Pramuka itu Keren, Asal Nggak Ada Perpeloncoan Nggak Manusiawi

Artikel

Dessy Liestiyani

Saya kenal pramuka di sekolah dasar, 37 tahun yang lalu. Di sekolah saya itu, walaupun katanya ekskul, tapi kok sepertinya sudah dinobatkan jadi mata pelajaran. Anggapan saya tentang ekskul itu sejatinya dilakukan di luar jam sekolah.

Lah di sekolah saya itu, pramuka mengambil satu hari penuh untuk latian baris-berbaris, keterampilan, dan lain-lain. Dan kalau ada kelas, diisinya dengan pengetahuan kepramukaan juga. Jadi jangan salahkan otak bocah saya yang beranggapan pramuka itu bobotnya sama seperti IPA!

Tapi justru karena ikut pramuka, saya jadi kenal simpul, semapur, dan ngerasain kemah beserta jurit malemnya. Selain itu, buat saya, pramuka itu nggak cuma identik dengan warna cokelat. Tapi yang terutama adalah cinta kasih baik terhadap alam maupun sesama. Jadi, pramuka itu seperti pencinta alam yang kudu sigap bersih-bersih bumi, dan helpfull kapan pun orang butuh bantuan.

Dan kesimpulan di kepala bocah saya, pramuka itu keren!

Tapi entah kenapa, pramuka tidak masuk pilihan ekskul di SMP dan SMA saya. Padahal SMP saya lokasinya cuma selemparan batu dari SD saya. Masa sih para guru SMP itu gak pernah ngeliat betapa kerennya para murid baris-berbaris? Sementara di SMA saya justru pusing mau masuk ekskul apa, saking banyaknya pilihan.

Ada drum band, pencinta alam, tata upacara, keamanan, PMR, english club, klub matematik, klub biologi, klub teknologi terapan, mading, voli, basket, softball, fotografi, tari tradisional, tari modern, sin lam ba (silat), wushu, karate, merpati putih, taekwondo, silat, dan masih banyak lainnya yang saya nggak inget. Aseli, banyak banget! Tapi kok ya di antara sekian banyak itu, nggak ada pramuka. Bahkan sampai kuliah pun saya udah gak nemu lagi.

Baca Juga:  Tragedi Nahas Kegiatan Susur Sungai dan Kekonyolan Pembina Pramuka yang Harus Dihentikan

Gimana mau ngenalin pramuka kalau bukan dari ekskul, ya?

Dulu, saya sempat berbincang dengan kakak senior yang mengatakan bahwa ekskul pramuka itu nanggung. Kalau mau kemping-kempingan, belajar baca kompas atau tali-temali, ada pencinta alam yang menurut beliau, lebih gengsi dan macho.

Terus kalau mau belajar bikin tandu, atau ngobatin orang sakit, ada PMR yang menurut beliau lebih detail. Kalau mau baris-berbaris, ada ekskul tata upacara yang lebih fokus dan membangkitkan nasionalisme. Dan yang lebih parahnya, menurut beliau pramuka itu identik dengan anak SD. Hmm..apa dia nggak tahu ya kalau ada istilah “Kakak Pembina”.

Dari beberapa orang yang saya ajak ngobrol, ternyata cukup banyak yang tidak menyukai kegiatan ini. Alasannya beragam. Mulai dari nggak suka karena dipaksa, katanya ekskul tapi kok wajib. Nggak suka karena seragamnya nyusahin banyak perintilan tapi lebih berfungsi sebagai asesoris belaka. Termasuk keponakan saya yang nggak suka karena ngerasa kemping itu nyusahin, ribet, dan bikin nggak nyaman.

Tapi ada juga yang suka karena ada plonconya. Nah ini juga bikin saya bingung, sih. Apa korelasinya ketika masuk kudu diomelin dan dikerjain kakak pembina? Bukannya mau ngajarin cinta kasih terhadap sesama? Apa ngebentak anak baru, nyuruh push up, jalan jongkok dan bentuk kekonyolan lainnya merupakan manifes dari penerapan cinta kasih anggota? Maaf kalau saya gagal paham.

Kadang saya jadi bersyukur jaman SD dulu “dipaksa” ikut. Ternyata belum tentu juga kan saya bisa belajar morse selepas SD. Wong nggak semua sekolah menengah ngajarin kepramukaan. Kalau bukan esksul wajib, saya jadi gak yakin siswa milih pramuka. Apalagi generasi zaman now yang rata-rata udah gadget freak.

Baca Juga:  Radio Suara Surabaya Adalah 911-nya Warga Jawa Timur, Terbaik!

Teman saya bercerita, ekskul di sekolah anaknya sekarang sudah sangat modern. Ada coding, animasi, manga, dan lain-lain. Lah gimana pramuka bisa bersaing dengan ekskul seperti itu? Bandingkan aktivitas kepramukaan yang umumnnya dilakukan berpanas-panas, kotor, dan olah fisik banget, dengan aktivitas ekskul zaman now yang bisa dilakukan di dalam ruangan, adem, dan nyaman. Pilih mana?

Mungkin memang kegiatan ini harus bisa ikut beradaptasi dengan perkembangan zaman. Jadi kesannya gak monoton. Dasar ilmunya tetap sama, namun kemasannya yang dibuat lebih menarik. Misalnya bikin games show ala amazing race, namun memecahkan kode-kode seperti morse atau membaca semapur. Secara tampilan akan menarik, namun tidak menghilangkan unsur dasarnya.

Untungnya, saat ini pramuka sudah mulai diperkenalkan melalui aplikasi. Salah satunya adalah aplikasi Marbel Pramuka. Di sini kita diajak untuk bermain tebak semaphore, tebak tanda jejak, tebak sandi morse, tebak tali pramuka. Walaupun sederhana, namun cukup asyik untuk dimainkan. Semoga saja bisa meningkatkan minat dan keingintahuan para anak dan remaja untuk mau belajar pramuka di kemudian hari.

BACA JUGA Cerita Pensiunan Penonton Bayaran tentang Profesi Penonton Bayaran Televisi dan tulisan Dessy Liestiyani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

 

 

---
4


Komentar

Comments are closed.