Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Lumajang Sangat Tidak Cocok Jadi Tempat Slow Living: Niat Ngilangin Pusing dapatnya Malah Sinting

Ferika Sandra oleh Ferika Sandra
19 Desember 2025
A A
Lumajang Bikin Sinting. Slow Living? Malah Tambah Pusing (Unsplash)

Lumajang Bikin Sinting. Slow Living? Malah Tambah Pusing (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari yang lalu, Mas Akbar Mawlana mengungkapkan pikirannya. Dia tidak setuju dengan Mbak Firda yang menjadikan Mojokerto sebagai tempat paling cocok untuk slow living. Menurut Mas Akbar, yang paling cocok adalah Lumajang.

Menurut saya, terlepas dari statusnya sebagai putra daerah, Mas Akbar seharusnya seimbang dalam menyampaikan kekurangan Lumajang sebagai tempat slow living. Sehingga, pembaca tidak seperti “membeli kucing dalam karung”. Niat pilih daerah buat hidup slow living biar ngilangin pusing, eh pas udah dapat, malah jadi sinting.  

Jujurly, Lumajang masih salah satu daerah “merah” setiap saya pulang dari Malang ke Banyuwangi motoran. Orang tua saya selalu mengingatkan untuk tidak melintas di daerah ini ketika malam hari. Alasannya tentu saja resiko kejahatan dan beragam tindakan kriminal.

Jadi saya sangat terkejut saat membaca tulisan mengenai Lumajang jadi alternatif lebih baik dari Mojokerto untuk jadi tempat slow living. Lantaran Mas Akbar tidak menyajikan argumentasi soal kekurangan daerah ini, berikut saya uraikan kenyataan yang bisa jadi pedoman kalian berpikir ulang.

Lingkungan Lumajang lebih menakutkan dari Mojokerto

Mas Akbar menyebut lingkungan Mojokerto itu menakutkan karena kualitas udaranya. Nah, di Lumajang, malah jauh lebih ngeri lagi. Utamanya karena angka kejahatan jalanannya. 

Memang, saya akui, kualitas udara yang buruk bisa mengancam kesehatan. Tapi jangan lupa begal jalanan lebih berbahaya bagi warga.

Sangking bahayanya begal di Lumajang, pelaku sudah tidak menunggu malam untuk melakukan aksinya. Ini kejadian sepekan lalu di mana Aiptu Kurniawan anggota polisi yang berniat menggagalkan aksi begal di Jalan Gajah Mada justru diserang oleh pelaku di siang hari.  Bayangkan bagaimana mau slow living kalau nyawa jadi taruhannya.

Lumajang FTL!

Jangan menghitung konsep slow living hanya dari argumentasi murahnya makanan yang di jual. Atau, jangan hanya mempertimbangkan gaya santai warganya yang nggak “nyusu-nyusu”. Semua itu masih bisa diperdebatkan. 

Baca Juga:

Mal-Mal Jombang Kelewat Jadul Bikin Warlok Lebih Senang Ngemal di Mojokerto atau Kediri

Nelangsanya Jadi Warga Jawa Timur, Belum Genap 6 Bulan, Sudah Banyak Pemimpinnya Tertangkap KPK

Namun, kita juga perlu membuka mata perihal aspek keamanan barang. Okelah, di sini dengan uang Rp15 ribu sudah bisa nongkrong di kafe. Atau beli nasi mulai Rp7 ribu bisa buat kenyang seharian.

Namun, yang Mas Akbar lupa, tingkat pencurian di Lumajang itu sangat tinggi, Mas. Ingat kan kejadian Agustus 2025 lalu saat kampus UNEJ dan beberapa kampus lain menarik mahasiswa yang KKN di Lumajang. 

Ya, lagi-lagi, angka kejahatan jadi alasan. Kabarnya, langkah itu dilakukan kampus karena imbas maraknya kasus pencurian motor. KKN, yang hitungan bulan aja tidak kuat lho mas, ini mau slow living bisa sampai kapan coba kalau tiap hari khawatir jadi korban pencurian.

Nyari wisata nggak sulit, tapi…

Di akhir tulisan, Mas Akbar sempat menyinggung soal wisata. Saya akui dan saya setuju daerah ini punya potensi wisata yang cukup besar. 

Tapi sayang, pengelolaan yang kurang maksimal membuat wisatawan banyak dirugikan. Kebetulan saya beberapa kali sempat merasakan pengalaman yang tidak mengenakan. 

Paling paripurna pengalaman saat berkunjung ke Air Terjun Tumpak Sewu. Dan itu titik balik saya kapok buat berwisata ke Lumajang.

Bagaimana nggak kapok. Saya datang niat untuk menikmati alam malah “dipalak” berulang-ulang. Setahu saya, tiket masuk di tempat wisata ya di loket depan. Nah, di Air Terjun Tumpak Sewu, ada tiga pos berbeda yang menarik duit masuk.

Setelah saya cek, tiket yang diberikan ternyata tidak resmi. Otomatis, itu masuk kantong pribadi dong. Ya, lagi-lagi pungli terjadi di tempat wisata nyaris tanpa solusi. 

Jadi, jika Mas Akbar menyebut harga tiketnya murah memang tidak salah. Tapi oknum yang mencari celah untuk pungli itu melimpah Mas. Jadi tetap murah atau mahal ya?

Terakhir, makna membahagiakan diri itu selalu berkaitan dengan ketenangan. Jika memilih tempat slow living di Lumajang saya kira malah akan meningkatkan kecemasan. 

Jangan membayangkan kedamaian bakal jadi teman di sini. Niat awal ngilangin pusing dapatnya malah sinting.

Penulis: Ferika Sandra

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Bukan Mojokerto, tapi Lumajang yang Layak Menjadi Tempat Slow Living Terbaik di Jawa Timur

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Desember 2025 oleh

Tags: Air Terjun Tumpak Sewubegal lumajangjawa timurLumajangMojokertopungli
Ferika Sandra

Ferika Sandra

Seorang pustakawan dari Kota Malang yang mencoba menulis untuk menertibkan pikiran. Gemar dengan isu-isu literasi dan kebudayaan.

ArtikelTerkait

Starter Pack Nonton Jember Fashion Carnaval 2023 biar Nyaman dan Asyik

Starter Pack Nonton Jember Fashion Carnaval 2023 biar Nyaman dan Asyik

4 Agustus 2023
Taman Apsari Surabaya, Pusat Peradaban Muda-Mudi Menandingi Jalan Tunjungan. No Apsari, No Party!

Taman Apsari Surabaya, Pusat Peradaban Muda-Mudi Menandingi Jalan Tunjungan. No Apsari, No Party!

2 April 2024
‎Sisi Gelap Kapal Penyeberangan, Sudah Bayar Mahal tapi Masih Kena Pungli di Dalam Kapal!

‎Sisi Gelap Kapal Penyeberangan, Sudah Bayar Mahal tapi Masih Kena Pungli di Dalam Kapal!

26 Mei 2025
Pacet Mojokerto, Tempat Terbaik untuk Menikmati Masa Tua (Unsplash) trawas, cangar

Panduan bagi Awam untuk Memahami Pacet, Trawas, dan Cangar, biar Nggak Salah Jalur kalau Mau Healing

15 November 2025
Keresahan yang Saya Rasakan Selama Tinggal di Kecamatan Bumiaji Kota Batu

Keresahan yang Saya Rasakan Selama Tinggal di Kecamatan Bumiaji Kota Batu

11 April 2023
Cara Saya Jelaskan Letak Kabupaten Lumajang biar Mudah Dipahami

Anomali Lumajang: Punya Banyak Tempat Wisata, tapi Banyak yang Nggak Tahu Lumajang di Mana

2 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Saya Menemani Anak 3 Tahun untuk Sunat (Unsplash)

Pengalaman Saya Sebagai Bapak Milenial Mengalahkan Rasa Takut untuk Menemani Anak Sunat di Usia 3 Tahun

29 Mei 2026
Soto, Kuliner Solo Bukan Makanan, tapi Jimat Bertahan Hidup (unsplash)

Soto, Warisan Budaya di Khazanah Kuliner Solo yang Tidak Lagi Dianggap Makanan, tapi Cara Bertahan Hidup

31 Mei 2026
3 Alasan Mengapa Teror Pocong Tidak Akan Laku di Jogja, Klitih Lebih Nyata dan Lebih Mengerikan ketimbang Pocong Palsu!

3 Alasan Teror Pocong Tidak Akan Laku di Jogja, Klitih Lebih Nyata dan Lebih Mengerikan ketimbang Pocong Palsu!

26 Mei 2026
Ketika Jogja Menampar Orang Makassar yang Sedang Merantau (Unsplash)

Culture Shock Orang Makassar ketika Merantau ke Jogja: Ketika Sopan Santun Orang Jogja Lebih Misterius ketimbang Rumus Fisika Kuantum

27 Mei 2026
Niat Cari Ketenangan dengan Naik Sepeda Federal Warisan Bapak Berujung Kesal karena Dicibir Pesepeda Lain Mojok.co

Niat Healing dengan Naik Sepeda Federal Warisan Bapak Berujung Kesal karena Cibiran Pesepeda Lain

27 Mei 2026
4 Pasar Kalcer Jogja yang Bisa Dikunjungi Selain Pasar Ngasem Mojok.co

4 Pasar “Kalcer” yang Bisa Dikunjungi kalau Bosan ke Pasar Ngasem Jogja

29 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.