Puisi Letto di Video Klip 'Permintaan Hati' Terkesan Jahat dan Maksa – Terminal Mojok

Puisi Letto di Video Klip ‘Permintaan Hati’ Terkesan Jahat dan Maksa

Artikel

Avatar

Puisi berikut adalah puisi yang diselipkan pada video klip lagu “Permintaan Hati” milik grup asal Jogja, Letto. Silakan dihayati dulu.

Untuk Marsha cahayaku
Nggak ada kata yang bisa aku sampaikan
Selain maaf dan terima kasih
Sudah memberikan arti di hidupku yang sempit ini
Aku harus pergi
Bukan meninggalkanmu
tapi hanya terlepas darimu
Jika kamu yakin akanku
maka memang inilah cara yang terbaik
untuk di jalankan 

Seorang teman pernah mengatakan bahwa pada waktu video klip dari lagu “Permintaan Hati” ini dirilis, dia merasa kalimat-kalimat pada puisi di atas sangatlah uwu dan membuat hati berdenyut karena membayangkan seseorang menuliskan puisi cinta untuknya.

Tapi, pernahkah kita membayangkan betapa jahatnya mas-mas dalam puisi itu?

 Aku harus pergi
Bukan meninggalkanmu
Tapi hanya terlepas darimu

Ditinggal pergi memang menyakitkan, tapi yang penting masih pamitan. Sebab, sejengkel-jengkelnya ditinggal pergi adalah ditinggal pergi tanpa pesan.

Setelah pamitan, masnya ini mulai ngasih alasan. “Bukan untuk meninggalkanmu, tapi hanya terlepas darimu”, katanya.

Udah ninggalin, malah nyari alasan seolah mbaknya yang salah dan bikin masnya itu terperangkap dalam sesuatu yang membuat dia menderita.

Mungkin memang mereka ini berada dalam hubungan yang kalau kata anak sekarang dibilang toxic relationship. Tapi, kok ya jujur banget to, Mas?

Tiga kalimat di atas masih belum ada apa-apanya sama kalimat selanjutnya.

Jika kamu yakin akanku
maka memang inilah cara yang terbaik
untuk di jalankan 

Di tiga kalimat di atas seolah-olah masnya mau bilang, “Kalau kamu suka sama aku ya lepasin, kalau nggak mau ngelepasin berarti kamu nggak beneran suka sama aku.”

Kalau dikasih pilihannya kaya gitu, mbaknya mau gimana lagi selain ikhlas masnya pergi ninggalin dia? Bukan, bukan ninggalin. Tapi, harus rela masnya lepas dari dia, apa pun hal yang membuat masnya ini merasa dikekang dan berniat kuat untuk lepas dari mbaknya ini.

Seandainya mas dan mbaknya ini memang berada di dalam hubungan yang hubungan simbiosis parasitisme, nggak bisa dimungkiri kelihatannya juga mereka berdua ini sangat saling mencintai. Bisa dilihat dari masnya yang menyebut Mbak Marsha ini sebagai cahayanya.

Berarti kan masnya selama ini juga merasa “terang” dengan keberadaan Mbak Marsha di sampingnya. Selain itu masnya juga bilang kalau Mbak Marsha sudah memberikan arti di dalam hidupnya yang sempit.

Mungkin akan banyak orang beranggapan kalau kata “sempit” sendiri mengartikan bahwa si mas ini punya penyakit atau yang lainnya, tapi kalau menurut saya sih ya hidup kan memang sempit. Fana. Sementara.

Dan dalam kehidupan di dunia yang hanya sementara ini, Mbak Marsha sudah berhasil memberikan arti buat si mas. Walaupun pada akhirnya masnya merasa terkekang dan ingin lepas.

Bayangkan seandainya Mbak Marsha tetap ngotot untuk nggak mau ditinggalin, akan seperti apa jalan cerita dalam puisi ini?

Yang bikin saya nggak bisa sepenuhnya nyalahin Mbak Marsha adalah karena masnya ini juga bilang maaf, selain berterima kasih karena sudah menjadi cahaya dan membuat hidup si mas berarti.

Mungkin masalahnya bukan sepenuhnya dari Mbak Marsha. Mungkin dia memang membuat masnya terkekang, tapi dia bisa jadi punya alasan untuk itu.

Nggak mau masnya diambil orang misalnya. Sebab kita tahu sendiri bagaimana mudahnya mas-mas zaman sekarang merelakan dirinya diambil orang. Kalau memang kesalahan sepenuhnya adalah milik Mbak Marsha, kenapa dia mesti minta maaf?

Jadi, apa sebenarnya yang dilakukan oleh Mbak Marsha sampai-sampai si mas ini merasa seperti itu? Apakah Mbak Marsha selalu nggondheli ke mana pun masnya pergi? Atau si mbak ini terlalu glowing dan membuat masnya merasa selalu diterangi dan pada akhirnya matanya silau dan nggak tahan lagi?

Yang jelas, semoga Mbak Marsha saat ini bahagia, baik bersama dengan seseorang atau pun tidak. 

Bagi teman saya, selipan puisi di lagu “Permintaan Hati” milik Letto memang uwu. Tapi, bagi saya puisi ini seperti kumpulan puzzle misteri yang merajuk untuk dirangkai satu demi satu. Siapa Mbak Marsha, kenapa dia kemudian dibikinkan puisi, apa salah dia sehingga masnya harus “melepas” walau tidak meninggalkan. Duh, cinta… cinta….

BACA JUGA Tafsir Sufistik Lagu-lagu Letto. Dialog Intim nan Mesra Antara Hamba dan Tuhannya dan tulisan Lilis Wiyatmo lainnya.

Baca Juga:  Aku Masuk Ruang BK, Maka Aku Nakal
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
10


Komentar

Comments are closed.