Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Salah Satu Indahnya Keberagaman: Dapat Hantaran dan Menikmati Makanan saat Hari Raya Agama Lain

Atanasius Rony Fernandez oleh Atanasius Rony Fernandez
12 Agustus 2019
A A
hantaran

hantaran

Share on FacebookShare on Twitter

Indonesia dikenal sebagai negara yang beragam. Di sejumlah daerah, berbagai suku, agama, ras, dan kebudayaan tinggal berdampingan dengan rukun dan damai, termasuk di tempat saya tinggal. Kebetulan saya tinggal di Ibu Kota Provinsi NTB yaitu Kota Mataram yang memiliki masyarakat yang beragam. Keluarga besar, tetangga, serta kerabat saya juga terdiri dari beragam suku dan agama. Salah satu yang menarik dengan kenyataaan itu, tiap kali ada hari raya tertentu saya kerap kali kebagian hantaran berupa makanan. Atau bisa ikut bahagia merasakan berbagai makanan ketika berkunjung ke rumah keluarga atau kerabat di hari raya.

Bagi saya, mendapatkan hantaran atau makan bersama dengan kerabat beragama lain salah satu kenikmatan terindah yang saya alami ketika berada di tengah lingkungan yang beragam. Seperti pada Idul Adha lalu, saya juga diberikan bagian daging. Saya memasaknya menjadi gulai yang begitu lezat.

Tidak hanya dalam kesempatan itu, pada saat Idul Fitri, saya juga sering kali mendapatkan makanan atau jajanan. Ketika Idul Ffitri kemarin, teman saya yang tinggal di luar daerah malah bela-belain datang untuk membawakan jajanan hari raya untuk saya. Sungguh, kala itu saya benar-benar merasa terharu.

Di lain waktu, ketika Galungan, tetangga dan keluarga membawakan makanan, jajanan, dan buah-buahan kepada saya. Saya merasa bahagia mendapatkan hantaran seperti itu, atau  ketika datang makan di rumah keluarga dan kerabat.

Berbagi hantaran atau makan bersama jadi salah satu tradisi yang membuat saya merasa seolah berada di tengah keluarga besar, meski pun tidak memiliki ikatan keluarga. Setiap kali saya makan di rumah teman yang berbeda agama dengan saya, atau mendapatkan hantaran, saya seperti diterima menjadi bagian dari keluarga mereka. Mereka seperti mendekap kita dengan pelukan yang hangat. Apalagi makan adalah salah satu kebutuhan paling mendasar dari manusia, ketika kebutuhan akan makanan itu tersedia, sungguh rasa bahagia menjadi teramat dalam. Secara tidak langsung, kebahagiaan yang mereka tengah rasakan di hari raya juga saya rasakan.

Terlebih lagi saya memiliki hobi makan, dengan banyaknya hari raya dari berbagai agama, semakin memuaskan kegemaran saya terhadap makanan. Apalagi setiap suku dan agama memiliki ciri khas makanan yang juga beragam. Ketika Idul Fitri, misalnya, saya bisa menikmati opor ayam dan ketupat atau gulai. Saat hari raya Galungan, saya bisa menikmati tum ayam, buah-buahan, dan jajanan khas Bali. Juga saat Natal, saya bisa bertamu dan merasakan makanan yang beragam serta kue-kue dan minuman yang disediakan empunya rumah.

Dengan berada di tempat yang memiliki masyarakat beragam, kita menjadi terbiasa menghadapi perbedaan. Berbagai hal yang tampaknya asing, semakin lama menjadi sesuatu yang biasa dan mulai kita nikmati bersama. Toleransi juga semakin menguat di tengah masyarakat.

Saya mengambil satu contoh di Kota Mataram, setiap kali menjelang Nyepi, diadakan Pawai Ogoh-ogoh oleh masyarakat Hindu Bali. Berbagai patung yang terbuat dari bambu dan kertas menyerupai raksasa itu diarak di jalan utama di Kota Mataram. Kota Mataram sendiri dihuni oleh mayoritas masyarakat beragama Islam. Namun, setiap kali Pawai Ogoh-ogoh, jalanan itu bakal dipadati oleh berbagai lapisan masyarakat. Tidak mengenal tua atau muda, juga tidak memandang kaya atau miskin, atau dari suku atau agama tertentu, masyarakat akan berduyun-duyun menyaksikan Ogoh-ogoh diarak di sepanjang jalan yang sudah ditentukan.

Baca Juga:

Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya

5 Pekerjaan yang Bertebaran di Indonesia, tapi Sulit Ditemukan di Turki

Pawai itu setiap tahun dilakukan dan senantiasa disambut animo yang tinggi oleh masyarakat. Tidak hanya masyarakat Kota Mataram, masyarakat dari luar daerah di Pulau Lombok juga turut hadir menyaksikan momen tahunan tersebut. Berbagai pedagang asongan atau pedagang kaki lima juga mendapatkan rezeki saat pawai itu. Semua orang merasakan kebahagiaan.

Beberapa contoh di atas membuktikan bahwa hidup berdampingan dengan orang dari beragam latar belakang suku dan agama atau kebudayaan bisa tetap berjalan dengan baik. Rasa toleransi dan tenggang rasa malah semakin menguat setiap kali hari raya yang turut dirayakan dengan makan bersama atau bahkan dengan sekadar mengucapkan selamat hari raya.

Kenikmatan itulah yang seharusnya kita rawat bersama dengan tidak memaksakan kehendak golongan tertentu kepada orang lain. Juga tetap saling menghargai dengan orang yang memiliki latar belakang yang berbeda dengan kita. Hidup rukun dan damai berdampingan dengan beragam orang tentu saja mengasyikkan, salah satu kuncinya dengan saling berbagi makanan tadi. Dengan begitu kita juga akan semakin saling memahami satu sama lain.

Setelah hubungan harmonis bisa terjalin di tengah masyarakat, kita tinggal fokus pada pekerjaan dan karya kita masing-masing, tidak direpotkan dengan berbagai kekisruhan akibat perbedaaan. Satu hal yang jangan dilupakan, khususnya bagi saya pribadi, berbagi makanan setiap hari raya—atau kapan pun jika mau—bisa saling merekatkan hubungan kekerabatan, dan tentu saja akan membuat kita kenyang. Hal-hal baik memang pantas dirayakan dengan makan. (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2022 oleh

Tags: agama di indonesiaBhinneka Tunggal IkaIndonesiaKearifan Lokalkebudayaan
Atanasius Rony Fernandez

Atanasius Rony Fernandez

Jurnalis yang tinggal di Mataram, Lombok. Sesekali menulis karya sastra. Tertarik pada isu kesenian, sosial, dan kuliner. Penggemar AS Roma dan musik metal.

ArtikelTerkait

Jangan-jangan Negara yang Sering Disindir Film India Itu Indonesia? terminal mojok.co

Jangan-jangan Negara yang Sering Disindir Film India Itu Indonesia?

25 Januari 2021
Arab Saudi, Kiblat Baru Industri Kopi Dunia

Arab Saudi, Kiblat Baru Industri Kopi Dunia

2 November 2023
Membayangkan Serial TV Upin Ipin Nggak Tayang di Indonesia, Hidup Banyak Orang akan Suram  Mojok.co

Membayangkan Serial TV Upin Ipin Nggak Tayang di Indonesia, Hidup Banyak Orang akan Suram 

3 Juli 2024
basa-basi

Basa-Basi Orang Indonesia yang Bikin Keki

7 Juli 2019
menu masakan indonesia kalis mardiasih mojok

Perkara Menu Mbak Kalis Mardiasih: kalau Menu kayak Gitu Dibilang Kurang Gizi, Terus Kita Suruh Makan Apa?

6 Juli 2021

3 Kasus di Drama Korea ‘Law School’ yang Bisa Ditemukan di Indonesia

9 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

26 Februari 2026
Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga fisioterapi

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh

3 Maret 2026
Es Teh Jumbo, Minuman Orang Miskin yang Kuat Bertahan (Wikimedia Commons)

Es Teh Jumbo (Seharusnya) Anti Bangkrut dan Awet Bertahan karena Menjadi Sahabat Orang Miskin: Ada di Mana Saja dan Harganya Murah

2 Maret 2026
Jika Mall Berdiri di Purworejo, Akankah Kota yang Terlelap Selepas Isya Ini Terjaga dan Jadi Ramai?

Jika Mall Berdiri di Purworejo, Akankah Kota yang Terlelap Selepas Isya Ini Terjaga dan Jadi Ramai?

27 Februari 2026
Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

Botok Tawon, Makanan Unik Jawa Timur yang Rasanya Enak, tapi Saya Tak Sudi kalau Disuruh Makan Lagi

26 Februari 2026
Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.