Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pramuka itu Keren, Asal Nggak Ada Perpeloncoan Nggak Manusiawi

Dessy Liestiyani oleh Dessy Liestiyani
14 Agustus 2020
A A
Kalau Bukan Ekskul Wajib, Saya Nggak Akan Kenal Pramuka MOJOK.CO

Kalau Bukan Ekskul Wajib, Saya Nggak Akan Kenal Pramuka MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Saya kenal pramuka di sekolah dasar, 37 tahun yang lalu. Di sekolah saya itu, walaupun katanya ekskul, tapi kok sepertinya sudah dinobatkan jadi mata pelajaran. Anggapan saya tentang ekskul itu sejatinya dilakukan di luar jam sekolah.

Lah di sekolah saya itu, pramuka mengambil satu hari penuh untuk latian baris-berbaris, keterampilan, dan lain-lain. Dan kalau ada kelas, diisinya dengan pengetahuan kepramukaan juga. Jadi jangan salahkan otak bocah saya yang beranggapan pramuka itu bobotnya sama seperti IPA!

Tapi justru karena ikut pramuka, saya jadi kenal simpul, semapur, dan ngerasain kemah beserta jurit malemnya. Selain itu, buat saya, pramuka itu nggak cuma identik dengan warna cokelat. Tapi yang terutama adalah cinta kasih baik terhadap alam maupun sesama. Jadi, pramuka itu seperti pencinta alam yang kudu sigap bersih-bersih bumi, dan helpfull kapan pun orang butuh bantuan.

Dan kesimpulan di kepala bocah saya, pramuka itu keren!

Tapi entah kenapa, pramuka tidak masuk pilihan ekskul di SMP dan SMA saya. Padahal SMP saya lokasinya cuma selemparan batu dari SD saya. Masa sih para guru SMP itu gak pernah ngeliat betapa kerennya para murid baris-berbaris? Sementara di SMA saya justru pusing mau masuk ekskul apa, saking banyaknya pilihan.

Ada drum band, pencinta alam, tata upacara, keamanan, PMR, english club, klub matematik, klub biologi, klub teknologi terapan, mading, voli, basket, softball, fotografi, tari tradisional, tari modern, sin lam ba (silat), wushu, karate, merpati putih, taekwondo, silat, dan masih banyak lainnya yang saya nggak inget. Aseli, banyak banget! Tapi kok ya di antara sekian banyak itu, nggak ada pramuka. Bahkan sampai kuliah pun saya udah gak nemu lagi.

Gimana mau ngenalin pramuka kalau bukan dari ekskul, ya?

Dulu, saya sempat berbincang dengan kakak senior yang mengatakan bahwa ekskul pramuka itu nanggung. Kalau mau kemping-kempingan, belajar baca kompas atau tali-temali, ada pencinta alam yang menurut beliau, lebih gengsi dan macho.

Baca Juga:

Pelajar Surabaya Nggak Butuh Pramuka, Ekstrakurikuler Ini Memang Lebih Baik Nggak Diwajibkan

Kurikulum Merdeka Membunuh Pramuka?

Terus kalau mau belajar bikin tandu, atau ngobatin orang sakit, ada PMR yang menurut beliau lebih detail. Kalau mau baris-berbaris, ada ekskul tata upacara yang lebih fokus dan membangkitkan nasionalisme. Dan yang lebih parahnya, menurut beliau pramuka itu identik dengan anak SD. Hmm..apa dia nggak tahu ya kalau ada istilah “Kakak Pembina”.

Dari beberapa orang yang saya ajak ngobrol, ternyata cukup banyak yang tidak menyukai kegiatan ini. Alasannya beragam. Mulai dari nggak suka karena dipaksa, katanya ekskul tapi kok wajib. Nggak suka karena seragamnya nyusahin banyak perintilan tapi lebih berfungsi sebagai asesoris belaka. Termasuk keponakan saya yang nggak suka karena ngerasa kemping itu nyusahin, ribet, dan bikin nggak nyaman.

Tapi ada juga yang suka karena ada plonconya. Nah ini juga bikin saya bingung, sih. Apa korelasinya ketika masuk kudu diomelin dan dikerjain kakak pembina? Bukannya mau ngajarin cinta kasih terhadap sesama? Apa ngebentak anak baru, nyuruh push up, jalan jongkok dan bentuk kekonyolan lainnya merupakan manifes dari penerapan cinta kasih anggota? Maaf kalau saya gagal paham.

Kadang saya jadi bersyukur jaman SD dulu “dipaksa” ikut. Ternyata belum tentu juga kan saya bisa belajar morse selepas SD. Wong nggak semua sekolah menengah ngajarin kepramukaan. Kalau bukan esksul wajib, saya jadi gak yakin siswa milih pramuka. Apalagi generasi zaman now yang rata-rata udah gadget freak.

Teman saya bercerita, ekskul di sekolah anaknya sekarang sudah sangat modern. Ada coding, animasi, manga, dan lain-lain. Lah gimana pramuka bisa bersaing dengan ekskul seperti itu? Bandingkan aktivitas kepramukaan yang umumnnya dilakukan berpanas-panas, kotor, dan olah fisik banget, dengan aktivitas ekskul zaman now yang bisa dilakukan di dalam ruangan, adem, dan nyaman. Pilih mana?

Mungkin memang kegiatan ini harus bisa ikut beradaptasi dengan perkembangan zaman. Jadi kesannya gak monoton. Dasar ilmunya tetap sama, namun kemasannya yang dibuat lebih menarik. Misalnya bikin games show ala amazing race, namun memecahkan kode-kode seperti morse atau membaca semapur. Secara tampilan akan menarik, namun tidak menghilangkan unsur dasarnya.

Untungnya, saat ini pramuka sudah mulai diperkenalkan melalui aplikasi. Salah satunya adalah aplikasi Marbel Pramuka. Di sini kita diajak untuk bermain tebak semaphore, tebak tanda jejak, tebak sandi morse, tebak tali pramuka. Walaupun sederhana, namun cukup asyik untuk dimainkan. Semoga saja bisa meningkatkan minat dan keingintahuan para anak dan remaja untuk mau belajar pramuka di kemudian hari.

BACA JUGA Cerita Pensiunan Penonton Bayaran tentang Profesi Penonton Bayaran Televisi dan tulisan Dessy Liestiyani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

 

 

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2020 oleh

Tags: hari pramukapenggalangpramuka
Dessy Liestiyani

Dessy Liestiyani

Tinggal di Bukittinggi. Wiraswasta, mantan kru televisi, penikmat musik dan film.

ArtikelTerkait

di kuburan

Pengalaman Numpang Tidur di Kuburan

18 Oktober 2019
Kemah di Halaman Sekolah dan Hal-hal yang Tidak Saya Mengerti dari Pramuka Terminal Mojok

Kemah di Halaman Sekolah dan Hal-hal yang Tidak Saya Mengerti dari Pramuka

23 Januari 2022
Kalau Bukan Ekskul Wajib, Saya Nggak Akan Kenal Pramuka MOJOK.CO

Pramuka, PKS, PMR: Mana Ekskul Wajib yang Paling Worth buat Diseriusin?

21 Januari 2021
Kurikulum Merdeka Belajar Membunuh Pramuka? (Unsplash)

Kurikulum Merdeka Membunuh Pramuka?

1 Maret 2024
Buka Bersama Diatur Satgas Covid-19 Terminal Mojok

Buka Bersama Diatur Satgas Covid-19: Kita Nggak Boleh Ngobrol

30 Maret 2022
Tragedi Nahas Kegiatan Susur Sungai dan Kekonyolan Para Pembina Pramuka yang Harus Dihentikan

Tragedi Nahas Kegiatan Susur Sungai dan Kekonyolan Pembina Pramuka yang Harus Dihentikan

24 Februari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.