Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pungli di Makam Sunan Gunung Jati Cirebon Adalah Bentuk Kebobrokan Pemerintah Daerah

Muhamad Riski Syarifudin oleh Muhamad Riski Syarifudin
1 Oktober 2025
A A
Pungli di Makam Sunan Gunung Jati Cirebon Adalah Bentuk Kebobrokan Pemerintah Daerah

Pungli di Makam Sunan Gunung Jati Cirebon Adalah Bentuk Kebobrokan Pemerintah Daerah (Midori via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai orang Cirebon, saya malu ada pungli berkedok sedekah di Makam Sunan Gunung Jati.

Pungli rasanya sudah menjadi penyakit kronis di indonesia. Ia dibasmi hari ini dan akan muncul beberapa hari kemudian. Tak peduli berapa kali dibasmi, ia akan tumbuh kembali dengan subur.

Bentuknya pun macam-macam, ada yang berkedok sedekah, iuran keamanan, sampai acara pengajian dan pembangunan masjid. Saya curiga pelaku pungli ini semacam virus yang dapat berkembang biak dengan cepat, tak mengenal ancaman dan tak peduli risiko. Lebih canggih dari virus Corona.

Hal serupa juga terjadi di Makam Sunan Gunung Jati Cirebon. Masalah yang sudah lama berlarut-larut di tempat ziarah ini bahkan pernah disorot oleh Kang Dedi Mulyadi. Tapi nyatanya, hingga hari ini, persoalan itu tak pernah benar-benar tuntas.

Kini para pelaku pungli kembali dengan tampang tak berdosa, memaksa dengan embel-embel sedekah. Menarik baju peziarah yang lewat tak peduli laki-laki ataupun perempuan. Jelas ini tindakan yang perlu diberikan sanksi tegas. Karena sebagai warga asli Cirebon, saya ikut malu sekaligus kesal karena citra kota saya ikut tercoreng.

Pelaku pungli di Makam Sunan Gunung Jati Cirebon bukan pribumi

Rumah saya hanya berbeda kecamatan dengan kompleks Makam Sunan Gunung Jati. Sepuluh menit kalau naik motor, dua jam setengah kalau jalan kaki. Saya tak berbohong, karena saya pernah melakukannya, meskipun berakhir dengan dengkul lemes.

Dari hasil ngobrol dengan beberapa warga sekitar makam dan teman yang tinggal di desa tersebut, saya baru tahu kalau banyak pelaku pungli berkedok sedekah itu ternyata bukan warga pribumi. Beberapa bahkan berasal dari kota lain, seperti Indramayu.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya. Kok bisa mereka melakukan pungli dengan bebas di tempat sakral seperti ini?

Baca Juga:

Lumajang Sangat Tidak Cocok Jadi Tempat Slow Living: Niat Ngilangin Pusing dapatnya Malah Sinting

Yang Membunuh UMKM Itu Bukan Indomaret atau Alfamart, Tapi Parkir Liar dan Pungli

Pemerintah desa dan abdi dalem keraton tidak serius

Salah satu alasan utama menjamurnya pungli ini adalah tidak adanya tindakan tegas dari pemerintah daerah Cirebon dan abdi dalem keraton. Padahal mereka memliki kewenangan untuk menertibkan siapa pun yang membuat resah para peziarah.

Kalau niatnya benar-benar ingin meminta sedekah pembangunan, seharusnya cukup dengan meletakkan kotak amal di setiap sudut yang banyak dilalui peziarah. Bukan malah memaksa dan membuntuti setiap peziarah di Makam Sunan Gunung Jati sembari menarik baju dengan wajah suramnya itu.

Seorang pedagang setempat pernah bercerita pada saya kalau pelaku pungli terorganisir dalam satu paguyuban. Lebih mengejutkan lagi, paguyuban ini memberikan semacam setoran kepada pihak keraton dan aparatur desa. Hal ini sudah menjadi rahasia umum bagi warga sekitar. Kalau begitu, wajar saja perilaku pungli ini masih subur sampai sekarang.

Sebagai warga lokal, saya pun tak lolos dari pungli

Beberapa kali saya dan teman saya pun pernah dibuntuti oleh orang-orang ini di Makam Sunan Gunung Jati. Mereka meminta sedekah, dan meski sudah menolak, mereka kekeuh sambil ngomong, “Cuma 2 ribu masa nggak ada sih, Mas?”

Mendengar itu, teman saya berbalik dan menjawab dengan nada tinggi, “Kalau gue nggak mau ngasih gimana? Lu mau apa?” tentunya dengan logat khas Cirebon. Mereka pun akhirnya pergi, dan tak mengekor lagi. Kadang memang harus sepeti itu. Tegas, supaya mereka jera dan tak membuat risih para pengunjung lagi.

Kalau orang Cirebon saja diperlakukan seperti itu, apalagi peziarah yang datang jauh dari luar provinsi dan membawa banyak rombongan. Tentu menjadi mangsa empuk bagi serigala berbulu domba ini.

Saya malu sebagai warga cirebon. Bukan cuma karena nama kota Cirebon jadi tercoreng, tapi juga cibiran di media sosial sering kali salah sasaran. Bahkan menyasar ke nama besar Sunan Gunung Jati itu sendiri.

Pernah juga, ketika saya pergi ke luar kota dan menyebut tempat tinggal saya yang dekat dengan Makam Sunan Gunung Jati, orang-orang langsung menanyakan soal pungli. Saya hanya bisa mengangguk, merasa malu, dan diam-diam merutuk

Tips bagi yang hendak berziarah ke Makam Sunan Gunung Jati Cirebon

Bagi yang ingin berziarah ke Makam Sunan Gunung Jati Cirebon, saya punya beberapa saran.

Pertama, hilangkan rasa iba. Saat itu, jangan mudah tergerak oleh belas kasihan, karena mereka yang melakukan pungli tak pantas diberi iba, lebih cocok dilempar ke kandang buaya.

Kedua, bersikaplah tegas. Mereka paham betul raut wajah orang yang bisa mereka peras. Jadi, tunjukkan wajah tegas, jangan ragu, dan jangan takut. Apalagi sampai memasang wajah linglung bangun tidur.

Ketiga, tebal kuping dan pura-pura budeg. Saat dibuntuti atau dihadang, abaikan saja seolah-olah tidak ada orang. Lama-lama mereka akan lelah sendiri dan beralih mencari korban lain.

Sebagai warga Cirebon, saya sangat berharap pungli berkedok sedekah ini segera diberantas total. Jangan sampai masyarakat enggan berziarah dan akhirnya memberi label buruk pada Makam Sunan Gunung Jati. Lebih parah lagi, jangan sampai Cirebon dikenal sebagai “kota pungli”. Itu jelas akan mencoreng warisan budaya dan sejarah luhur yang seharusnya kita jaga bersama.

Penulis: Muhamad Riski Syarifudin
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kota Cirebon Cocok untuk Orang-orang Mager yang Ingin Berwisata.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2025 oleh

Tags: cirebonkota cirebonmakam sunan gunung jatipunglitempat ziarahwisata cirebonwisata ziarahziarah
Muhamad Riski Syarifudin

Muhamad Riski Syarifudin

Mahasiswa UIN yang tidak islami, penggemar one piece. Tinggal di Cirebom yang membawa keresahan dari kaki gunung hingga ke meja tulis.

ArtikelTerkait

Indramayu mojok.co

Suka Duka Mahasiswa Asal Indramayu, dari Dianggap Norak Sampai Ngaku dari Cirebon

4 Juli 2020
Jadi Pengusaha Bagus, Jadi Karyawan ya Nggak Apa-apa, wong Sama-sama "Dihajar" oleh Keadaan

Jadi Pengusaha Bagus, Jadi Karyawan ya Nggak Apa-apa, wong Sama-sama “Dihajar” oleh Keadaan

19 November 2024
Suku Sunda Nggak Kuat Merantau Itu Anggapan Sesat (Unsplash)

Benarkah Orang Suku Sunda Nggak Punya Nyali untuk Merantau seperti Suku Lain?

28 Oktober 2023
Ciayumajakuning: Kawasan yang Sudah Layak Jadi Provinsi Sendiri

Ciayumajakuning, Kawasan yang Sudah Layak Jadi Provinsi Sendiri

19 Maret 2024
Orang Cirebon Terlalu Jawa untuk Disebut Sunda, Terlalu Sunda untuk Disebut Jawa Mojok.co

Orang Cirebon Terlalu Jawa untuk Disebut Sunda, Terlalu Sunda untuk Disebut Jawa

12 Januari 2024
4 Pekerjaan di Bogor yang Menjanjikan dan Bikin Cepat Kaya

4 Pekerjaan di Bogor yang Menjanjikan dan Bikin Cepat Kaya

27 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Kasta Teratas Varian Sari Roti yang Rasanya Tidak Pernah Mengecewakan Mojok.co

4 Kasta Teratas Varian Sari Roti yang Rasanya Tidak Pernah Mengecewakan

25 Januari 2026
Bayu Skak dan Film Ngapak Banyumas: Mengangkat Martabat atau Mengulang Stereotipe Buruk?

Bayu Skak dan Film Ngapak Banyumas: Mengangkat Martabat atau Mengulang Stereotipe Buruk?

26 Januari 2026
6 Tips Makan Soto Ayam Jalan Bank H. Loso Purwokerto Agar Makin Nikmat Mojok.co

6 Tips Makan Soto Ayam Jalan Bank H. Loso Purwokerto agar Makin Nikmat

26 Januari 2026
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Kalau Saya Nggak Merantau ke Sidoarjo, Saya Nggak Tahu 3 Sisi Gelap Sidoarjo Ini

26 Januari 2026
Mengapa Nasi Berkat Tahlilan Terasa Nikmat padahal Lauknya Sederhana?

Mengapa Nasi Berkat Tahlilan Terasa Nikmat padahal Lauknya Sederhana?

28 Januari 2026
5 Cacat Pikir yang Orang Percayai tentang Cleaning Service, Pekerjaan yang Kerap Dipandang Sebelah Mata (Gil Ribeiro via Unsplash)

5 Cacat Pikir yang Orang Percayai tentang Cleaning Service, Pekerjaan yang Kerap Dipandang Sebelah Mata

30 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah
  • Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS
  • Sasar Sekolah, Ratusan Pelajar di Bantul Digembleng Kesiagaan Hadapi Gempa Besar

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.