Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

Akhmad Alhamdika Nafisarozaq oleh Akhmad Alhamdika Nafisarozaq
5 Februari 2026
A A
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta (Mufid Majnun via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya orang Kebumen. Purwokerto bukan kota asing bagi saya. Jaraknya dekat, sering dilewati, dan kerap disebut sebagai salah satu kota tujuan wisata di Jawa Tengah. Di media sosial, Purwokerto bahkan mulai dikenal sebagai “kota healing” yang tenang, hijau, dekat alam, dan cocok untuk melepas penat.

Namun ada satu pengalaman yang berulang setiap kali saya atau orang yang saya kenal datang ke Purwokerto sebagai pendatang, yaitu kebingungan. Bukan bingung karena kotanya rumit. Justru karena terasa terlalu biasa. Terlalu datar. Kenapa? Karena ketika orang datang ke kota ini, mereka tidak dibimbing. Seakan-akan, kota ini tak butuh didatangi siapa pun dan ketika didatangi, kota ini memberi kesan “silakan urus semua sendiri”.

Purwokerto, kota wisata yang kurang memberi arah

Begitu turun di Stasiun Purwokerto, suasana memang hidup. Lalu lintas berjalan, ojek lalu-lalang, warga beraktivitas seperti hari biasa. Tapi sebagai wisatawan, pertanyaan sederhana langsung muncul, setelah ini ke mana? Kurang ada penanda yang mengarahkan pengalaman wisata.

Tidak ada peta narasi kota. Tidak ada petunjuk yang secara halus memberi tahu, “kalau ke Purwokerto, sebaiknya mulai dari sini.” Akhirnya, Purwokerto sering terasa seperti rumah besar yang pintunya terbuka, tapi tamunya dibiarkan mencari kursi sendiri.

BACA JUGA: Purwokerto, Kota Pensiunan yang Makin Kehilangan Identitasnya sebagai Kota Tua yang Eksotis

Potensi ada, cerita kurang disusun

Secara geografis dan kultural, Purwokerto punya banyak modal. Ia dekat dengan kawasan wisata alam seperti Baturraden. Punya kuliner khas Banyumasan. Ritme hidupnya lebih pelan dibanding kota besar. Semua itu cocok dengan citra kota tenang yang belakangan dijual sebagai “healing.” Masalahnya, potensi itu kurang dirangkai menjadi pengalaman.

Wisatawan datang, tapi tidak disambut oleh sistem. Tidak ada alur kunjungan yang terasa. Semuanya seperti berjalan sendiri-sendiri. Kalau tidak punya kendaraan pribadi atau kenalan lokal, wisata di Purwokerto sering bergantung pada tebakan dan rekomendasi acak.

Terlalu mengandalkan “nanti juga nemu sendiri”

Ada kesan bahwa Purwokerto terlalu percaya wisatawan akan memahami kotanya secara otomatis. Seolah-olah ketenangan kota dianggap cukup tanpa perlu penjelasan tambahan. Padahal, wisatawan hari ini tidak selalu mencari hiruk-pikuk. Mereka justru ingin pengalaman yang sederhana tapi jelas.

Baca Juga:

5 Stereotipe Purwokerto yang Sudah “Kedaluwarsa”, tapi Masih Saja Banyak Dipercaya

Pengakuan dari Saya, Warga Asli Kebumen yang Menyadari Bahwa Daerah Saya Memang Sulit Dipahami Khususnya Para Pendatang yang Sedang Beradaptasi

Bukan diarahkan secara kaku, tapi diberi petunjuk agar tidak merasa tersesat. Healing tidak berarti kebingungan. Justru rasa aman dan rasa diterima adalah bagian dari proses itu.

Purwokerto dibandingkan dengan daerah sekitar

Sebagai orang Kebumen, saya sering membandingkan secara reflektif. Kebumen bukan kota besar. Bahkan sering dilekatkan dengan label daerah miskin. Tapi dalam konteks wisata tertentu, pantai misalnya, narasinya jelas ke mana, lewat mana, dan apa yang bisa dilakukan. Purwokerto punya status kota, fasilitas yang lebih lengkap, dan nama yang lebih dikenal. Tapi justru sering sedikit kehilangan artikulasi tentang dirinya sendiri sebagai tujuan wisata.

BACA JUGA: Orang dari Kota Besar Stop Berpikir Pindah ke Purwokerto, Kota Ini Belum Tentu Cocok untuk Kalian

Catatan dari pendatang dekat

Tenang memang nilai jual. Tapi tanpa panduan, ketenangan bisa berubah jadi kekosongan. Kota wisata tetap perlu memberi sinyal bahwa kehadiran orang luar diperhitungkan. Purwokerto terasa hidup untuk warganya, tapi belum sepenuhnya komunikatif bagi pendatang. Ia berjalan normal, seolah tidak ada yang perlu disesuaikan ketika wisatawan datang.

Tulisan ini bukan keluhan, apalagi serangan. Ini lebih seperti catatan dari orang luar yang cukup dekat, bukan warga tapi juga bukan orang asing. Purwokerto punya semua bahan untuk menjadi kota wisata yang ramah dan berkesan. Yang dibutuhkan mungkin bukan pembangunan besar, melainkan penyusunan cerita, bagaimana kota ini ingin dialami oleh orang yang baru pertama datang. Karena kota wisata bukan hanya soal tempat yang ada, tapi juga tentang bagaimana kota itu menyapa.

Penulis: Akhmad Alhamdika Nafisarozaq
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Purwokerto Adalah Daerah Paling Aneh karena Bukan Kota, Kurang Pas Disebut Kabupaten, Apalagi Menjadi Kecamatan. Maunya Apa, sih?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Februari 2026 oleh

Tags: banyumasbaturradenpurwokertopurwokerto kota wisataStasiun Purwokerto
Akhmad Alhamdika Nafisarozaq

Akhmad Alhamdika Nafisarozaq

Mahasiswa kabupaten yang sering pulang untuk mengamati rumah sendiri yang perlahan berubah.

ArtikelTerkait

Lebih Beringas dengan Umpatan Khas Banyumas. Terminal Mulok #07 mojok.co/terminal

Lebih Beringas dengan Umpatan Khas Banyumas. Terminal Mulok #07

18 Maret 2021
Purwokerto, Kota Pensiunan yang Kehilangan Sisi Eksotisnya (Unsplash) jalan satu arah

Purwokerto, Kota Pensiunan yang Makin Kehilangan Identitasnya sebagai Kota Tua yang Eksotis

10 Oktober 2023
4 Pekerjaan di Purwokerto yang Punya Prospek Cerah

4 Pekerjaan di Purwokerto yang Punya Prospek Cerah

14 September 2025
3 Keistimewaan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto yang Tak Dimiliki Kampus Lain

3 Keistimewaan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto yang Tak Dimiliki Kampus Lain

27 Mei 2025
Purwokerto, Purwakarta, Purworejo- Dilema karena Sebuah Nama (Unsplash.com)

Purwokerto, Purwakarta, Purworejo: Dilema karena Sebuah Nama

8 Agustus 2022
Alasan Saya Lebih Nyaman Belanja di Pasar Manis Purwokerto daripada Pasar Tradisional Lain Mojok.co

Alasan Saya Lebih Nyaman Belanja di Pasar Manis Purwokerto daripada Pasar Tradisional Lain

22 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap Sekretariat UKM Kampus: Ketika Ruang Kerja Bergeser Menjadi Ruang Pribadi

Sisi Gelap Sekretariat UKM Kampus: Ketika Ruang Kerja Bergeser Menjadi Ruang Pribadi

7 Juni 2026
4 Catatan untuk Pemkab Bangkalan Madura agar Program Satu Desa Satu Sarjana Tidak Sia-Sia Mojok.co

4 Catatan untuk Pemkab Bangkalan Madura agar Program Satu Desa Satu Sarjana Tidak Sia-Sia

10 Juni 2026
6 Alasan Kebumen Lebih Menarik daripada yang Terlihat di Brosur dan Dibayangkan Banyak Orang Mojok.co

6 Alasan Kebumen Lebih Menarik daripada yang Terlihat di Brosur dan Dibayangkan Banyak Orang

7 Juni 2026
Debu Jalur Pantura Kendal Makin Meresahkan Pengendara Motor, Sebaiknya Sedia Masker kalau Nggak Mau Sesak Napas Terminal

Debu Jalur Pantura Kendal Makin Meresahkan Pengendara Motor, Sebaiknya Sedia Masker kalau Nggak Mau Sesak Napas

9 Juni 2026
Orang Kampung yang Punya Jabatan di Tempat Kerjanya Sering Lupa kalau Tetangga di Tempat Tinggalnya Bukan Bawahan

Orang Kampung yang Punya Jabatan di Tempat Kerjanya Sering Lupa kalau Tetangga di Tempat Tinggalnya Bukan Bawahan

6 Juni 2026
Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Para Pengendara Motor di Jogja Itu Terkenal dengan Santainya, kecuali Orang Bantul Selatan

9 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.