Begini. Coba lihat kompetitor warteg yang keberadaannya juga nggak kalah menjamur, yaitu warung nasi padang. Kalau kalian perhatikan, saat ini banyak warung nasi padang yang berlomba-lomba memberikan harga murah bagi para pembelinya. Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan memasang banner mencolok di depan warung mereka. Tujuannya, biar orang-orang bisa tahu kalau sekarang, mereka nggak perlu takut pergi ke warung padang.
Ya, gimana, ya? Dulu, warung makan padang itu identik dengan harganya yang mahal. Namun, saat ini harga mahal di warung makan padang tinggallah cerita. Lha wong sekarang cuma modal selembar duit sepuluh ribu bisa bawa pulang sebungkus nasi padang nikmat, kok. Lengkap dengan lauk pauknya, seperti: ayam sayur, sambel ijo, sayur nangka, dan daun singkong. Hmmm, menggiurkan sekali bukan? Itu sebabnya, kalau duit lagi pas-pasan, orang-orang cenderung akan pergi ke warung nasi padang.
Maklum, untuk urusan harga, harga satu porsi nasi di warung nasi padang itu jelas. Jelas murah. Bandingkan kalau beli nasi di warteg. Pilih lauk ini ini itu, pas bayar, kaget. Ha, kok segitu harganya? Padahal lauknya standar. Auto membandingkan jika beli nasi di warung padang. Dengan harga yang sama, bisa dapat ayam kuah lengkap dengan sayur. Duh.
Fenomena perubahan harga antara warteg dan warung nasi padang ini pula yang kemudian membuat banyak kenalan saya, dalam banyak kesempatan, lebih memilih nasi padang untuk makan siangnya. Termasuk, ketika ada agenda kerja bakti atau kumpul-kumpul yang butuh makan siang. Mending beli nasi padang daripada nasi di warteg. Selain itu, kebanyakan warung nasi padang juga dilengkapi dengan nota dan stempel warung. Cocok banget jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk keperluan laporan keuangan.
Dengan menjamurnya warung nasi padang yang murah meriah, sementara harga di warteg tidak jelas, bukan tidak mungkin warteg kelak akan semakin ditinggalkan. Duh, semoga tidak terjadi. Bagaimanapun, warteg adalah local pride-nya wong Tegal. Kalau nggak bisa lagi dibanggakan, apa lagi dong yang bisa orang Tegal banggakan? Masa Pak Wali Kotanya, duh…
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Warteg Pertama di Jogja Merekam Kebiasaan Makan Mahasiswa