Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Putri Marino dan Buku PoemPM Adalah Wujud Menulis dengan Privilese

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
5 Januari 2020
A A
Putri Marino dan Buku PoemPM Adalah Wujud Menulis dengan Privilese
Share on FacebookShare on Twitter

Menilik keributan di lini masa Twitter, saya bersyukur bahwa film “Posesif” hanyalah sebuah film belaka. Ha gimana nggak? Dari kemarin, orang-orang sibuk berdebat perkara puisi-puisi tulisan Putri Marino yang terangkum dalam hastag #poempm di Instagram. Seandainya Putri Marino adalah Lala beneran dalam kehidupan nyata seperti di film “Posesif”, pasti orang-orang yang dianggap menghina tulisannya secara berlebihan bakal didatangi Yudhis.

Menulis adalah kebebasan; begitu kata orang-orang. Kamu bisa menangis siang hari, lalu sorenya membuat sajak tentang sedihmu. Bebas saja. Ngapain dilarang-larang, memangnya kamu kena lampu merah di perempatan?!

Tidak ada yang melarang Putri Marino menulis. Buktinya, akun PoemPM dengan suksesnya mencapai 50 ribu followers, kok. Masalah tiba-tiba membesar dengan munculnya puisi-puisi penuh titik-titik ini dalam bentuk buku.

Kritikan bermunculan. Putri Marino yang aktingnya jempolan dianggap nggak perlu-perlu amat menulis puisi. Kata-kata yang ia kumpulkan dalam bentuk caption dan buku dinilai membingungkan, alih-alih menggugah hati. Perdebatan soal puisi dan sastra kian memanas. Tulisan Putri dianggap bukan puisi dan nggak bernilai seni.

Saya bukan penikmat PoemPM, jujur saja. Tapi, dari ribut-ribut ini, yang jadi pemeran utamanya menurut saya adalah…

*JENG JENG JENG*

…si penerbit.

Bahwa Putri Marino menulis puisi yang nggak secakep Joko Pinurbo adalah hal yang lain. Yang terpenting cuma satu: Putri Marino adalah Putri Marino, aktris tanah air yang kondang dan punya nama besar. Penggemarnya pun orang beneran, bukan mesin bot kayak followers di akun online shop yang jumlah like-nya cuma 12, tapi pengikutnya 300 ribu. Dengan segala kelebihan ini, tulisan PoemPM yang penuh perdebatan pun bisa-bisa saja diangkut ke meja redaksi untuk segera diterbitkan.

Baca Juga:

4 Privilese yang Kamu Rasakan Ketika Tinggal di Surabaya Timur

YOLO Sekarang, Menangis Kemudian: Anak Muda Tanpa Privilese Jangan Coba-coba Gaya Hidup Ini!

Menulis dengan privilese; mungkin itu istilah yang tepat buat Putri Marino. Orang-orang yang cuma bisa geleng-geleng kepala setiap kali puisinya lewat di halaman Explore di Instagram itu tetap hanya bisa geleng-geleng saat tahu PoemPM sekarang sudah jadi buku. Tapi ya sudah, privilese itu memang nyata, kok. Seandainya Putri cuma wanita biasa yang bahkan suaminya pun tidak terdeteksi sebagai pria paling ganteng sedunia, saya menyangsikan keberanian penerbitnya untuk merilis buku kumpulan puisi tadi.

Menulis dengan privilese memang semenyenangkan itu. Saya pernah mengalaminya dan saya akui itu adalah kesenangan tertinggi. Menjadi redaktur sebuah media online sampai Oktober 2019 lalu mengizinkan saya menulis gagasan saya dengan lebih bebas (tentu setelah lolos brainstorming dengan Pemred). Selepas resign dan jadi rakyat jelata, privilese itu hilang dan saya harus berjuang seperti manusia-manusia lain: mengirim tulisan lewat email dan kadang-kadang mendapat penolakan naskah.

Putri Marino bukan saya, bukan juga kamu. Diterbitkannya buku PoemPM mungkin menjadi pencapaian besar baginya yang gemar menulis, tapi sekaligus mencerminkan alasan-alasan yang diambil si penerbit. Jadi artis mungkin menyebalkan karena privasimu berkurang, tapi pada hal-hal tertentu, kamu berkesempatan punya medium yang lebih besar untuk bersuara.

Buku puisi ini terbit tentu saja dengan persetujuan Putri sebagai penulisnya. Banjir kritik yang sedang berlangsung ini, menurut saya, jadi nggak fair kalau harus dibalas dengan ujaran, “Kalau nggak suka, nggak usah baca!” Lah, kalau pakai prinsip begituan terus, gimana kritik bisa lahir dan Putri Marino mendapat feedback dari tulisannya sendiri?

Tolong, deh. Hidup itu kan nggak melulu soal rupiah pujian dan tepuk tangan.

BACA JUGA Tak Suka dengan Puisi Putri Marino? Ya, Jangan Baca! atau tulisan Aprilia Kumala lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Januari 2020 oleh

Tags: poempmPrivileseputri marino
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Editor lepas. Copywriter. Kata Pottermore, dia lulusan Hufflepuff. Saat ini menjadi seorang freelancer paruh waktu yang operasional hidupnya didorong oleh dedikasi penuh pada semesta Harry Potter.

ArtikelTerkait

Fenomena Pemuda Citayam: Kalau Nggak Good Looking, Nggak Boleh Banyak Gaya, Gitu kan Maksudnya?

Fenomena Pemuda Citayam: Kalau Nggak Good Looking, Nggak Boleh Banyak Gaya, Gitu kan Maksudnya?

15 Juli 2022
Jadi Penjaga Toilet Mal Nggak Melulu Menyedihkan, Banyak Juga Privilese yang Didapat Mojok.co

Jadi Penjaga Toilet Mal Nggak Melulu Menyedihkan, Banyak Juga Privilese yang Didapat

23 Maret 2024
Seandainya Saya Adalah Putri Tanjung terminal mojok.co

Seandainya Saya Adalah Putri Tanjung

19 Januari 2022

Layangan Putus: Tema Mainstream, tapi Tetap Bikin Emosi

3 Desember 2021
Tantangan Penulis Pemula Melawan Penulis Berprivilese Ketenaran

Tantangan Penulis Pemula Melawan Penulis Berprivilese Ketenaran

14 Januari 2020
Cinta Pertama, Kedua & Ketiga: Keluarga Itu Memang Harus Saling Merepotkan terminal mojok.co

Cinta Pertama, Kedua & Ketiga: Keluarga Itu Memang Harus Saling Merepotkan

13 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026
Dilema Warga Brebes Perbatasan: Ngaku Sunda Muka Tak Mendukung, Ngaku Jawa Susah karena Nggak Bisa Bahasa Jawa

Brebes Punya Tol, tapi Tetap Jadi Kabupaten Termiskin di Jawa Tengah

10 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Memang Penuh Cerita dan Keresahan, Makanya Dibicarakan Berulang-ulang dan Hampir Tanpa Jeda

10 April 2026
Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

8 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit
  • Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.