Punya Cartridge Canon Tipe 810 dan Tipe 811 Bekas Original? Jangan Dibuang!   – Terminal Mojok

Punya Cartridge Canon Tipe 810 dan Tipe 811 Bekas Original? Jangan Dibuang!  

Artikel

Saya pernah bingung sama benda yang namanya printer. Pertama kali membeli printer, ketika usaha jualan online saya baru dimulai. Biar pun dikata cuma pedagang online kecil-kecilan, saya tetap butuh benda itu buat mencetak label pengiriman dari marketplace.

Waktu itu, saya membeli printer Canon IP2770 sudah termasuk cartridge: 810 untuk yang hitam dan 811 untuk yang warna. Setelah satu bulan dipakai, tintanya habis. Tentu saja, saya coba gunakan jasa isi ulang tinta di sekitaran rumah saya. Harga jasa isi ulangnya: Rp15.000 buat cartridge hitam dan Rp20.000 buat cartridge warna.

Kebingungan saya dimulai dari sini. Cartridge yang sudah diisi ulang tersebut tidak bisa terdeteksi oleh printer. Saya pun kemudian konsultasi ke mas-mas penyedia jasa isi ulang itu. Katanya, kalau cartridge Canon yang nggak terdeteksi, cuma membutuhkan reset manual aja. Agar cartridge bisa kembali terdeteksi lagi oleh printer.

Caranya, tekan dan tahan tombol resume/stop pada printer kurang lebih selama 10 detik. Lalu lepas. Lakukan sekali lagi kalau di monitor komputer masih muncul gambar yang menunjukan cartridge tidak terdeteksi. Dengan begitu masalah akan selesai.

Benar saja, setelah saya browsing, cara buat me-reset cartridge printer Canon sudah banyak diulas dan beredar di blog ataupun chanel YouTube. Tapi saya masih bingung. Kenapa gitu, indikator tintanya tetap kebaca kosong meskipun sudah diisi ulang. Beruntung, dengan telaten Mas-masa refill tinta menjelaskan lagi.

Baca Juga:  Bagi Orang Boyolali, Bandara Adi Soemarmo Solo Itu Alun-alun

Jadi, walaupun sudah diisi, indikator di monitor akan tetap terbaca kosong. Hal itu berlaku buat cartridge yang sudah diisi ulang. Sebab penyedia jasa refill tinta, cuma melakukan pengisian tintanya doang. Kalau soal indikator, bekerja berdasarkan sirkuit yang ada di cartridge. Sudah bawaan dari pabrik, gitu.

Jadi nggak bisa diotak-atik. Kalau indikatornya sudah kosong, ya sudah, nggak bisa dinaikan jadi full lagi. Kalau mau indikatornya bekerja, jangan diisi ulang. Beli lagi aja yang original. Kata penyedia jasa isi ulang, abaikan aja hal itu. Toh selama cartridge ada tintanya dan sirkuitnya nggak putus, printer tetap akan bisa bekerja dengan normal.

Oke beres. Saya jadi tercerahkan. Soal indikator bukanlah sebuah kebingungan lagi. Ibarat kita naik motor yang indikator bensinnya rusak, motor tetap bisa jalan. Kan yang penting ada bensinnya. Yang penting ada tintanya. Dan yang penting lagi, keberadaan cartridge di dalam printer bisa terdeteksi.

Kebingungan saya muncul lagi. Lah terus, kalau indikator tinta di printer tetap terdeteksi kosong, bagaimana caranya saya bisa tahu kalau sewaktu-waktu tinta habis atau kering? Pertanyaan ini saya layangkan kepada penyedia jasa refill tinta. Dan dari bertanya itu, saya mendapat jawaban yang saya inginkan.

Caranya, bisa dicek berat isi cartridge tersebut. Untuk tipe 810 hitam berat isinya kurang lebih 35-38 gram, berat kosongnya kurang lebih 25-27 gram. Untuk tipe 811 warna berat isinya 38-40 gram dan berat kosongnya 26-28 gram. Tergantung daya serap busa yang ada di dalam cartridge. Semakin sering diisi, daya serap akan semakin berkurang.

Baca Juga:  Punya Printer di Rumah Adalah Bentuk Kemubaziran

Kebetulan saya punya timbangan digital di rumah, jadi buat mengecek berat isi cartridge bukanlah hal yang sulit. Semua ini terkesan ribet yah?

Iya, ribet! Tapi saya suka. Semua ini saya tempuh demi kehematan. Dengan begini saya bisa hemat sekitar Rp375.000 tiap bulannya. Bayangkan, kalau tiap bulan saya mesti beli sepasang cartridge original yang baru dengan harga Rp190.000 buat yang hitam dan Rp220.000 buat yang warna, tentu saja keuntungan dari jualan online bisa berkurang. Pastinya saya akan memilih jalan isi ulang dengan biaya Rp35.000 tiap bulannya.

Oh iya, FYI aja nih. Saya dengar kabar dari tukang refill itu, bahwa cartridge tipe 810 dan 811 bisa dijual kembali dalam keadaan kosong. Jualnya tentu saja ke toko refill tinta. Bukan ke tukang loak. Harga jualnya lumayan berharga untuk sebuah cartridge bekas, yakni Rp70.000 untuk yang hitam dan cartridge warna Rp80.000. Jadi kalau jual sepasang, bisa lah dapat Rp150.000. Wah, cuan banget kan~

Tapi ada syaratnya; cartridge musti original, belum pernah diisi ulang, dan kondisi cartridge mesti bagus. Misalnya gini, saya baru beli cartridge original dengan harga yang cukup mahal itu. Lalu setelah sebulan dipakai, tintanya udah habis. Begitu habis, cartridge bekas itu bisa langsung dijual.

Nah, buat kamu konsumen cartridge Canon 810-811 yang anti refill-refill club, jangan dikemana-manain deh kalau cartridge-nya habis dipakai. Jual aja, jangan dibuang ke tempat sampah. Lumayan cuan banget ini, apalagi kalau kamu punya 3 pasang. Tinggal dikalikan aja. Hehehee~

Baca Juga:  Plis Banget nih, Jangan Mencuci Sepeda Motor di Sungai

Buat saya konsumen tinta yang lebih suka diisi ulang, harga segitu tetap nggak menggiurkan. Meskipun uangnya bisa buat nambahin beli cartridge original lagi, sih. Tapi kalau saya hitung-hitung, tetap aja masih lebih hemat isi ulang daripada beli baru.

Jadi, kalau kamu punya Carttidge Canon Tipe 810 dan Tipe 811 Bekas Original? Mau diisi ulang atau dijual? Monggo~

BACA JUGA Bandingin Yamaha All New X-Ride 125 VS Honda BeAT Street, Pilih Mana? dan tulisan Allan Maullana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.