Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Puasa Media Sosial: Sarana Refleksi Diri

Hafis Hamdan oleh Hafis Hamdan
25 Mei 2019
A A
media sosial

media sosial

Share on FacebookShare on Twitter

Tulisan ini saya buat sebagai sarana refleksi diri dan bagi kita terkhusus pengguna berbagai macam platform media sosial setelah tsunami informasi, tontonan, berita hingga banjir data yang masuk tanpa proses penyaringan (memilah yang dibutuhkan ataupun verifikasi keaslian sumber).

Saya pernah mengikuti diskusi perihal informasi bohong (hoax) dengan pembahasan mengenai bagaimana tsunami informasi berjalan lurus dengan hoax yang ikut disebarkan oleh akun-akun yang ada di media sosial. Dan ujungnya terjadilah paradoks, setiap orang dengan mudah mendapatkan informasi namun sedikit malas atau tak memiliki waktu, tenaga maupun kehendak untuk memilih dan memilah informasi yang dibutuhkan hingga menjadi pengetahuan. Pun setiap orang bisa menjadi produsen ataupun konsumen hoax bahkan ikut andil dalam pendistribusiannya.

Jika ditelisik lebih dalam pengaruh informasi pada media sosial sejak pra hingga pasca Pemilihan Umum serentak membuat ruang hirup masyarakat Indonesia dipenuhi dengan polusi (baca: hoax) ataupun debu yang berseliweran dibawa angin-angin jahat. Jika kita tak memiliki kekebalan tubuh yang kuat maka dengan mudah terjangkit virus yang dibawanya.

Ada beberapa orang yang meyakini termasuk pengamat politik bahwa yang jadi masalah ialah sejak 2014 hingga Pemilu 2019 kita hanya dihadapkan pada dua calon kandidat Capres sehingga berpengaruh besar terhadap perpecahan dua kubu pendukung masing-masing dan dampaknya ialah polarisasi yang terbentuk di media sosial hingga merambah dalam kehidupan nyata.

Polarisasi yang sangat dirasakan ialah terciptanya ruang gema di media sosial dengan terbentuknya kelompok yang saling memakai kata cebong dan kampret. Hal ini bukan yang pertama terjadi walaupun istilah itu baru booming saat pemilu serentak kali ini.

Ruang gema pada media sosial menjadi semakin besar karena setiap linimasa akun masing-masing pendukung paslon akan disuguhkan mengenai semua hal yang mencakup informasi, tontonan, teman maupun grup ataupun kelompok yang memiliki kesamaan referensi.

Pada saat yang sama kelompok tersebut dijauhkan dari pemberitaan, teman hingga grup kelompok lain maka lahirlah fanatisme buta dikarenakan ketidakberimbangan sumber informasi, Si A makin yakin dengan pilihannya dan mudah menyalahkan si B, begitu pula sebaliknya.
Mengutip data dari We Are Sosial dan Hootsuite yang dirilis Januari 2019, pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai 150 juta atau 56% dari total populasi, angka ini menunjukkan kenaikan setiap tahunnya. Namun sayang, setiap tahun pula informasi hoax ikut bertambah terlebih pada platform Facebook dengan pengguna paling banyak di Indonesia. Dengan berbagai macam elemen atau konten yang disuguhkan mulai dari narasi, foto, video ataupun gabungan antara narasi+foto maupun narasi+video.

Era Post Truth

Baca Juga:

Trump Butuh Sosok Ki Amien Rais untuk Bikin Aksi Protesnya Meriah

Trotoar Lebar di Jakarta, Cita-cita Ahok yang Sekarang Malah Dinyinyirin Pendukungnya Sendiri

Sedikit mengambil ajaran dari Aristoteles mengenai fakta dan kebenaran yang seringkali kita abaikan atau salah kaprah terhadap keduanya. Murid dari Plato itu mengatakan bahwa “kebenaran itu harus berada disekitaran fakta’” atau berjalan beriringan.

Fakta dan kebenaran adalah dua hal yang berbeda kebenaran ialah persepsi manusia terhadap fakta sedangkan fakta sesuatu yang berbasis realitas dan tak terbantahkan kebenarannya. Jika meja dikatakan meja dan kursi dikatan kursi jika yang terjadi adalah sebaliknya maka yang muncul adalah falsehood atau kebohongan.

Tak dipungkuri saat ini kita berada pada era di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi maupun keyakinan personal atau sering disebut post truth. Berapapun informasi yang diserap berbasis pada realitas,kejadian ataupun data di sosial media maupun digital news media malah tak mempengaruhi preferensi pilihan politik pendukung masing-masing calon. Terlebih di media sosial banyak akun-akun tak saling menyuguhkan fakta mengenai kandidat tetapi lebih kepada serang menyerang hal-hal yang jauh dari fakta dan mencoba mekonstruksi kebenaran untuk kepentingan masing-masing.

Turn Back Hoax

Akhir-akhir ini saya melihat berbagai macam poster ataupun spanduk di jalanan yang mengajak masyarakat memerangi hoax yang berseliweran di media sosial—tak lupa pula dengan tips mengetahui atau mengecek kredibilitas informasi. Bukan tanpa alasan spanduk itu berdiri, jika melihat situasi di mana hoax menjadikan masyarakat kita terbelah dan mudah menyalahkan satu dengan yang lainnya hingga mudahnya terjadi konflik atau saling berbenturan antara satu kelompok terhadap kelompok yang lain. Terlebih pada konten SARA yang meresahkan hingga beberapa Instansi Pemerintah termasuk MUI mulai mengeluarkan ultimatum agar masyarakat memerangi dan membentengi diri dari informasi hoax.

Banyak yang tak tahu jika satu huruf saja yang dirubah pada judul suatu berita maka akan melahirkan penafsiran yang baru. Contoh pemberitaan yang kemarin sempat viral dengan mengganti dua kata mengenai “impor guru”. Padahal kata aslinya ialah “mengundang guru” sehingga di media sosial kembali riuh saling menghujat, memaki dan menjelekkan satu kelompok yang coba dihubungkan karena berafiliasi pada satu partai dengan Capres kubu sebelah.

Maka sudah sewajarnya jika berbagai instansi mencoba mengadakan diskusi publik yang juga menjadi sarana pendidikan anti hoax dalam forum-forum formal maupun nonformal.

Bijak Bermedia Sosial

Setelah berbagi bacaan, tontotan hingga adu argumen panas dalam media sosial. Kita telah sampai pada bulan Ramadan yang diwajibkannya setiap umat muslim seluruh dunia berpuasa. Puasa Ramadan tak hanya mengajarkan kita bagaimana menahan rasa lapar dan haus, lebih dari itu esensi berpuasa mengajarkan kita menahan ego, nafsu dan hal-hal yang merusak diri, keluarga, teman, kelompok maupun lingkungan sekitar.

Jika ditarik dalam arti bermedia sosial maka “puasa media sosial” bukan berarti menghentikan aktivitas kita dalam menggunakan berbagai platform media sosial. Tapi mengajarkan kita menahan diri untuk tak menjadi produsen, konsumen maupun ikut dalam mendistribusikan berbagai informasi bohong atau hoax. Termasuk mengajarkan kita bahwa kita butuh interaksi langsung pada keluarga, teman, kerabat dan tak hanya sekadar sapa pada media sosial—hingga mengatur waktu penggunaan.
Sadar dan tak sadar jika media sosial mengubah perilaku sosial kita hingga mengabaikan lingkungan sekitar. Asyik dalam pengaruh media sosial namun mengurangi waktu interaksi langsung antar sesama. Maka sudah sepatutnya setiap teknologi yang ada ia harus mempermudah kita dalam aktivitas bukan menjadikan kita budak atau menjauhkan jarak pun membentuk sekat-sekat.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: Pemilu 2019Pilpres 2019Puasa Media SosialRefleksi Diri
Hafis Hamdan

Hafis Hamdan

ArtikelTerkait

aksi 22 mei

Kenapa Kita Susah Menerima Aksi Damai 22 Mei Apapun Alasannya

24 Mei 2019
KPU RI Nggak Salah soal Pilkada, Pemerintah Aja yang Hilang Arah terminal mojok.co

Tenyata Begini Yaa Jadi Petugas Pemilu Edisi 4.0

2 Mei 2019
Ustaz Rahmat Baequni

Soal Ustaz Rahmat Baequni Buat Kita Lupa Capres – Cawapres

14 Juni 2019
lebaran Khong Guan

Cerita Hari Raya, Dari Khong Guan Hingga Pelaminan

3 Juni 2019
pedoman menilai produk hukum baik atau buruk politik negara hukum indonesia

Kupas Politik Indonesia Hari ini: People Power 22 Mei

23 Mei 2019
pisau prabowo

Tiga Pisau yang Menusuk Prabowo

21 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bukan Cuma Sambal yang Manis, Chinese Food di Jogja Juga Ikutan Jadi Manis

Bukan Cuma Sambal yang Manis, Chinese Food di Jogja Juga Ikutan Jadi Manis

20 Mei 2026
Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

19 Mei 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Alasan Wonogiri Masih dan Akan Selalu Jadi Ibu Kota Bakso Indonesia, Malang Minggir Dulu!

20 Mei 2026
Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau Mojok.co

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau

16 Mei 2026
Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

19 Mei 2026
Mahasiswa Akuntansi yang Menghindari Bahasa Inggris Tak Ubahnya Menembak Kaki Sendiri, alias Menyulitkan Diri Sendiri!

Mahasiswa Akuntansi yang Menghindari Bahasa Inggris Tak Ubahnya Menembak Kaki Sendiri

20 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.