Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Purwokerto Tak Perlu Dipaksa Jadi Kota Santri, Membangun Pondok Bukan Sekadar Ambisi Dosen UIN

Sayyid Muhamad oleh Sayyid Muhamad
26 September 2025
A A
Purwokerto Tak Perlu Dipaksa Jadi Kota Santri, Membangun Pondok Bukan Sekadar Ambisi Dosen UIN

Purwokerto Tak Perlu Dipaksa Jadi Kota Santri, Membangun Pondok Bukan Sekadar Ambisi Dosen UIN (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah cukup Purwokerto dijuluki sebagai Kota Satria. Biarkan gelar Kota Santri disematkan pada daerah-daerah yang memang sudah percaya diri menampilkan kesantriannya di muka khalayak.

Di daerah lain, pondok pesantren—jauh sebelum ada sensus—sudah dulu hidup dan menjadi bagian dari denyut warganya. Jadi tak ada yang perlu dirisaukan, karena kesantrian bukan lahir dari proyek instan. Nah, kalau Purwokerto sendiri? Agaknya lain cerita. Pendirian pondok di sini lebih cocok disebut ambisi segelintir dosen UIN ketimbang kebutuhan kultural masyarakat.

Lantaran saya sendiri adalah santri, tentu tidak ada maksud dalam hati untuk merendahkan keberadaan pesantren. Justru kecintaan terhadap tradisi kesantrian itulah yang membuat saya agak gatal ketika melihat ada upaya “mengada-adakan” citra Kota Santri di Purwokerto.

Dosen UIN yang “ngiyai”

Melupakan gelar non-akademik K.H. pada nama dosen yang sudah Profesor atau Doktor, rasanya ada yang kurang greget, apalagi kalau itu dosen UIN. Rupa-rupanya titel akademik saja belum cukup untuk membangun wibawa, sehingga perlu ditambahi sentuhan religius yang membuatnya terlihat komplet: cendekiawan sekaligus kiai.

Barangkali di titik inilah kita melihat betapa gelar tidak lagi hanya penanda keilmuan, namun juga ornamen status. Profesor dan doktor mungkin menegaskan kemampuan akademik, tapi belum menjamin aura kewibawaan di mata publik. Maka ditempel K.H. agar lebih sahih dan lebih “nglegani”. Jadilah sosok yang diharapkan bisa tampil di dua panggung sekaligus: ruang seminar dan mimbar pesantren.

Dan saat UIN Purwokerto sempat memberlakukan aturan wajib mondok bagi mahasiswanya, berduyun-duyun pula dosen mendirikan pondok pesantren. Entah kebetulan atau tidak, tapi kok rasanya seperti “kebetulan yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan”.

Jadi apakah pendirian pondok ini murni dipicu oleh momentum regulasi? Saya tak ingin gegabah menuduh demikian. Mari berprasangka baik saja—tentu niatnya bagus. Minimal, agar mahasiswa UIN selepas lulus tidak lagi kelabakan ketika tiba-tiba diminta jadi imam dadakan di musala kampungnya. Setidaknya, mereka punya bekal lebih dari sekadar obral alasan.

Melihat kondisi sekarang, regulasi wajib mondok itu sudah tak berlaku lagi. Pondok pesantren yang dulu mendadak tumbuh bak jamur di musim hujan kini mulai satu per satu kehilangan pesona. Banyak yang pelan-pelan beralih menjadi sekadar majelis taklim ala kadarnya, bahkan ada yang jadi kos-kosan berlabel islami.

Baca Juga:

Hal-hal yang Membuat Saya Sedikit Menyesal Masuk Prodi PAI UIN Saizu, meski Tidak Sampai Ingin Pindah Kampus

Pengelola Kafe Seharusnya Lebih Tegas pada Pengunjung Nggak Peka, Mereka Tak Hanya Mengganggu Pembeli Lain, tapi Juga Mengancam Kelangsungan Bisnis

Purwokerto sebenarnya sudah patut menyandang Kota Santri

Jika tolok ukurnya adalah kuantitas pondok pesantren, Purwokerto sebenarnya sudah pantas mendapat julukan Kota Santri. Dari sisi angka, pondok-pondoknya bertebaran di berbagai sudut kota, dari pinggiran hingga pusat kota, dari pesantren kecil hingga yang lebih besar dan berakreditasi.

Nah, pasalnya penghuni pondok pesantren ini kebanyakan adalah mereka yang waktu itu tidak lulus ujian BQ-PI di UIN. Jadi kesantrian itu masih sebatas bangunan dan belum sampai sumsum penghuninya. Banyak dari mereka tampil syar’i di dalam pondok, saat nongkrong di salah satu coffe shop malah berubah pakai crop top.

Jadi, nampaknya julukan Kota Santri untuk Purwokerto memang layak. Asal dipahami sebagai simbol semata. Bukan sebagai cerminan kewajiban atau tradisi yang hidup di masyarakat.

Kontrakan dan kos-kosan lebih diminati di Purwokerto

Lantaran sejak awal tinggal di pesantren bagi sebagian mahasiswa hanyalah keterpaksaan, tak heran jika fungsinya menyempit jadi sekadar “tempat titip baju”. Entah karena tekanan keluarga atau regulasi yang sempat berlaku bagi mahasiswa UIN Purwokerto, realitasnya banyak santri lebih nyaman mencari kontrakan atau kos dekat kampus.

Teman saya dari kampus lain (Unsoed, UMP, Amikom, dll.) keberatan tinggal di pondok dengan alasan kampus tidak mewajibkan. Berbeda dengan mahasiswa UIN Purwokerto.

Bagi mereka, tinggal di pondok pesantren dipilih agar jatah bulanan tetap lancar. Di sisi lain, mereka mau di pondok karena pernah berlaku regulasi wajib mondok. Jarang sekali yang berdasarkan keinginan sendiri.

Untuk menyiasati hal ini, segelintir mahasiswa rela “menipu” orang rumah agar jatah bulanan tetap lancar. Dana untuk membayar bulanan pesantren dialihkan untuk mencari kos atau ngontrak.

Biasanya satu atau dua bulan pertama mereka tinggal di pondok. Tapi karena merasa ruang gerak terbatas, pada bulan ketiga mereka mulai numpang di kos atau kontrakan teman. Hari berganti, rasa malas kembali ke pondok menjadi-jadi menyebabkan mereka memutuskan untuk “kabur” dan memilih ikut ngontrak atau cari kos.

Ini menegaskan kenyataan pondok yang dibangun bukan semata ruang pendidikan atau pembinaan spiritual, melainkan sebagai “sarana administrasi” bagi mahasiswa. Gedung berdiri megah, santri hanya secuil.

Maka jika kita blusukan ke pondok pesantren yang berdiri karena regulasi wajib mondok UIN Saizu, terlihat penurunan jumlah santri. Sementara itu, pondok yang memilih tidak bermitra dengan UIN Purwokerto, atau yang memang sudah lama berdiri sebelum regulasi wajib mondok, dinamikanya berbeda. Pasang surut jumlah santri bagi mereka adalah fenomena statistik biasa, bukan karena ambisi instan atau regulasi sementara.

Dari sini terlihat perbedaan antara pondok yang lahir dari kebutuhan kultural dan spiritual, dengan pondok yang lahir dari momentum administratif. Secara jelas pula, angka kebutuhan kontrakan atau kos di Purwokerto naik pesat. Ini bukan sekadar tren, tetapi konsekuensi dari pondok-pondok yang tidak lagi jadi pilihan.

Dosen hanya sebagai pengasuh

Menariknya, di beberapa pondok yang dibangun dosen UIN Purwokerto, peran dosen nyaris terbatas pada status formal. Seluruh pengajaran sehari-hari justru dilakukan oleh mahasiswa yang sudah menjadi santri senior.

Sebenarnya, skema ini menguntungkan semua pihak. Mahasiswa jadi “terjun langsung” belajar mengelola pondok. Praktik nyata dari teori yang mereka dengar di kelas, sementara dosen tetap kebagian rapinya. Kalau ditanya siapa pengasuhnya, sesekali disebutlah sebagai pengasuh resmi.

Melihat fenomena di lapangan, terasa jelas satu hal: pondok pesantren yang banyak berdiri di Purwokerto lebih lahir dari ambisi dosen UIN daripada kebutuhan nyata mahasiswa atau masyarakat. Gedung dibangun, papan nama terpampang, aturan dibuat, tetapi kehidupan santri yang seharusnya menjadi jantung pondok justru sering tercecer.

Untuk para dosen, kurang-kurangilah ambisi mendirikan pondok semata demi proyek pribadi, terutama bagi dosen UIN. Semua mahasiswa juga bisa disebut santrimu. Jika ingin meniru pembelajaran ala pesantren, sebenarnya cukup mengundang santri yang bersedia untuk mengaji datang ke rumah, tanpa harus membangun gedung besar yang ujung-ujungnya hanya formalitas semata.

Penulis: Sayyid Muhamad
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Purwokerto Semakin Maju dan Kekinian tapi Tak Semua Orang Bisa Menikmatinya, apalagi Jika Hanya Bergaji UMR

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 September 2025 oleh

Tags: kota purwokertokota santrikota satriaMahasiswaPondokPondok PesantrenpurwokertosantriUIN SAIZUUIN Saizu Purwokerto
Sayyid Muhamad

Sayyid Muhamad

Santri penuh waktu, mahasiswa separuh waktu, insyaallah warga negara Indonesia seumur hidup.

ArtikelTerkait

Pengalaman Suram sebagai Mahasiswa Perempuan Jogja yang Pulang Malam   Mojok.co

Pengalaman Suram sebagai Mahasiswa Perempuan Jogja yang Pulang Malam  

26 Maret 2025
Dosen Toxic Kebelet Jadi Guru Besar: Tugas Artikel Ilmiah Wajib Terbit dan Ancam Mahasiswa dengan Nilai

Dosen Toxic Kebelet Jadi Guru Besar: Tugas Artikel Ilmiah Wajib Terbit dan Ancam Mahasiswa dengan Nilai

20 November 2025
Tembalang Semarang Terbuat dari Tumpukan Masalah, Bikin Nggak Betah Mojok.co

Tembalang Semarang Terbuat dari Tumpukan Masalah, Bikin Nggak Betah

27 Juni 2024
Masalah Kabel di Purwokerto Persis Seperti Rumus Matematika, Sama-sama Ruwet dan Bikin Mumet!

Masalah Kabel di Purwokerto Persis Seperti Rumus Matematika, Sama-sama Ruwet dan Bikin Mumet!

14 Juni 2023
Ajibarang Banyumas: Kecamatan yang Kerap Dianaktirikan, tapi Malah Jadi Daerah yang Mandiri Mojok.co

Ajibarang Banyumas: Kecamatan yang Dianaktirikan, tapi Malah Jadi Daerah yang Mandiri

24 Mei 2024
Surat Terbuka untuk Ormek: Cari Kader Memang Perlu, tapi Tolong Kemampuan Diri juga Diperhatikan

Surat Terbuka untuk Ormek: Cari Kader Memang Perlu, tapi Tolong Kemampuan Diri Juga Diperhatikan

2 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau Mojok.co

Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau

17 Juni 2026
Pengelola Kafe Seharusnya Lebih Tegas pada Pengunjung Nggak Peka, Mereka Tak Hanya Mengganggu Pembeli lain, tapi Juga Mengancam Kelangsungan Bisnis Mojok.co

Pengelola Kafe Seharusnya Lebih Tegas pada Pengunjung Nggak Peka, Mereka Tak Hanya Mengganggu Pembeli Lain, tapi Juga Mengancam Kelangsungan Bisnis

23 Juni 2026
UIN SAIZU, Kampus Ngapak Terbaik di Purwokerto PAI UIN Saizu

Hal-hal yang Membuat Saya Sedikit Menyesal Masuk Prodi PAI UIN Saizu, meski Tidak Sampai Ingin Pindah Kampus

23 Juni 2026
TransJatim Dibenci, tapi Ia Penyelamat Mahasiswa Surabaya (Wikimedia Commons)

Ugal-ugalan Sopir TransJatim Menyelamatkan Masa Depan Mahasiswa Mojokerto yang Kuliah di Surabaya

22 Juni 2026
Pertamax di Pertashop Memang Lebih Murah, tapi Tetap Saja Orang pada Beli Pertalite, Harga Pertamax Nggak Ngotak! pertamina pertamax oplosan

Cerita Mereka yang Masih Tetap Membeli Pertamax: Jualan Pertamax Eceran Makin Nggak Laku hingga Seorang Kurir yang Terpaksa Menekan Pengeluaran

21 Juni 2026
Alun-Alun Rancasari, Tempat Aneh di Kota Bandung yang Disukai Warlok Mojok.co

Alun-Alun Rancasari, Tempat Aneh di Kota Bandung yang Disukai Warlok

20 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.