Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Saipul Jamil, KPI, dan Momen yang Tepat untuk Meninggalkan Televisi

Aminah Sri Prabasari oleh Aminah Sri Prabasari
5 September 2021
A A
saipul jamil KPI televisi sampah mojok

saipul jamil KPI televisi sampah mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Bang Saipul Jamil sudah dibebaskan. Saya penonton Dangdut Academy Indosiar saat Bang Saipul Jamil ditangkap karena kasus pelecehan seksual pada anak laki-laki di bawah umur. Saya masih ingat Bang Saipul Jamil setia pada cara penjurian berdasar lirik lagu, peserta yang tidak hafal lirik lagu atau memakai versi lirik bukan dari penyanyi asli pasti dianggap gagal oleh Bang Saipul Jamil. Saya bukan penggemar, tapi juga bukan pembenci.

Oleh karena kasus tersebut, Bang Saipul Jamil terpuruk. Rumah dan mobil harus dijual. Teman artis pun banyak yang berpaling dan tak mau menjenguk. Saya ikut prihatin saat itu, tapi juga memahami kenapa Bang Saipul Jamil dikucilkan. Kasus pelecehan seksual pada anak di bawah umur itu memang tak main-main daya rusaknya pada si korban. Selain bisa mengganggu kesehatan mental juga merusak masa depannya.

Di banyak negara, pelecehan seksual pada anak di bawah umur adalah kejahatan yang serius dan luar biasa. Larangan bepergian ke luar negeri, memberi tanda khusus pada paspor dan SIM, adalah sebagian dari contoh campur tangan negara pada kasus pelecehan seksual pada anak (meski pelakunya sudah menjalani hukuman sesuai putusan sidang).

Lain cerita di Indonesia, malah diberi panggung di televisi dan diberi kalung bunga seperti baru saja berjasa pada bangsa dan negara.

Saya bisa membayangkan pertanyaan apa saja yang akan ditanyakan host acara televisi ke Bang Saipul Jamil:

“Bagaimana cara menjalani hidup di penjara yang keras?”

“Apa rencana ke depan untuk bangkit lagi berkarir di dunia entertainment?”

“Ada rencana menikah lagi, sudah ada calonnya?”

Baca Juga:

Balada Perempuan Penghuni Jogja Selatan, Gerak Dikit Kena Catcalling Orang Aneh, Ketenangan Itu Hanya Hoaks!

Wacana PNS Naik Gaji Jadi Rp9 Juta: Saran yang Perlu Dipertimbangkan agar Tepat Sasaran

Namun, sulit membayangkan si korban yang entah bagaimana sekarang keadaannya menata mental menyimak sekian stasiun televisi menampilkan Saipul Jamil dan cerita-cerita penderitaannya selama di penjara.

Pada momen seperti ini pikiran saya tertuju ke KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang seharusnya berperan sebagai tukang bersih-bersih konten tak layak tayang. Tapi, saat ini KPI sedang sibuk melayani hujatan warganet karena di internal lembaganya sendiri terjadi kasus pelecehan seksual yang dilakukan saat jam kerja!

Sebagai warga jelata ,sekarang saya paham kenapa selama ini KPI hanya tertarik untuk nge-blur dada, paha, senjata, rokok, dan apa pun yang dianggap bisa bikin mata kelilipan. Mengedukasi internalnya saja gagal, apalagi memetakan tayangan televisi yang tak layak tayang. Shame on you, KPI.

Lantas siapa pihak yang kompeten untuk mengevaluasi televisi? Jangan tanya saya, bukan urusan saya ini. Digaji kagak, disuruh ikutan mikir. Pemerintah kerja bener sekali-kali, kek.

Setelah dipikir-pikir, televisi kita lebih berbahaya ketimbang narkoba karena punya akses membentuk budaya dan mengubah peradaban, tapi sistem pengawasannya buruk sekali. Dampak munculnya teknologi televisi sebagai mass media dalam peradaban manusia sama seperti dampak ditemukannya teknologi internet sebagai new media. Sebagai pengguna dan pembayar pajak seharusnya kita dapat pelayanan dari penyelenggara kebijakan (di urusan televisi) yang lebih baik dari yang kita terima sekarang bukan? Ini sudah 2021, industri pertelevisian (harusnya) sudah sangat berkembang.

Televisi sebagai ruang publik tampil lebih sederhana ketimbang internet sebagai cyberspace (ruang publik virtual). Di sisi lain, kesederhanaan tersebut membuat televisi menjadi kurang manusiawi.

Penonton tidak diberikan ruang untuk menolak, membantah, menambahkan, dan mengurangi. Komunikasi antara penonton dan televisi disederhanakan dalam bentuk angka-angka yang kemudian dikenal sebagai rating.

Tayangan dengan isi popularitas dan bombastisitas memenuhi layar kaca, tapi tidak menyampaikan pesan dan pengetahuan yang diperlukan masyarakat. Acara lamaran-pernikahan-kelahiran-parenting selebritas, aneka tayangan klarifikasi gosip, sinetron yang dikemas dengan cara-cara yang melukai akal sehat, adu cela para politisi, tayangan berita yang sesuai preferensi pengusaha televisi, you name it.

Makin tinggi rating, seburuk apa pun tayangan yang disajikan, makin banyak masuk iklan, makin banyak cuan.

Masalah lainnya adalah konten televisi yang pada awalnya memotret realitas sosial masyarakat, berubah menjadi medium hiperrealitas. Bahkan terjadi kekonyolan seperti konten YouTube di kanal selebritas tayang ulang di televisi. Padahal televisi memakai frekuensi publik untuk mengudara.

Maka, tak mengherankan jika orang-orang mulai membuat kampanye meninggalkan televisi. Konten yang ditawarkan menghina akal sehat, minim kreativitas—ditunjukkan dengan tayang ulang konten media sosial, dan tak memiliki empati.

Bang Ipul, akhirnya, tampil lagi di televisi. Tak peduli bagaimana perasaan korban, tak peduli akal sehat, pun KPI tak mempermasalahkan. Kita seharusnya sudah tidak perlu terkejut. Ya, memang hal yang menolak akal sehat dan kontroversial lah yang disukai oleh pembuat acara televisi. Makin dihujat, makin tinggi ratingnya. Memang tidak sehat, tapi, sejak kapan acara entertainment itu sehat?

Peduli setan pendapatmu, Saipul Jamil akan tetap laku, dan acara televisi akan tetap seperti itu. Mungkin memang sudah waktunya kita mengambil tongkat kayu dan ayunkan kayu tersebut ke televisi.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 September 2021 oleh

Tags: empatikpiPelecehan Seksualsaipul jamil
Aminah Sri Prabasari

Aminah Sri Prabasari

Perempuan yg merdeka, pegawai swasta yg punya kerja sambilan, pembaca yg sesekali menulis. Tertarik pada isu gender, politik, sosial dan budaya.

ArtikelTerkait

Belajar dari Kasus Peremasan Alat Vital Dikta, Korban Pelecehan Seksual Bukan Cuma Perempuan Terminal Mojok

Belajar dari Kasus Peremasan Alat Vital Dikta, Korban Pelecehan Seksual Bukan Cuma Perempuan

27 Januari 2023
Pelecehan Seksual pada Anak Itu Tak Pernah Sepele dan Tak Akan Pernah Sepele!

Pelecehan Seksual pada Anak Itu Tak Pernah Sepele dan Tak Akan Pernah Sepele!

1 Juli 2022
Sumber gambar Pixabay

Pelaku Pelecehan Seksual dan para Petinju Andal

9 September 2021
propaganda malaysia nasi kandar FAM Malaysia PSSI sepak bola Mojok

Menertawakan Propaganda Malaysia yang Disampaikan Ketua KPI

14 September 2021
PT KAI Blacklist Pelaku Pelecehan Seksual. (Unsplash.com)

PT KAI Blacklist Pelaku Pelecehan Seksual, BUMN Lain Wajib Terinspirasi!

5 Juli 2022
Paradara, Hukuman Mati bagi Pemerkosa di Masyarakat Jawa Kuno MOJOK.CO

Paradara, Hukuman Mati bagi Pemerkosa di Masyarakat Jawa Kuno

6 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Dosa Jalan Bantul yang Membuat Warga Lokal seperti Saya Sering Apes ketika Melewatinya Mojok.co

Bantul Tidak Butuh Mall untuk Bisa Disebut Beradab dan Maju, Standar Konyol kayak Gitu Wajib Dibuang!

15 April 2026
Sudah Saatnya Purworejo Turunkan Ego dan Belajar dari Kebumen daripada Semakin Tertinggal Mojok.co

Sudah Saatnya Purworejo Turunkan Ego dan Belajar dari Kebumen daripada Semakin Tertinggal

12 April 2026
Selama Real Madrid Tidak Percaya dengan Strikernya, Lupakan Meraih Gelar UCL ke-16

Real Madrid Tanpa Trofi (Lagi), Saatnya Buang Vini

16 April 2026
Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal mojok.co

Sebagai Warga Kelas Menengah, Saya Percaya kalau Kuliah S2 Bisa Mengubah Hidup Saya, tapi Tolong Ini Jalannya Lewat Mana ya?

15 April 2026

Di Balik Cap Manja, Anak Bungsu Sebenarnya Dilema antara Kejar Cita-cita atau Jaga Ortu karena Kakak-kakak Sudah Berumah Tangga 

17 April 2026
SGPC Bu Wiryo Tempat Makan Alumni UGM Sukses, Mahasiswa Aktif Nggak Sanggup Makan di Sana karena Mahal Mojok.co

SGPC Bu Wiryo Tempat Makan Alumni UGM Sukses, Mahasiswa Nggak Sanggup Makan di Sana karena Mahal

11 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi
  • PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk
  • Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri
  • Penyesalan Pasang WiFi di Rumah: Lepas Kendali “Merusak” Hidup dan Mental karena Terkungkung Layar HP
  • PNS Dianggap Pekerjaan Mapan karena Bisa Makan Gaji “Buta”, tapi Aslinya Mengoyak Hati Nurani
  • Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.