Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Polemik Fitur Delete Message WhatsApp: Bukannya Menyelesaikan Persoalan Malah Menimbulkan Pertanyaan

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
25 Februari 2020
A A
Polemik Fitur Delete Message WhatsApp: Bukannya Menyelesaikan Persoalan Malah Menimbulkan Pertanyaan
Share on FacebookShare on Twitter

Saat ini, cara dan gaya seseorang dalam berkomunikasi semakin berkembang. Berbanding lurus dengan era digital yang seringkali jadi bahan perbincangan. Dalam ruang lingkup yang paling dekat, orang tua saya yang sebelumnya hanya berkomunikasi via telepon genggam dan SMS, kini mulai memberanikan diri menjajal aplikasi chatting, seperti WhatsApp, dengan segala fiturnya.

Sedangkan dalam cakupan yang lebih luas lagi, banyak dari kita yang sudah sama-sama mengetahui, perlahan cara lama dalam berkomunikasi mulai terdisrupsi. Mulai dari saring berbalas surat antar-individu, sampai dengan penggunaan SMS yang saat ini kurang familiar untuk digunakan dalam berkomunikasi. Kalau pun masih ada, paling-paling SMS yang masuk hanya berupa promo dari beberapa merchant dan yang terindikasi penipuan, sih.

ADVERTISEMENT

Setelah menjadi salah satu aplikasi yang populer di dunia, WhatsApp semakin meningkatkan performanya. Utamanya dalam penambahan beberapa fitur. Sebagai pengguna WhatsApp sejak kali pertama bisa diunduh di Playstore sampai dengan saat ini, saya betul-betul nyaman menggunakan aplikasi chat ini sebagai media untuk berkomunikasi. Nggak bisa dimungkiri bahwa WhatsApp terbilang user-friendly, nggak ribet dalam penggunaannya. Jadi, wajar jika kemudian banyak orang menggunakannya.

Saat ini, banyak fitur yang dapat digunakan. Berawal dari voice note, voice call, dan video call. Saya cukup yakin semua fitur yang ada, dibuat demi kemudahan dan kenyamanan dalam berkomunikasi. Sampai akhirnya, WhatsApp menambah fitur delete message.

Untuk saya pribadi (atau mungkin sebagian orang?), fitur delete message pada WhatsApp memiliki dua sisi. Pertama, sesuai dengan fungsinya, menghapus chat yang keliru. Entah typo atau salah kirim ke orang yang bukan semestinya. Kedua, ketika pesan dihapus menggunakan opsi “delete for everyone”, secara harfiah pesan memang akan terhapus. Namun, notifikasi atau jejaknya bisa dilihat oleh pengirim pesan juga si penerima dengan keterangan “you deleted this message”.

Nah, masalahnya, dan saya pikir, ini yang harus tim WhatsApp tahu, notifikasi pesan sudah dihapus ini selalu menimbulkan tanya—nggak jarang menjurus ke curiga—kira-kira pesan yang dihapus itu isinya apa, sih? Jika sudah demikian, bikin repot dan bingung jelasinnya tauk.

Iya kalau semisal cuma sekadar typo aja, lha kalau memang betulan salah kirim pesan ke orang yang seharusnya nggak baca, gimana? Masalahnya lagi, pesan yang kita hapus akan percuma jika sesaat sebelumnya si penerima pesan sudah membacanya. Makanya nggak heran kalau ketika kita salah kirim terus dihapus chat-nya, sering kali kita mendapat respons, “Ngapain di-delete? Udah kebaca, kok.” Lha, kan tambah malu. Udah salah kirim, terbaca, terus berasa ditodong jadinya. Malah menimbulkan polemik baru.

Saya bisa mangkel seluwes ini dan kepengin misuh karena pernah mengalami kejadian seperti yang sudah diceritakan. Kalau ke teman mungkin masih bisa dijadikan bahan bercandaan. Lha, ini ke atasan dan niatnya kirim pesan ke istri pula. Apa ya nggak malu jadinya. Awalnya saya bingung, kok ya istri nggak bales-bales chat saya. Setelah dicek dan membuka aplikasi WhatsApp kembali, saya kaget karena salah kirim, malah ke atasan.

Baca Juga:

3 hal yang mendorong saya meninggalkan Alfagift dan beralih Klik Indomaret walau lebih mahal

Bukan Sensi atau Mengabaikan, Ini Alasan Dosen Lama Balas Chat walau WhatsApp-nya Online

Tanpa ragu, saya hanya bisa klarifikasi dan kirim chat lanjutan, “Maaf, Pak. Saya salah kirim. Hehehe.” Dan hanya berujung pada balasan, “Nggak apa-apa, Mas. Hehehe.” Awkward. Bajingan, memang.

Setelah beberapa kejadian berlalu (iya, saya beberapa kali suka salah kirim chat, lalu pakai fitur delete for everyone), akhirnya saya bisa belajar dari kesalahan dan memiliki cara sendiri sebelum mengirim pesan. Sederhana, tapi efektif dan berhasil mengurangi intensitas kesalahan. Caranya: kroscek sebelum pesan dikirim.

Sebab, saya menyadari, kesalahan mendasar kenapa sering kali bisa salah kirim pesan adalah karena tidak cek & re-cek. Biasanya, begitu mau berbalas chat, kita teledor sampai tidak melihat kembali siapa orang yang akan di-chat. Main langsung ketik, tidak melihat isi chat di bubble chat sebelumnya, terus kirim. Kalau penerima pesan sudah tepat sih nggak masalah, yang jadi masalah kan kalau salah orang.

Nggak jarang juga orang yang pacaran jadi marahan hanya karena fitur delete message ini. Belum lagi ketika ditanya isi pesan yang dihapus apa, terus jawabannya ngawang-ngawang, malah bikin curiga. Hadeeeh, malah repot.

Kalau sudah begini dan menimbulkan polemik baru, apa WhatsApp nggak menyempurnakan fitur delete message-nya aja? Jangan nanggung, kalau udah hapus pesan, ya kehapus semuanya gitu, jangan ada “jejak”-nya.

BACA JUGA Panduan Mengakhiri Chat di WhatsApp Biar Nggak Cuman Pakai “Haha-Hehe” Thok atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2020 oleh

Tags: aplikasidelete messageWhatsapp
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Shopee Lite: Minim Fitur, Nggak Pakai Lemot di HP

Shopee Lite: Minim Fitur, Nggak Pakai Lemot di HP

16 Mei 2023
alasan orang keluar dari grup whatsapp mojok.co

5 Alasan Orang Keluar dari Grup Whatsapp

4 Juli 2020
Trik Sukses Berjualan di WhatsApp agar Story-mu Nggak Di-skip Orang

Trik Sukses Berjualan di WhatsApp agar Story-mu Nggak Di-skip Orang

28 Mei 2020
SpeakPal dan Fondi, Aplikasi Brilian untuk Belajar Speaking Bahasa Inggris

SpeakPal dan Fondi, Aplikasi Brilian untuk Belajar Speaking Bahasa Inggris

5 November 2023
Dianggap Tak Setia Kawan karena Malas Simpan Kontak Teman yang Suka Ganti Nomor

Dianggap Tak Setia Kawan karena Malas Simpan Kontak Teman yang Suka Ganti Nomor

16 Maret 2020
Salah Kaprah Orang Tua dalam Menggunakan Emoticon untuk Berkirim Pesan

Salah Kaprah Orang Tua dalam Menggunakan Emoticon untuk Berkirim Pesan

13 Februari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

10 Agustus 2026
Jalan Nasional Purworejo vs Kulon Progo Ketimpangannya Begitu Terasa: Dalam Hitungan Meter, Dunia Begitu Berbeda

Purworejo, kota yang menyambutmu bukan dengan gapura selamat datang, tapi dengan jalan berlubang

5 Agustus 2026
Iuran wajib Hari Kemerdekaan Indonesia itu penjajahan gaya baru (Unsplash)

Tradisi iuran wajib untuk perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di kampung itu nggak masuk akal karena nggak semua warga punya uang sisa cuma buat panggung hiburan yang bikin berisik

9 Agustus 2026
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

8 Agustus 2026
Kontroversi [arfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

Kontroversi parfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

4 Agustus 2026
Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.