Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
19 Januari 2026
A A
Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama publikasi jurnal

Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu, saya sempat menuliskan pengalaman saya ketika masih semester tiga dan sudah diminta dosen untuk melakukan publikasi jurnal. Saat itu, alasannya demi nilai. Tidak ada subsidi dana, tidak ada penjelasan mendalam soal proses, yang ada hanya tuntutan. Sebagai mahasiswa awal, saya nurut. Tidak paham betul, tapi takut nilai.

Saya kira pengalaman itu berhenti di sana. Ternyata tidak.

Menjelang kelulusan, tepatnya setelah saya menyelesaikan skripsi, sidang, dan nilai sudah diumumkan, saya kembali dihadapkan pada permintaan serupa. Dosen meminta saya membuat artikel jurnal dari skripsi saya. Alasannya terdengar “baik” untuk keperluan kelulusan dan nilai sudah pasti A kalau tembus publikasi jurnal.

Awalnya saya bingung. Saya sudah lulus. Sidang sudah selesai. Nilai sudah keluar. Lalu publikasi ini sebenarnya untuk apa?

Di sisi lain, saya berpikir positif. Mempublikasikan skripsi saya itu bagaimanapun juga adalah hal yang bagus.  Itu karya saya. Saya menulisnya dari nol, riset sendiri, revisi sendiri, begadang sendiri. Tapi, saya mengiyakan. Saya anggap ini kesempatan baik sekalian belajar dunia publikasi ilmiah dengan lebih serius.

Lalu, saya menyiapkan artikelnya. Saya kirim ke dosen pembimbing. Beberapa hari kemudian, beliau membalas jika artikelnya sudah bagus, hanya perlu sedikit perbaikan.

Saya lega. Sampai saya membaca kalimat berikutnya. Beliau meminta saya agar nama beliau dicantumkan sebagai penulis.

Di situ saya kaget. Bukan kaget kecil. Tapi benar-benar bingung.

Baca Juga:

Dosen Seenaknya Nyuruh Mahasiswa untuk Publikasi Jurnal, padahal Uang Mahasiswa Cuma Dikit dan Nggak Dikasih Subsidi Sama Sekali

Jujur, Saya sebagai Mahasiswa Kaget Lihat Biaya Publikasi Jurnal Bisa Tembus 500 Ribu, Ditanggung Sendiri Lagi

Kok dosen yang jadi pengarangnya?

Artikel itu saya tulis sendiri. Datanya dari skripsi saya. Penelitiannya saya kerjakan sendiri. Saya tidak mempermasalahkan bimbingan itu memang tugas dosen. Tapi kepengarangan adalah hal lain. Yang membuat saya makin heran, alasannya bukan karena kontribusi ilmiah tambahan, melainkan “Kalau nama saya tidak ada, nanti artikelnya tidak bisa diakses.”

Jujur, alasan itu terdengar aneh bagi saya. Setahu saya, akses jurnal tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya nama dosen tertentu. Apalagi kalau alasannya hanya supaya “aman”.

Yang lebih mengganjal lagi kenapa harus nama dosen yang ditaruh di publikasi, dan kenapa bukan di belakang?
Kalau memang ingin mencantumkan nama sebagai pembimbing atau kontributor, bukankah etisnya meletakkannya setelah penulis utama yang mengerjakan riset?

Kenapa justru mahasiswa yang harus mengalah?

BACA JUGA: Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama

Ini urusan relasi kuasa

Saya sadar bahwa masalahnya bukan sekadar soal nama. Ini soal relasi kuasa. Mahasiswa berada di posisi lemah. Dosen memegang otoritas nilai, rekomendasi, akses akademik, bahkan kelancaran administrasi.

Mahasiswa jarang benar-benar punya pilihan saat dosen menyampaikan permintaan ini. Menolak terasa berisiko. Bertanya terlalu kritis terasa tidak sopan. Akhirnya banyak yang memilih diam dan mengikuti, meskipun di dalam hati penuh tanda tanya.

Di sinilah praktik ini terasa problematik. Publikasi jurnal yang seharusnya menjadi ruang belajar dan pengembangan ilmiah berubah menjadi alat tawar-menawar. Iming-iming nilai A, kelulusan lancar, atau “akses jurnal” digunakan untuk menormalisasi praktik yang secara etika patut dipertanyakan.

Orang sering melupakan satu hal, bahwa kepengarangan dalam jurnal ilmiah bukan formalitas. Ada etika internasional yang jelas siapa yang berkontribusi signifikan dalam perumusan ide, metodologi, analisis, dan penulisan, dialah yang berhak atas posisi penulis.

Bimbingan itu penting, tapi tidak otomatis berarti kepengarangan, apalagi sebagai penulis utama. Kalau semua skripsi mahasiswa otomatis harus mencantumkan nama dosen sebagai penulis pertama, lalu di mana penghargaan terhadap kerja intelektual mahasiswa?

Publikasi jurnal kehilangan maknanya

Menurut saya publikasi kehilangan maknanya sebagai proses ilmiah. Ia berubah menjadi administrasi belaka. Target, bukan pembelajaran. Prestasi di atas kertas, tapi rapuh secara etika.

Saya menulis ini bukan untuk menyerang individu. Saya yakin tidak semua dosen seperti itu. Banyak dosen yang membimbing dengan tulus, adil, dan menjunjung etika. Namun, praktik semacam ini benar-benar terjadi, dan banyak pihak sering menganggapnya biasa.

Padahal, membiarkan hal ini terjadi hanya akan membentuk budaya akademik yang salah. Mahasiswa bekerja, dosen mengambil kredit, mahasiswa membayar, dosen mendapat reputasi, mahasiswa belajar takut, bukan belajar kritis.

Mahasiswa bukan mesin publikasi. Bukan alat untuk mengejar angka, akreditasi, atau portofolio dosen. Mahasiswa adalah pembelajar yang seharusnya dilindungi, dibimbing, dan diberi ruang untuk tumbuh.

Sampai sekarang, saya masih bertanya-tanya kalau skripsi itu karya saya, artikelnya saya tulis sendiri, dan saya sudah lulus, kenapa nama saya tidak cukup berdiri sendiri?

Mungkin masalahnya bukan pada satu kasus, tapi pada sistem yang membiarkan praktik seperti ini berjalan tanpa evaluasi. Selama mahasiswa terus memilih diam karena takut, pihak-pihak terkait akan terus menganggap praktik ini wajar.

Padahal dunia akademik seharusnya berdiri di atas kejujuran, etika, dan keadilan bukan sekadar siapa yang punya kuasa paling besar.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jujur, Saya sebagai Mahasiswa Kaget Lihat Biaya Publikasi Jurnal Bisa Tembus 500 Ribu, Ditanggung Sendiri Lagi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2026 oleh

Tags: artikel ilmiahdosen numpang namapublikasi ilmiahpublikasi jurnalrelasi kuasa
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

Jasa Cek Turnitin Tugas Kuliah, Bisnis Sederhana yang Untungnya Banyak

Jasa Cek Turnitin Tugas Kuliah, Bisnis Sederhana yang Untungnya Banyak

8 Agustus 2024
Jujur, Saya sebagai Mahasiswa Kaget Lihat Biaya Publikasi Jurnal Bisa Tembus 500 Ribu, Ditanggung Sendiri Lagi

Dosen Seenaknya Nyuruh Mahasiswa untuk Publikasi Jurnal, padahal Uang Mahasiswa Cuma Dikit dan Nggak Dikasih Subsidi Sama Sekali

17 Januari 2026
10 Jurnal Ilmiah Gratisan yang Dibutuhkan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Terminal Mojok

10 Jurnal Ilmiah Gratisan yang Dibutuhkan Mahasiswa Ilmu Komunikasi

8 Januari 2023
Pengalaman Publikasi Artikel di Jurnal Ilmiah: Ternyata Ada Sisi Gelapnya!

Pengalaman Publikasi Artikel di Jurnal Ilmiah: Ternyata Ada Sisi Gelapnya!

22 Desember 2023
Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama publikasi jurnal

Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama

4 Oktober 2025
Nggak Ada Gunanya Dosen Ngasih Tugas Artikel Akademik dan Wajib Terbit, Cuma Bikin Mahasiswa Stres!

Nggak Ada Gunanya Dosen Ngasih Tugas Artikel Ilmiah dan Wajib Terbit, Cuma Bikin Mahasiswa Stres!

17 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi (Unsplash)

KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi

17 Maret 2026
Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR Mojok.co

Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja

16 Maret 2026
Lirik Lagu Narsis Sheila on 7 Perisai Terbaik dari Patah Hati (sheilaon7.com)

Mendengarkan Lirik Narsistik Sheila on 7 Adalah Cara Terbaik Menghibur Diri Setelah Berkali-kali Ditolak Cinta

22 Maret 2026
KA Sri Tanjung, Juru Selamat yang Bikin Menderita para Pekerja (Wikimedia Commons)

KA Sri Tanjung Adalah Juru Selamat Bagi Kaum Pekerja: Tiketnya Murah dan Nyaman tapi Bikin Menderita karena Sangat Lambat

18 Maret 2026
Kebumen Aneh, Maksa Merantau tapi Bikin Pengin Pulang (Wikimedia Commons)

Kebumen Itu Memang Aneh: Suka Memaksa Anak Muda untuk Segera Merantau, sekaligus Mengajak Kami untuk Segera Pulang

21 Maret 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini

19 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.