Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Puncak Megasari Adalah Korban Ambisi Tak Bertanggung Jawab Pemkab Bondowoso. Kalau Nggak Diurus, Mending Ditutup Saja!

Ahmad Dani Fauzan oleh Ahmad Dani Fauzan
29 September 2025
A A
Puncak Megasari Adalah Korban Ambisi Tak Bertanggung Jawab Pemkab Bondowoso. Kalau Nggak Diurus, Mending Ditutup Saja!

Puncak Megasari Adalah Korban Ambisi Tak Bertanggung Jawab Pemkab Bondowoso. Kalau Nggak Diurus, Mending Ditutup Saja! (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Dulunya Puncak Megasari Bondowoso begitu cantik dan rindang, tapi sekarang…

Bondowoso memiliki segudang potensi untuk mengelola kekayaan alamnya sebagai destinasi wisata. Menurut data yang dirilis RRI.co.id, ada sekitar 25 wisata alam yang saat ini dikelola oleh pemerintah. Bagi kota kecil yang punya julukan Kota Tape ini, tentu saja jumlah tersebut tak bisa dibilang sedikit.

Namun sayang seribu sayang. Dari sekian banyak destinasi wisata tersebut, sebagian ada yang diabaikan nasibnya. Dulu, beberapa wisata yang kerap disebut-sebut sebagai primadona, sekarang sudah kehilangan pamornya.

Salah satu destinasi wisata yang bernasib sial tersebut adalah Puncak Megasari Bondowoso. Gunung yang juga dikenal sebagai dinding kaldera Ijen itu kini mengalami nasib tak mujur. Setelah digunakan untuk beberapa event yang digelar pemerintah, Puncak Megasari dibiarkan terbengkalai. Habis manis sepah dibuang.

Sejarah pembukaan lahan Puncak Megasari Bondowoso

Saya nggak bisa lupa tahun 2016 silam ada beberapa orang berbondong-bondong membersihkan puncak gunung dengan ketinggian 1.598 itu. Saya tahu karena puncak tersebut mudah terlihat dari rumah saya yang berada di bawah. Kira-kira, hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai ke Puncak Megasari.

Nggak hanya itu, perkebunan kopi yang letaknya hanya kisaran 300 meter dari rumah saya juga ikut ditebangi. Tempat yang semula penuh dengan rerimbun pohon kopi, waktu itu menjelma tanah kosong yang cukup luas. Persis seperti lapangan sepak bola.

Usut punya usut, kegiatan “penebangan” tersebut dalam rangka dijadikan venue acara Pemkab yang bertajuk nasional hingga internasional. Yang paling saya ingat waktu itu adalah event olahraga paralayang yang mengundang minat paragliding dari segala penjuru negeri. Bahkan saya masih ingat ketika salah seorang turis salah mendarat di atas genteng rumah warga.

Akan tetapi, tahun berganti tahun, event paralayang tak lagi terdengar kabarnya. Tercatat pada tahun 2019, event olahraga paralayang di Puncak Megasari Bondowoso mati total.

Baca Juga:

Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

Membayangkan Jalur KA Kalisat Jember-Bondowoso Aktif Kembali, Pasti Banyak Manfaatnya

Sebenarnya ada beberapa event olahraga yang menggantikan setelahnya. Pada tahun 2021, Puncak Megasari pernah menjadi lokasi event Ijen Geopark Run Exhibiton, hingga Ijen Trail Running yang sempat diikuti oleh 22 negara. Namun, yah, pada akhirnya nggak jauh beda dengan kasus yang pertama.

Dulunya hutan asri sebelum akhirnya menjadi korban ambisi Pemkab

Mungkin kalian pikir Puncak Megasari Bondowoso sudah punya nilai di mata banyak orang, mengingat pernah menjadi lokasi event bertaraf internasional. Sehingga sekarang tentu sangat mudah membranding buat jadi destinasi wisata berkelas. Namun, maaf, pikiran tersebut rupanya sangat jauh di belakang, bahkan berjalan saja belum.

Dan jadilah, sekarang Puncak Megasari tak serindang dulu, nggak dirawat dengan baik. Jujur saya sebagai orang asli daerah Kecamatan Ijen merasa kecewa. Kenapa tempat yang dulunya digadang-gadang sebagai destinasi wisata kelas internasional kini nasibnya “hidup enggan mati tak mau”.

Ketika saya melakukan ekspedisi langsung, sungguh, ini bukan Puncak Megasari yang saya kenal dulu! Sudah nggak bisa dibedakan lagi antara tanah yang lapang dengan tempat sampah. Surau yang semula menjadi tempat sembahyang, sepertinya sudah menjadi sarang jin pesugihan. Jangan tanya kamar mandi, saya nggak berani coba-coba buat melihat keadaannya.

Padahal view yang dapat kita lihat dari Puncak Megasari Bondowoso nggak kaleng-kaleng. Saya berani bilang, bahwa Puncak Megasari nggak kalah daya saingnya dengan Kawah Ijen. Kalau akhirnya Kawah Ijen mau diklaim Banyuwangi sepenuhnya (misal loh ya), saya sih rela-rela saja. Asal jangan Puncak Megasari ini.

Kalau nggak mau diurus, mending ditutup saja dan segera lakukan reboisasi!

Fenomena ini menjadi bukti bahwa Pemkab Bondowoso belum benar-benar menyeriusi bidang pariwisata. Coba, lokasi yang memilik potensi besar seperti ini malah kurang mendapat perhatian.

Kalau saja Pemkab Bondowoso mau serius sedikit, Puncak Megasari bisa menjadi salah satu penyumbang pendapatan asli daerah. Belum lagi ini akan memberi kesempatan pada masyarakat setempat untuk mendapatkan lapangan pekerjaan baru.

Namun, melihat kondisi Puncak megasari sekarang ini, sepertinya jauh dari angan-angan saya yang naif itu. Sebagai warga Bondowoso, saya hanya bisa bilang, kalau nggak mau mengurusi, baiknya ditutup saja. Mending menanam pohon-pohon kembali, buat mengganti yang dulunya pernah ditebang.

Nggak ada kata terlambat. Semuanya masih bisa diperbaiki. Asal mau bergerak cepat, Puncak Megasari Bondowoso bisa mendapatkan pamornya kembali sebagai destinasi wisata kelas nasional hingga internasional. Masalahnya, mau apa nggak?

Penulis: Ahmad Dani Fauzan
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Siasat yang Bisa Diambil Bondowoso supaya Naik Kelas dan Tidak Jadi Kabupaten Medioker.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 September 2025 oleh

Tags: bondowosokabupaten bondowosopemkab bondowosopuncak megasari bondowosowisata alam bondowoso
Ahmad Dani Fauzan

Ahmad Dani Fauzan

Pemuda asal Kota Tape Bondowoso. Tertarik memotret dan merenungi isu sosial. Bercita-cita punya Baitul Hikmah pribadi.

ArtikelTerkait

Wisata Sejarah Bondowoso Lebih Layak Dicintai daripada Jember

Wisata Sejarah Bondowoso Lebih Layak Dicintai daripada Jember

26 Januari 2024
Siasat yang Bisa Diambil Bondowoso supaya Naik Kelas dan Tidak Jadi Kabupaten Medioker Mojok.co

Bondowoso, Kota yang Nggak Kenal Macet, Nggak Bisa Macet, dan Aneh kalau Macet

23 Juni 2025
Bondowoso Nggak Punya Laut, Tapi Menjadi Pusat Ikan Pindang di Jawa Timur (Pixabay)

Belajar dari Bondowoso: Tidak Punya Laut, tapi Menjadi Pusat Ikan Pindang Jawa Timur

21 Mei 2023
Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

26 Februari 2026
Membedah Alasan di Balik Kualitas Kopi Jawa Timur yang Begitu Fantastis

Membedah Alasan di Balik Kualitas Kopi Jawa Timur yang Begitu Fantastis

22 November 2023
hijau boru huruw di Bondowoso mojok

Tidak Ada Warna Hijau dan Huruf ‘W’ di Bondowoso

22 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Advan 360 Stylus: Laptop Lokal yang Bisa Jadi Tablet tapi Kurang Laris di Pasaran

Saya menyesal membeli laptop Advan, sebetulnya niat nggak sih bikin produk lokal yang bagus?

16 Juli 2026
4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi ruang publik yang lebih hidup  Mojok.co

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi jadi daerah lebih hidup 

17 Juli 2026
Fans Ronaldo nangis melihat Messi real GOAT di final Piala Dunia (Unsplash)

Final Piala Dunia yang bikin fans Ronaldo hilang arah: Cemas dukung Messi atau membiarkan fans Barcelona makin besar kepala?

18 Juli 2026
Stadion Gajayana Malang tempat potensial yang bernasib sial Mojok.co

Stadion Gajayana Malang tempat potensial yang bernasib sial

13 Juli 2026
Tahlilan di Sumatera beda dengan Jawa, tidak 7 hari penuh dan dihadiri perempuan Mojok.co

Tahlilan di Sumatera beda dengan di Jawa, tidak 7 hari penuh dan dihadiri perempuan

13 Juli 2026
Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

17 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.