PS-5 Memang Bergengsi, tapi Kenangan PS-1 dan PS-2 Tak Bisa Terganti – Terminal Mojok

PS-5 Memang Bergengsi, tapi Kenangan PS-1 dan PS-2 Tak Bisa Terganti

Artikel

M. Farid Hermawan

Euforia penyambutan bakal dijualnya PS-5 di Indonesia benar-benar menarik. Setiap saya melihat Instastory, selalu muncul PS-5 di berbagai lokasi. Sungguh saat pertama kali saya melihat, saya kira kawan saya benar-benar mampu beli PS-5. Ternyata layaknya genjutsu, semua itu hanya ilusi filter belaka.

Banyaknya orang yang memposting foto PS-5 menggunakan filter Instagram sepertinya berbanding lurus dengan ketidakmampuan mereka buat beli PS-5. Makanya, guna menghibur diri, setidaknya berkhayal punya PS-5 adalah sebuah hiburan tersendiri.

Melihat harga PS-5 yang berada di kisaran 6 sampai 7 juta membuat saya memijit jantung. Begitu mahalnya sebuah hiburan dan permainan di dunia modern saat ini.

Bagi orang-orang yang punya uang berlebih mungkin menukar uang senilai 7 juta dengan PS-5 bukanlah sesuatu yang perlu dipusingkan. Namun, tentu tidak semua orang punya uang yang berlebih untuk sekadar memainkan game-game 3 dimensi di PS-5.

Pada dasarnya PS-5 memang bergengsi. Di sana ada kecanggihan teknologi yang terus dimutakhirkan. Tampilannya pun lumayan berbeda dengan sesepuhnya dahulu. Dengan corak warna elegan hitam dan putih. PS-5 seperti ingin mengulang kembali kejayaan dua sesepuhnya yaitu PS-1 dan PS-2 dengan meminjam warna keduanya.

Namun, saya melihat seberapa pun ambisiusnya Sony dengan proyek PS-5-nya. Tetap saja gengsi yang mereka berikan dengan desain elegan disertai fitur yang super canggih di PS-5 tidak bisa menggantikan sebuah kenangan terindah bernama PS-1 dan PS-2.

Silakan beradu gengsi lewat PS-5. Namun tak akan kamu temukan sosok yang bisa membuatmu ngilang dari rumah tiba-tiba, rela dijewer emak karena lupa diri, bergerilya ke rumah tiap teman, dan yang pasti kamu tak menemukan wajah, badan, dan kaki kotak yang sungguh terlihat aneh di dalam game tapi tetap bisa menghibur.

PS-1 hadir pertama kali dengan tampilan warna putih guna menghindari kesamaan dengan generasi paling tua, Playstation, yang pada tahun 1994 lahir dengan warna abu-abu. Dengan fitur yang tidak secanggih saat ini, PS-1 di tahun 2000-an benar-benar bikin banyak anak-anak kesurupan.

Bukan karena kemasukan jin atau kena guna-guna. Namun, saat itu PS-1 seperti benda yang turun dari surga yang jika sudah dimiliki, bahagianya luar biasa. Ketika era PS-1 masih berjaya, saya benar-benar merasakan euforianya. Walau orang tua saya tidak pernah membelikan PS-1 kepada saya, pengalaman saya bermain PS-1 saya dapatkan dengan bergerilya dari satu rumah ke rumah kawan yang lain.

Judul-judul macam Crash Bandicoot, Metal Slug, Tekken, Tony Hawk, sampai game sepak bola legendaris macam Super Shot Soccer benar-benar bikin saya kecanduan ke rumah teman saya buat setidaknya nonton mereka main dan syukur-syukur kalau diajak main juga.

Tidak ada teknologi canggih dan tidak ada kaset super duper mahal. Tampilan game-nya pun sungguh kalah jauh dengan PS-5. Namun, layaknya cinta, kekasih pertama memang punya kesan yang mendalam. Walau dipenuhi kekurangan, kebahagiaan bersama PS-1 benar-benar membuat anak-anak di zaman itu rela dijewer emak karena lupa waktu.

Tidak berselang lama setelah euforia PS-1, Sony kembali meluncurkan PS-2 dengan sentuhan warna hitam. Di tahun yang sama pula, saya semakin candu untuk main PS. Dan syukurnya waktu itu orang tua saya peka lalu membelikan saya PS-2. Dengan tampilan game yang lumayan dari PS-1. PS-2 kembali bisa merebut hati anak-anak SD macam saya dahulu dengan game-gamenya macam Naruto, Winning Eleven, GTA San Andreas, dan game langganan di rental PS-2, Guitar Hero.

Harga kasetnya pun nggak mahal. Dengan uang 10 ribu sampai 15 ribu saya bisa puas menjamah kaset-kaset PS-2 di pasar malam. Tidak ada eksklusifitas seperti yang saya temui ketika beli kaset PS-3, PS-4 , dan PS-5 yang baru-baru ini muncul.

PS-1 dan PS-2 adalah sebuah perwujudan kesederhanaan dari kebahagiaan masa kecil anak-anak era tahun 2000-an. Tidak adanya kecanggihan yang berlebihan ditambah dengan berbagai metode-metode curang macam game shark hingga cheat-cheat yang berseliweran tak bisa kembali diulang saat munculnya generasi PS-3 ke atas.

PS-5 boleh saja menawarkan berbagai keajaiban digital yang memanjakan mata penggunanya. Namun, PS-5 tak bisa lagi menjadi semacam dewa yang bisa mengontrol pikiran dan waktu anak-anak macam saya dulu. Selain karena sudah pasti harganya bukan harga yang childish banget, PS-5 seperti sebuah pengingat bagi anak-anak generasi saya yang mendewakan PS-1 dan PS-2 bahwa hidup haruslah berkembang. Jangan terjebak masa lalu dengan kenangan indah bersama kesederhanaan dan berbagai kemudahan di dalamnya. Bahwa kita tidak selamanya menjadi anak-anak. Dan menjadi dewasa adalah hal yang mutlak.

PS-1 dan PS-2 adalah masa indah kanak-kanak yang penuh kenangan dan sulit terganti. PS-5 adalah sebuah proses menuju kedewasaan yang sulit, berat, dan memerlukan perjuangan ekstra keras yang tidak hanya menyoal hidup tapi juga menyoal proses beli PS-5-nya. Kamu yang saat ini sudah tua tentu tidak bisa lagi merengek ke orang tua buat dibeliin PS-5 seperti kamu minta beli PS-1 atau PS-2 dahulu. Ingat, kamu harus kerja, kerja, kerja kalau mau beli PS-5 yang bergengsi itu. Layaknya problematika menjadi orang dewasa, beli PS-5 itu sungguh berat kalau kamu miskin dan nggak punya uang.

BACA JUGA Lima Kenangan Anak 90-an Bermain Playstation dan artikel M. Farid Hermawan lainnya.

Baca Juga:  Film 'The Social Dilemma' Nihil Solusi dan Melahirkan Ketakutan Belaka

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.