Satu hal yang terlintas di benak saya ketika membicarakan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di Jakarta adalah film Pengabdi Setan 2: Communion. Seperti yang digambarkan dalam film, di kepala saya, rusunawa lekat akan image fasilitas yang ala kadarnya dan horor. Saya kemudian bertanya kepada salah satu teman yang saat ini memilih tinggal di Rusunawa ketika merantau ke Jakarta.
Teman saya tinggal di salah satu rusunawa di kawasan Jakarta Timur. Sebelumnya dia tinggal di sebuah kos-kosan kecil yang berada di gang sempit. Singkatnya lingkungan di kos-kosannya membuatnya lelah. Harga sewanya naik, lingkungannya makin padat. Dan, yang paling membuatnya khawatir adalah banjir ketika hujan deras menghujam tanpa henti.
Akhirnya, teman saya mempertimbangkan rusunawa sebagai opsi yang realistis. Alasannya tentu tidak untuk hidup yang mewah, tapi lebih karena ingin mendapatkan suasana baru yang lebih tenang, terjamin, dan terjangkau. Sebab di Jakarta, hidup di hunian yang legal, bersih, bebas banjir, dengan sewa murah adalah keberuntungan tersendiri.
Baca juga Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku.
Rusunawa Jakarta harga Rp800 ribu ternyata tidak buruk-buruk amat
Singkat cerita, pencarian teman saya membawanya pada sebuah rusunawa di daerah Jakarta Timur yang biayanya Rp800 ribuan. Tentu mendapat hunian dengan harga di bawah Rp1 juta membuat teman saya merasa lega. Terlebih, sebelum-sebelumnya, kawan saya ini selalu tinggal di hunian dengan harga di atas Rp1 juta.
Memang, dari segi unit rusun nggak terlalu luas. Ruang tamu, kamar, dapur kecil, kamar mandi, semuanya harus diatur supaya tidak terasa sesak. Namun, dari situlah teman saya jadi belajar hidup lebih sederhana dan ringkas. Dia jadi nggak sering beli-beli barang yang nggak dibutuhkan dan memenuhi kamar.
Teman saya justru merasa ada lebih banyak hal baik ketika memutuskan pindah ke rusunawa. Kalau dulu ketika masih ngekos, tiap hujan deras dia selalu waswas dilanda banjir. Saat di rusun, teman saya jauh lebih tenang, tidurnya lebih lelap, tidak khawatir kasurnya tiba-tiba basah karena disapa oleh genangan air yang masuk tengah malam.
Dia juga merasa fasilitas pendukungnya terjamin, kebersihan lumayan terjaga karena sampah ada pengelolanya. Lingkungan jauh lebih tertata. Selain itu, akses air bersih tidak sulit dan listriknya jelas. Walau memang, setelah tinggal di sana beberapa saat, dia menyadari hidup di rusunawa ternyata ada pengeluaran biaya lainnya seperti listrik, air, gas, kebutuhan dapur, iuran mingguan, dan transportasi.
Asal tahu saja, rusunawa memang lebih lenggang dan humanis. Namun, itu semua “dibayar mahal” dengan jarak ke tempat kerja yang jadi lebih jauh. Pada situasi tersebut, teman saya akhirnya berdamai, sewa rusunawa memang lebih terjangkau daripada ngekos. Namun, itu bukan berarti biaya hidup akan jauh lebih murah. Poin baiknya, setidaknya pengeluaran terkait hunian jadi lebih jelas saat tinggal di rusunawa.
Kehidupan bertetangga yang jadi tantangan
Tantangan utama tinggal di rusunawa justru terletak pada bersosialisasi dengan penghuni rusun, terlebih bagi para introvert. Sebab, tinggal di rusunawa berarti mau tak mau tiap hari mesti berpapasan dengan orang lain. Hampir selalu ada orang ketika naik lift, lewat tangga, menyusuri koridor, hingga tempat jemur. Awalnya akan terasa kaku. Banyak aturan yang harus dijaga agar tidak memicu ketersinggungan.
Seperti soal kebersihan di masing-masing lorong rusun, aturan jam bertemu, aturan soal parkir, dan aturan soal menaruh barang di lorong. Ini yang harus diperhatikan, karena ketika aturan itu tidak lakukan, maka bisa jadi yang nggak nyaman nggak hanya satu ruangan, tapi ruangan lain yang ada di lorong rusun yang sama,
Akan tetapi, meski sudah ada aturan, tetap saja tinggal di rusun butuh kesabaran sosial. Suara tetangga yang tetap keras dan bising. Ada yang nyanyi dengan suara yang bahkan lebih bagus suara gonggongan anjing daripada suaranya. Ada saja yang tidak tertib soal penempatan barang sehingga menutupi jalan di lorong rusun. Bagi yang introvert yang baterai sosial terbatas, sungguh sangat merepotkan.
Meski begitu, teman saya tidak menyesal memilih tinggal di rusunawa. Setidaknya menurut teman saya, rusunawa menawarkan tempat tinggal yang lebih layak, lebih aman, dan lebih bersih. Memang ada hal yang tetap butuh penyesuaian kebiasaan dan budaya sosial, tapi menurutnya itu setimpal.
Di Jakarta, kota yang harga tanah dan sewa kosannya tidak masuk akal, bisa tinggal di daerah yang legal, bebas banjir dan manusiawi terasa memberikan kewarasan tersendiri untuk menjalani hari-hari yang berat.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 4 Kelemahan Tinggal di Apartemen yang Nggak Tertera dalam Brosur.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
