Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Polisi Virtual, Pisau Mata Ganda bagi Pemerintah

Alifya Ikhsanty Heryana oleh Alifya Ikhsanty Heryana
27 Februari 2021
A A
Polisi Virtual, Pisau Mata Ganda bagi Pemerintah terminal mojok.co

Polisi Virtual, Pisau Mata Ganda bagi Pemerintah terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Palu telah dipukul dan pengumuman pun telah digaungkan kepada seluruh rakyat. Telah diresmikan pengoperasian kegiatan bagian dari unit Kepolisian Republik Indonesia yaitu Virtual Police atau Polisi Virtual yang dibentuk untuk mencegah tindak pelanggaran terhadap Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang dilakukan oleh publik.

Nantinya, unit ini akan mengintai layaknya FBI, secara tersembunyi, kilat, dan sigap terhadap dunia media sosial masyarakat Indonesia itu sendiri, hingga bagi mereka yang hanya sekadar menyebut kata “Indonesia” lewat tulisan mereka di media sosial—setidaknya jika terdapat unsur yang ofensif bagi negara kita. Katanya, unit ini adalah upaya pemerintah untuk menjaga dan mengendalikan dunia siber di negara kita agar tetap sehat, bersih, dan produktif.

Kalau saya ibaratkan, langkah yang pemerintah ambil kali ini agaknya terdengar sebuah terobosan yang bisa dibilang cukup unik. Tentunya, lagi-lagi keputusan ini menuai berbagai macam respon masyarakat yang cukup membuat saya seringkali terkecoh. Tak tertinggalkan pula, banyak masyarakat yang menjadikan berita yang cukup menggemparkan ini sebagai lelucon atau meme-meme lucu. Kalau yang ini, saya akui malah menjadi sebuah sarana hiburan di tengah hiruk pikuknya orang-orang yang riuh beradu argumen tentang perspektif siapa yang agaknya paling cocok untuk menanggapi berita ini.

Awalnya saya pun hanya menjadi bagian dari audiens yang setia menunggu gagasan-gagasan apa yang muncul dari para—intelek dan pemikir-pemikir andal—yang bisa memberikan perspektif baru untuk kebijakan baru yang mempunyai tujuan demi kemaslahatan negara kita ini. Tapi, rasa-rasanya kurang pas kalau saya hanya menjadi pengamat sedangkan di dalam kepala saya terjadi pergumulan mengenai satu keputusan pemerintah kita yang terkadang memang “bijak” ini.

Kalau boleh saya katakan, terkait hal ini dan menurut sudut pandang saya sendiri, polisi vitual berpotensi menjadi pisau mata ganda bagi pemerintah itu sendiri. Kita bisa lihat dengan pandangan yang optimis dan visioner bahwa dengan adanya polisi virtual ini masyarakat dapat mencegah dan dicegah untuk adanya kasus-kasus hoax yang sudah seperti parasit ini hingga kasus perundungan dunia maya yang agaknya menjadi salah satu keresahan yang sering disorot karena keberadaannya menjadi semakin meresahkan.

Tapi, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya bahwa resminya polisi virtual beroperasi akan menjadi pisau mata ganda. Ada beberapa hal yang menurut saya bisa digolongkan menjadi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi terkait dengan hal ini.

Pengendalian hingga hilangnya kendali terhadap masyarakat

Kita tahu, dengan resminya operasi polisi virtual ini adalah sebuah upaya pengendalian terhadap kejamnya dan liarnya dunia siber di masa sekarang ini. Tak dapat dimungkiri pula banyaknya kasus kejahatan yang terjadi dan tentunya tak sedikit pula masyarakat yang agaknya merasa dirugikan dengan adanya masalah-masalah itu.

Namun, lagi-lagi praktik selalu lebih utama dibandingkan hanya omongan-omongan. Kalau-kalau ternyata memang lagi-lagi mereka tak dapat melaksanakan operasi ini dengan semestinya, perlu digarisbawahi bahwa mereka dapat dengan mudahnya malah hilang kendali terhadap liarnya dunia siber masyarakat Indonesia. Publik akan menjadi tak terkendali dan tentunya akan ada kesan meremehkan operasi ini. Ya mau bagaimana lagi, saat kebijakan telah ditetapkan seharusnya para pemangku kebijakan juga harus dan wajib hukumnya menjadi sosok yang dapat dipercaya atau sosok teladan bagi publik. Bukannya malah menunjukkan seberapa lenturnya hukum di negara kita ini.

Baca Juga:

Memotret Tanpa Izin Itu Norak!

Es Teh Indonesia, Begini Cara yang Lebih Elegan untuk Menghadapi Keluhan Konsumen

Kemungkinan konflik akibat perbedaan kelas sosial

Ketika kita berbicara mengenai kebijakan pemerintah, terutama dalam konteks hukum, tentunya tak jauh dari adanya konflik yang terjadi. Seperti yang kita tahu, sistem operasi polisi virtual di Indonesia adalah dengan mengirim pesan peringatan secara langsung terhadap orang yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap hukum, lebih tepatnya pelanggaran pasal-pasal UU ITE. Tindakan saling melapor tak bisa lagi dihindari.

Namun, jika hal ini terjadi dan ada konflik akibat si pelapor yang agaknya tidak mau menempuh jalur mediasi, tentunya akan masuk ke dalam kasus hukum yang nantinya diproses di jalur hukum. Dunia siber memang sangatlah acak, bahkan kita bisa saja tak tahu siapa dan apa dibalik tiap-tiap akun yang kita jumpai. Hal inilah yang sekiranya dapat memunculkan konflik antar kelas sosial.

Konflik atas kelas sosial yang saya maksud adalah konflik pihak yang tak punya kuasa melawan orang yang berkuasa, atau punya cukup sumber daya untuk berkuasa. Jika tak ada antisipasi akan hal ini, yang akan terjadi adalah kekacauan.

Kesan sebagai negara yang represif

UU ITE ditambah polisi virtual menjadikan UU tersebut sangat kuat dan terkesan tak bisa dilawan. Apalagi, jika dalam pelaksanaannya malah bukannya menjadikan dunia siber yang produktif, tetapi menjadi dunia siber yang represif bagi publik. Seakan-akan publik tak mendapatkan haknya menjadi warga negara yang demokratis. Mereka menjadi bagian negara yang tak memberikan kebebasan untuk mereka berkontribusi memberikan kritik dan menjadi kritis.

Setelah sebelumnya ramai dengan pasal karet, dengan ditambahnya kebijakan ini tak dapat dielak bahwa nantinya publik merasa bahwa mereka tak dapat ruang yang cukup untuk mereka dapat memberikan aspirasinya. Maka, dengan adanya kemungkinan ini harusnya sudah menjadi sebuah pengingat bagi para pelaksana kebijakan untuk bisa berlaku secara transparan dan menjadi pelayan publik yang sesuai, tak lagi-lagi mengambil keputusan yang sekiranya malah menambah daftar alasan publik untuk tidak percaya terhadap pemerintah.

Nah, akankah pelaksanaan operasi polisi virtual ini dapat menjadi sebuah titik balik bagi pemerintah atau malah titik jatuh untuk ke sekian kalinya? Mari kita amati sama-sama.

BACA JUGA Saya Nggak Mau Terlalu Bahagia Mendengar Kabar Revisi UU ITE dan tulisan Alifya Ikhsanty Heryana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 27 Februari 2021 oleh

Tags: polisi virtualUU ITE
Alifya Ikhsanty Heryana

Alifya Ikhsanty Heryana

Menulis untuk menuangkan isi kepala.

ArtikelTerkait

bijak bermedsos

Masyarakat Harap Bijak Bermedsos, Waspada Terjerat UU ITE

14 Oktober 2019
postingan

Kalau Tidak Suka dengan Postingan Saya, Tinggal Unfollow Aja

18 Oktober 2019
screenshoot handphone

Screenshot Adalah Kebiasaan Kita Bersama

17 Juni 2019
meme polisi kaesang pangarep power abuse polisi mojok

Meme Polisi Kaesang Pangarep dan Nuansa Abuse of Power ala Orde Baru

4 Juli 2021
Kehadiran Polisi Virtual Itu Lebih Baik daripada DM Ajakan Berantem Bli JRX terminal mojok.co

Kehadiran Polisi Virtual Itu Lebih Baik daripada DM Ajakan Berantem Bli JRX

7 Maret 2021
Tilang Elektronik: Bukannya Berusaha Mematuhi, Malah Berlomba Mencurangi (Pixabay.com)

Tilang Elektronik: Terobosan Canggih yang Dilematik

31 Maret 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

motor Honda Stylo 160: Motor Matik Baru dari Honda tapi Sudah Disinisin karena Pakai Rangka eSAF, Bagusan Honda Giorno ISS Honda motor honda spacy

Honda Stylo Adalah Motor Paling Tidak Jelas: Mahal, tapi Value Nanggung. Motor Sok Retro, tapi Juga Modern, Maksudnya Gimana?

15 Maret 2026
Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya Mojok.co

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya

16 Maret 2026
Suzuki Satria Pro Aib Terbesar Suzuki yang Tak Perlu Lahir (Wikimedia Commons)

Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir

18 Maret 2026
Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar Mojok.co

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

13 Maret 2026
7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa (Unsplash)

7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa, Jangan Dibeli daripada Kamu Kecewa dan Menderita

13 Maret 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Tinggal di Wonogiri Menyadarkan Kenapa Saya dan para Perantau yang Lain Memilih Mengadu Nasib di Kota Lain

19 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah
  • Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku
  • Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik
  • Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya
  • Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi
  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.