Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Review Honda Supra X 100 yang Berusia 20 Tahun, Motor Tua Paling Irit

Raden Muhammad Wisnu oleh Raden Muhammad Wisnu
28 April 2021
A A
Review Honda Supra X 100 yang Berusia 20 Tahun, Motor Tua Paling Irit terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Sudah hampir tiga tahun saya menggunakan Honda Supra X 100 keluaran tahun 2001 yang saya beli pada 2019 lalu dari salah satu teman kuliah saya. Honda Supra X 100 ini betul-betul motor pertama milik saya setelah sebelumnya ke mana-mana saya hanya menggunakan angkot, naik ojol, atau bahkan nebeng teman yang bisa saya tebengin dengan ikhlas. Secara garis besar, ini adalah sepeda motor kebanggaan saya meskipun bukan sepeda motor keren seperti Royal Enfield atau Ducati Monster.

“Lho, kenapa beli motor bekas? Dengan uang segitu bisa melunasi uang muka motor matic terbaru,” ujar teman-teman saya ketika nongkrong. FYI, saya beli motor ini seharga Rp3,8 juta.

Tentu saja dengan budget segitu, sebetulnya saya bisa melunasi uang muka dari motor-motor terbaru keluaran tahun 2019. Namun saya pikir hal tersebut tidak berfaedah. Daripada membeli motor baru dengan harga di atas 15 jutaan, ya mending beli motor bekas dengan harga 3-4 jutaan saja. Jauh lebih hemat. Selain itu, biaya perawatan dan pajak kendaraan bermotor keluaran lama jauh lebih murah dibandingkan motor baru. Ya kalau bisa milih saya juga penginnya punya sepeda motor keren seperti Royal Enfield atau Ducati Monster. Tapi apa boleh buat, saya belum mampu membeli dan membayar pajaknya, jadi pilihannya beli sepeda motor bekas.

Saya mencari informasi motor bekas yang dijual dengan sejumlah kesulitan karena saya adalah orang yang tidak mengerti otomotif sama sekali. Bisa saja saya survei sepeda motor dengan mengajak teman saya yang jauh lebih mengerti otomotif, tapi ya nanti ribet, makanya saya putuskan cari sendiri saja.

Saya sudah COD dengan lebih dari sepuluh orang yang menjual sepeda motor di Kota Bandung, tapi hasilnya tidak memuaskan lantaran kondisi sepeda motor yang tidak sesuai dengan apa yang ditayangkan dalam iklannya di internet. Padahal saya berkali-kali naik ojek online buat COD-an dengan berbagai macam penjual sepeda motor, tapi harus pulang dengan perasaan kecewa. Sejak saat itu, saya berniat untuk membeli sepeda motor dari circle terdekat saja, biar kalau ada apa-apa gampang buat komplain dan menghindari penipuan.

Akhirnya suratan takdir berkata lain, pada awal 2019, saya memperoleh info bahwa salah satu teman saya menjual sepeda motor Honda Supra X 100 tahun 2001. Saya pun langsung mengajak ketemuan untuk melihat-lihat motornya. Sepeda motor tersebut kondisi mesinnya sangat bagus meski banyak minus di sana-sini, seperti body motor yang sudah termakan usia, aki yang tidak berfungsi, hingga jok motor yang banyak bekas cakaran kucing. Daripada ribet COD dengan belasan orang random di internet lagi, saya pun memutuskan membeli sepeda motor tersebut dengan harga Rp3,8 juta. Sudahlah, yang penting kalau pergi nggak pakai angkot atau ojol lagi, deh.

Hal pertama yang ingin saya review adalah perkara bahan bakar. Honda Supra X 100 ini sepeda motor paling irit yang pernah saya gunakan. Selama kerja kantoran dari Senin hingga Jumat dengan jarak tempuh pulang pergi 26 km dan mobilitas saya dalam kencan, eh, maksud saya untuk nongkrong dengan teman-teman, saya hanya menghabiskan Rp40.000 saja. Atau sekitar dua kali isi bensin selama seminggu.

Hal kedua adalah perkara mesin. Sampai tulisan ini dibuat, sepeda motor ini tidak pernah mogok di jalan, kecuali ban kempes akibat menginjak paku sehingga harus ditambal atau ganti ban dalam. Paling mentok harus ganti busi ketika sebelumnya melewati hujan deras dan banjir di hari sebelumnya.

Baca Juga:

Tanpa Motor Supra, Honda Tidak Akan Menjadi Brand Motor Terbaik yang Pernah Ada di Indonesia

Dominasi Motor Honda Akan Segera Berakhir, sebab Motor Keluaran Baru Yamaha Harus Diakui Lebih Berkualitas!

Selama tiga tahun pemakaian, keluhannya hanya adanya keretakan pada crankcase/blok mesin dekat pembuangan oli saja. Keretakan tersebut disinyalir terjadi karena terlalu keras saat menutup baut tutup oli, tidak sengaja menginjak polisi tidur yang terlalu tinggi, atau memang sudah termakan usia. Selama ini betul-betul tidak ada masalah, saya hanya menambahkan volume oli setiap seminggu sekali, dan ganti oli setiap tanggal satu setiap bulannya saja agar mesin tidak aus. Bahkan teman saya pernah berkata motor itu nggak ada oli saja masih bisa jalan, tidak seperti motor matic zaman sekarang.

Hal ketiga adalah pajaknya. Pajak pokoknya setiap tahun hanya Rp106.800. Ditambah Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan sebesar Rp35.000, saya harus membayar total Rp141.800 saja. Dibandingkan pajak sepeda motor terkini seperti Yamaha N-Max sebesar Rp400.000 atau Honda Beat sebesar Rp220.000 yang harus teman-teman saya bayar, jelas ini lebih murah. Meskipun saya anggap mahal juga, sih, lantaran jalanan di Kota Bandung masih banyak yang bolong dan tidak mulus.

Kesimpulannya, selama tiga tahun ini betul-betul tidak ada masalah sama sekali dalam pemakaiannya. Paling jauh memang hanya saya pakai ke Lembang atau Ciwidey, dan ajaibnya, kuat-kuat saja. Tidak ada masalah sama sekali meskipun tidak bisa ngebut baik dalam perjalanan luar kota sekalipun. Paling hanya kesulitan mencari sparepart dan aksesori original Honda saja karena kebanyakan bengkel resmi Honda sudah tidak menjual sparepart originalnya. Biasanya harus beli secara online atau cari buatan lokalnya saja.

Jika dari kalian ada yang mau beli sepeda motor ini, saya sarankan pakai bahan bakar Premium saja, meskipun saat ini Premium sangat langka di Kota Bandung. Sepeda motor ini adalah sepeda motor keluaran 20 tahun yang lalu, sehingga ketika saya isi dengan Pertalite apalagi Pertamax, mesin jadi cepat panas. Kaki saya merasakan hal tersebut. Meski Pertalite dan Pertamax diklaim lebih baik untuk performa mesin, untuk motor sekelas Honda Supra X 100, ya tidak akan ada perubahan yang signifikan. Malah bikin boros pengeluaran buat bensinnya karena harga bahan bakar tersebut jauh lebih mahal.

Apakah Honda Supra X 100 sepadan untuk dibeli? Jelas, apalagi buat kalian yang masih mahasiswa. Pokoknya motor satu ini irit bahan bakar, perawatannya murah, pajaknya murah, dan mesinnya bandel. Tapi, kalau niatnya untuk menarik perhatian wanita, ya susah. Pengalaman saya ketika mendekati beberapa wanita yang hendak saya jadikan pacar—meskipun perlahan mundur satu per satu—semuanya mengeluhkan jok yang sempit dan tidak nyaman. Jancuk!

Sumber Gambar: YouTube Mahardika MotoVlog

BACA JUGA Review Honda PCX 150 Setelah Setahun Pemakaian dan tulisan Raden Muhammad Wisnu lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 28 April 2021 oleh

Tags: beli motorMotormotor bekasmotor hondareview motor
Raden Muhammad Wisnu

Raden Muhammad Wisnu

Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung yang bekerja sebagai copywriter. Asal dari Bandung, bercita-cita menulis buku. Silakan follow akun Twitternya di @wisnu93 atau akun Instagram dan TikToknya di @Rwisnu93

ArtikelTerkait

Satria f suzuki nex honda beat mojok

Suzuki Satria F Ternyata Nggak Seenak yang Dibayangkan

25 November 2020
Alasan Cewek Tetap Pilih Motor Matic padahal Nggak Bisa Engkol Manual

Alasan Cewek Tetap Pilih Motor Matic padahal Nggak Bisa Engkol Manual

21 Juni 2024
Dominasi Motor Honda Akan Segera Berakhir, sebab Motor Keluaran Baru Yamaha Harus Diakui Lebih Berkualitas!

Dominasi Motor Honda Akan Segera Berakhir, sebab Motor Keluaran Baru Yamaha Harus Diakui Lebih Berkualitas!

9 Januari 2026
Vario 110, Motor Honda Terbaik yang Bikin Saya Menyesal (Wikimedia Commons)

Setelah Mencoba 9 Generasi Vario, Saya Menyesal Sudah Menjadikan Vario 110 Sebagai Generasi Terbaik Motor Honda

10 Juni 2025
Yamaha NMAX Itu Motor Overrated dan Nggak Spesial Sama Sekali, kok Bisa Penggunanya Arogan di Jalan? kendaraan dinas kades yamaha all new nmax 155 honda vario

Yamaha NMAX Itu Motor Overrated dan Nggak Spesial Sama Sekali, kok Bisa Penggunanya Arogan di Jalan?

9 April 2022
ban cacing drag race mojok

Untuk yang Suka Pakai Ban Cacing Semoga Cepat Sadar, Bahaya, Bos!

13 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rute KRL Duri-Sudirman, Simbol Perjuangan Pekerja Jakarta (Unsplash)

Rute KRL dari Stasiun Duri ke Sudirman Adalah Rute KRL Paling Berkesan, Rute Ini Mengingatkan Saya akan Arti Sebuah Perjuangan dan Harapan

15 Januari 2026
6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet Mojo.co

6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet

13 Januari 2026
Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

14 Januari 2026
4 Aturan Tidak Tertulis ketika Naik Transjakarta (Unsplash)

Hal-hal yang Perlu Pemula Ketahui Sebelum Menaiki Transjakarta Supaya Selamat dan Cepat Sampai Tujuan

16 Januari 2026
Toyota Veloz, Mobil yang Sangar di Jalan Datar tapi Lemas di Tanjakan

Toyota Veloz, Mobil yang Sangar di Jalan Datar tapi Lemas di Tanjakan

11 Januari 2026
Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

17 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.