Di Jogja khususnya, tren kedai kopi berubah dari yang dulu sebagian besar mengusung konsep manual brewing, menjadi konsep industrial yang mengedepankan kopi susu ala-ala. Tidak bisa lagi saya ngotot ngopi harus tanpa gula. Seiring waktu, saya berubah menjadi barista yang—mungkin—lebih bijaksana.

Akan tetapi idealisme itu masih ada. Saya tetap ngotot bahwa saya bisa menjadi barista sampai umur tiga puluhan atau bahkan sampai tua sekalipun. Ya, saya akan terus menggeluti passion saya tersebut. Barangkali beberapa orang kagum dengan saya, menganggap bahwa saya adalah orang yang sungguh memaknai hidup dan menikmati pekerjaan. Ya, saya pada masa itu memang demikian. Bahkan, saya pernah menjawab ketika ditanya, “Apabila semua pekerjaan memiliki gaji sama, kamu mau menjadi apa?” dan tentu saja jawaban saya adalah menjadi barista.

Dengan kecintaan luar biasa itu pula, saya pernah dengan tegas menolak untuk mengambil jabatan lain yang lebih bergengsi dan bergaji tinggi di kedai kopi tempat saya bekerja. Alasan saya adalah karena memang cinta menjadi barista. Padahal setelah saya pikir saat ini, dulu saya hanya terlampau nyaman dengan keadaan dan terlalu dungu mengerjakan hal yang belum pernah saya coba.

Baca Juga:

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

Goa Jatijajar, Objek Wisata di Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi

Dengan segenap kecintaan yang saya miliki, pertanyaan kapan saya akan berhenti menjadi barista rasanya tidak akan pernah terjawab. Sampai akhirnya, seiring berjalannya waktu, saya menemukan hal lain untuk dikerjakan, dan saya menyukainya. Hal itu adalah menulis, entah berbentuk esai ngawur seperti di Terminal Mojok atau berbentuk liputan feature untuk rubrik SUSUL di Mojok. Lucunya, menulis adalah kawan lama bagi saya yang sempat terlupakan ketika saya menggeluti dunia pemrograman. Bedanya, jika saya dulu menulis fiksi yang lumayan oke karena berhasil menerbitkan dua novel di sebuah penerbit ternama, kali ini saya justru menulis nonfiksi.

Passion saya terbagi, antara menjadi barista, atau menjadi seorang penulis. Ditambah, saya juga mulai merintis media kecil-kecilan yang juga sudah menghasilkan uang lumayan banyak sehingga saya bisa membeli sekitar 10 koin BNB di harga 7 jutaan. Keduanya menyenangkan, antara menjadi barista maupun penulis. Pun keduanya sama-sama menghasilkan uang yang lebih dari cukup untuk hidup. Sampai pada akhirnya saya tidak bisa lagi menjalani dua kehidupan sekaligus. Passion saya menjadi lebih condong ke menulis. Pun pikir saya, waktu enam tahun sudah lebih dari cukup untuk menekuni apa yang saya senangi menjadi barista. Pada titik itu, ketika passion saya lebih berat ke aktivitas menulis, saya memutuskan untuk melepas pekerjaan sebagai barista.

Barangkali apa yang saya tulis di atas tadi adalah alasan yang susah relate dengan sebagian besar orang yang berprofesi sebagai barista. Alasan saya terlampau personal. Akan tetapi itu hanya alasan pertama saya. Saya memiliki alasan lain, yang barangkali bisa relate dengan sebagian besar barista di negeri ini. Alasan itu adalah, jika saya terus menjadi barista, di mana saya akan berakhir?

Saya sudah berumur 27 tahun, dan jika sewaktu-waktu kedai kopi tempat saya bekerja bangkrut, harus berpindah ke kedai kopi lain. Kalau idealisme masih mampu membuat saya bertahan, maka usia adalah tembok tinggi penghalang idealisme tersebut. Rasional saja, sebagian besar kedai kopi pasti hanya menerima barista yang usia maksimalnya 25 tahun. Ada beberapa yang masih menerima usia 27 tahun, tetapi hanya bisa dihitung dengan jari. Lebih sedikit lagi yang menerima sampai usia maksimal 30 tahun. Dan lucunya, semakin dewasa seseorang, ekspektasi pendapatan juga wajarnya akan meningkat, sementara berapa dari kedai kopi yang menerima barista maksimal usia 30 tahun yang mau menggaji layak? Jawabannya bisa saja mendekati nol.

Saya bisa saja bekerja menjadi barista sampai usia 30-an atau bahkan lebih jika saja kedai kopi tempat saya bekerja bakal bertahan selamanya. Nyatanya, hanya sedikit kedai kopi yang bisa bertahan lebih dari lima tahun. Maka, kalau saya nekat menjadi barista sampai usia 30-an dan kedai kopinya bangkrut, bagaimana nasib idealisme saya tadi?

Sebagian barista pasti menyadari apa yang saya bahas barusan. Beberapa dari mereka, bahkan saya juga dulu, pasti berandai-andai untuk memiliki kedai kopinya sendiri, sehingga bebas menjadi barista sampai lansia. Ya, jagalah impian untuk membuka kedai kopi tersebut. Lupakan bahwa untuk membuka kedai kopi itu butuh duit banyak. Sangat banyak jika mau bersaing di Jogja. Sangat banyak jika kita hanya barista medioker yang nggak dikenal dan sok-sokan mau buka kedai kopi. Sangat banyak jika mau bertahan lebih dari dua tahun. Intinya, mau bikin kedai kopi itu siap-siap saja duitnya nggak balik karena keburu bangkrut dan bubar jalan. Perlu dipahami bahwa pandai membuat kopi nggak lantas membuat kita pandai berbisnis kopi.

Maka dari itu, untuk orang seperti saya, menjadi barista sampai di atas usia 30 tahun bukanlah pilihan. Terlalu banyak hal buruk yang bakal terjadi. Ah, beberapa orang akan menganggap saya sebagai pesimistis dan terlalu mengkhawatirkan masa depan, tetapi biarlah, toh saya lebih mengkhawatirkan masa depan dan mencari antisipasinya daripada terbuai idealisme semu.

Bagi sebagian barista yang usianya sudah 25 ke atas, barangkali berhenti dan mulai bekerja sesuai ijazah S1 masing-masing mungkin akan dilakukan. Mas-mas barista gondrong bakal memotong rambut mereka dan melamar di perusahaan-perusahaan yang lebih menjanjikan untuk masa depan, menggantung apron mereka dan hanya sesekali di akhir pekan kembali ke kedai kopi. Bukan untuk bekerja, namun sebatas untuk melepas penat dari rutinitas pekerjaan kantor. Sayangnya, saya bukanlah tipe mas-mas seperti itu. Silakan anggap saya bodoh, tetapi bekerja di kantor dengan jam kerja tetap dan rutinitas itu-itu saja tampak sangat mengerikan bagi saya.

Saya tidak bisa dikekang. Atau, saya merasa tidak bisa dikekang. Mungkin itu juga kesalahan saya lainnya, bahwa saya terlalu mementingkan ego dalam hal mencari uang. Bahwa saya terlalu khawatir merasa tidak nyaman jika mengerjakan apa yang saya tidak sukai. Maka dari itu menjadi jurnalis lepas sekaligus mengurus media yang saya rintis menjadi pilihan yang sangat menyenangkan untuk dijalani.

Kalau suatu saat saya mendadak kehilangan minat menjadi jurnalis, setidaknya saya masih memiliki media yang saya rintis. Kalau kemudian ditanya apa jadinya jika media yang saya rintis bangkrut? Well, harusnya itu masih terjadi lima tahunan lagi mengingat saya lumayan mempersiapkan keuangan untuk bisnis tersebut. Dan jika itu terjadi, harusnya 10 koin BNB yang saya miliki sudah berada di harga puluhan juta, syukur-syukur kalau ratusan juta. Kalau nggak gimana? Well, saya masih bisa hidup menjadi programmer lepas yang menawarkan jasa di Fiverr atau semacamnya.

Tetapi, kembali harus diingat bahwa semua itu adalah sudut pandang saya. Saya menemukan exit point sebagai seorang barista, dan itu bukanlah hal terpenting untuk kalian semua, terutama para barista. Hal terpenting untuk kalian semua renungkan adalah sama seperti judul artikel ini, yaitu sampai kapan mau menjadi barista? Selamanya? Well, selamat berjuang.

Sumber Gambar: Pixabay

Editor: Rizky Prasetya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Desember 2021 oleh

Tags: baristaidealismeKopipekerjaanpilihan redaksi
Riyanto

Riyanto

Juru ketik di beberapa media. Orang yang susah tidur.

ArtikelTerkait

Jalan Margonda Raya Depok, Rajanya Jalan Problematik di Indonesia

Jalan Margonda Raya Depok, Rajanya Jalan Problematik di Indonesia

29 November 2023
Orang Dewasa Nonton Kinderflix: Udah Salah Lapak, Nyampah di Kolom Komentar lagi!

Orang Dewasa Nonton Kinderflix: Udah Salah Lapak, Nyampah di Kolom Komentar lagi!

9 November 2023
Betapa Beruntungnya Mahasiswa ITB. Punya Kampus Estetik dan Adem. Institut Teknologi Bandung Punya Mata Kuliah Olahraga Juga. (Wikimedia Commons)

Sialan! ITB Itu Kampusnya Estetis, Mahasiswa Institut Teknologi Bandung Bikin Iri Banget

1 Agustus 2023
Rumah Angker, Solusi Rumah Murah untuk Milenial

Rumah Angker, Solusi Rumah Murah untuk Milenial

21 Desember 2022
Polemik Tukang Parkir: Dibenci Netizen, Pemutar Ekonomi Bawah, dan Bisnis Mafia di Baliknya terminal mojok.co

Polemik Tukang Parkir: Dibenci Netizen, Pemutar Ekonomi Bawah, dan Bisnis Mafia di Baliknya

28 Oktober 2021
Kali Cokel Pacitan, “Sungai Amazon” di Jawa Timur yang Wajib Dikunjungi Wisatawan Mojok.co

Kali Cokel Pacitan, “Sungai Amazon” di Jawa Timur yang Wajib Dikunjungi Wisatawan

4 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Pasar Minggu Harus Ikuti Langkah Pasar Santa dan Blok M Square kalau Tidak Mau Mati!

4 Februari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
4 Aib Guci Tegal yang Membuat Wisatawan Malas ke Sana Mojok.co

Objek Wisata Guci Tegal Harus Bangkit karena Kabupaten Tegal Tak Ada Apa-Apanya Tanpa Guci

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.