Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Anime

Pola Gaya Parenting Good Cop Bad Cop dalam Anime

Aminah Sri Prabasari oleh Aminah Sri Prabasari
11 November 2021
A A
Pola Gaya Parenting Good Cop Bad Cop dalam Anime terminal mojok.co
Share on FacebookShare on Twitter

Salah satu keheranan saya tiap kali menonton anime yang kental dengan nuansa parenting adalah perbedaan mencolok tentang gaya good cop bad cop berdasar gender. Parenting dengan gaya ini maksudnya bukan salah satu pihak mengambil peran protagonis dan lainnya antagonis, tapi soal ketegasan pada anak saja.

Hal yang terasa aneh dan membuat saya heran dari gaya parenting ini di anime adalah seringnya sosok bad cop bergender perempuan dan digambarkan sebagai sosok tanpa ampun. Sementara sosok baik hati, lembut, bijak, lebih banyak ditemukan di karakter laki-laki.

Idealnya, gaya parenting good cop bad cop ini dilakukan sebagai duet. Namun, di anime para single parent kerap memakai gaya ini dan hanya memerankan satu peran saja dengan berbagai alasan. Nggak percaya? Baiklah, mari ambil 4 judul anime dengan gaya parenting yang bertolak belakang sebagai sampel, baik single parent maupun tidak. Masing-masing 2 judul anime untuk “person in charge” gender laki-laki dan perempuan, gimana? Letzgo!

#1 Gaya Bad Cop Gender Perempuan di #1 Your Lie in April atau Shigatsu wa Kimi no Uso (2014)

Anime sebanyak 22 episode yang awalnya berupa manga ini ceritanya dalem dan berkesan banget. Sampai-sampai diadaptasi menjadi film pada 2016 dan drama panggung pada 2017.

Ia menceritakan perjalanan hidup Arima Kousei yang memiliki ibu seorang pianis hebat yang sedang sakit parah. Kousei dididik dengan sangat keras, tamparan demi tamparan sudah menjadi makanan sehari-hari, padahal ia masih kecil. Saat SMP, Arima berhasil memenangkan kontes piano di Eropa. Bukannya senang, ibunya malah menampar dengan sangat keras, alasannya karena Kousei melakukan satu kesalahan kecil saat bermain piano.

Ibunya yang sakit adalah alasan Kousei mau belajar main piano, hingga diakui sebagai jenius. Ia berharap ibunya senang kemudian sembuh. Tapi perlakuan kasar ibunya karena memerankan bad cop saat mendidik anak sekaligus mengajari piano, malah membuat Kousei jadi patah hati.

Ia berkata sudah tidak kuat lagi, sudah melakukan yang terbaik, dan sebaiknya ibunya mati saja. Beberapa hari kemudian ibunya benar-benar meninggal. Demikian juga dengan kemampuan bermain piano Kousei, ia bahkan nggak bisa mendengar musiknya sendiri.

Ngeri banget, kan? Peran sebagai bad cop yang diambil oleh ibunya Arima Kosei ini malah jadi toksik ke anak. Dikritik bertubi-tubi, disakiti fisiknya tanpa ampun. Memang Kousei berhasil menjadi pianis yang disegani di usia yang sangat muda berkat didikan keras dan disiplin yang tanpa cela. Tapi ternyata ketenaran dan skill itu nggak penting.

Baca Juga:

Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia

Goa Jatijajar, Objek Wisata di Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi

Sebagai anak, Kousei hanya ingin menyenangkan hati ibunya supaya bisa sembuh. Apa hendak dikata, kritikan dan tamparan di masa kecil hingga remaja itu tumbuh menjadi inner critic. Ia menjadi suara di kepala yang terus-menerus mencela Kousei bahkan setelah dewasa.

Tonton, deh, meski sad ending dan banjir air mata. Arima Kousei diceritakan menemukan jalan untuk kembali bermain piano, tapi kali ini ia bermain untuk kebahagiaan dirinya sendiri.

#2 Gaya Bad Cop Gender Perempuan di #2 Chibi Maruko-chan (1990)

Bad cop kali ini saya menyukainya, jutek dan cerewet khas ibu-ibu pada umumnya. Ibunya Chibi Maruko-chan, pasti pada tahu, kan? Menyimak omelan ibunya Maruko di satu sisi bikin frustasi, di sisi lain bisa ngerti.

Siapa yang nggak senewen menghadapi anak perempuan yang pemalas, sembrono, kelewat kreatif, dan semaunya seperti Maruko? Berbeda dengan Kousei yang sebatang kara, saat ibunya menjadi bad cop, Maruko punya kakak, ayah, kakek, dan nenek yang membantunya mengatasi emosi-emosi negatif akibat diomeli.

Ada banyak good cop di rumah Maruko, membuat gaya parenting good cop bad cop yang ideal bisa dilakukan tanpa merusak kebahagiaan dan keceriaan si anak di keseharian.

Selain itu, ibunya Maruko juga nggak toksik. Omelan, jeweran, hukuman, diberikan sesuai dengan kesalahan Maruko. Ini membuat Maruko paham kenapa ia dihukum, kemudian kapok dan menyesali kenakalannya bahkan mau meminta maaf. Sisi bad cop ibunya Maruko keluar untuk bersikap tegas dan hanya fokus pada kenakalan serta kesalahan yang memang perlu dibenahi.

Oleh karena itulah sifat-sifat baik Maruko tetap ada, bahkan diapresiasi dan didukung oleh ibunya. Meski sering jadi bad cop, ibunya Maruko nggak pernah menahan diri soal ungkapan sayang dan dukungan. Maruko tumbuh menjadi anak perempuan yang mudah berempati dan baik hati berkat gaya parenting yang ini.

Cerita Chibi Maruko-chan yang bergenre slice of life ini awalnya adalah manga yang terbit sejak 1986 hingga 1996. Diadaptasi menjadi anime dan tayang di televisi sejak 1990 hingga sekarang. Maruko adalah anak perempuan usia 9 tahun, kelas 3 SD. Meski begitu, anime ini bisa ditonton berbagai usia karena menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang kelas menengah yang sederhana.

#3 Gaya Good Cop Gender Laki-laki di #3 School Babysitters atau Gakuen Babysitters (2018)

Membicarakan parenting di anime tanpa menyebut Gakuen Babysitters itu nggak sopan. Bergenre slice of life, anime ini cocok untuk segala umur. Meski ada sisipan komedi, anime Gakuen Babysitters yang diadaptasi dari manga (terbit pada 2009) juga menguras air mata. Tontonlah, hanya 12 episode, kok.

Menceritakan Ryuuichi seorang anak SMP jelang SMA dan adiknya yang masih balita bernama Kotaro. Orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan pesawat. Pimpinan dari Akademi Morinomiya menawarkan tempat tinggal, biaya sekolah, dan biaya hidup dengan syarat Ryuuichi harus ikut membantu di pusat penitipan anak di sekolah.

Kebetulan Ryuuichi adalah remaja yang penyayang, baik hati, dan ramah. Potret seorang good cop sejati, yang kalau maksa jadi bad cop sudah pasti bakalan gagal. Karakter Ryuuichi membuatnya mudah menjalankan tugas sebagai pengasuh anak.

Dari Ryuuichi bisa belajar perspektif parenting yang menarik. Bahwa anak usia balita punya cara berpikir yang sangat berbeda dengan orang dewasa. Jika orang dewasa mau dengan bijak memahami cara berpikir tersebut, akan lebih mudah dalam mengasuh. Good cop tanpa bad cop bisa dijalankan, tapi tetap saja nggak bisa sendirian. Ada kalanya merasa capek dan kerepotan, jelas itu butuh support system.

Ryuuichi yang seorang diri merawat Kotaro setelah orang tua mereka meninggal belum sempat berduka dengan leluasa, sudah harus merawat adiknya dan bekerja mengurus banyak balita lainnya. Jangankan remaja usia belasan tahun, orang dewasa yang sudah berpengalaman mengasuh anak pun pasti akan kepayahan dan stres. Ryuuichi berhasil bertahan berkat keteguhan hatinya untuk membesarkan Kotaro, ia bahkan bisa disukai balita dan bayi yang diasuhnya.

Padahal Ryuuichi bisa saja egois dan menelantarkan Kotaro. Mungkin juga melampiaskan emosinya. Tapi tidak ia lakukan. Orang tua yang punya kecenderungan toksik dan egois perlu nonton anime ini untuk belajar dari Ryuuichi.

#4 Gaya Good Cop Gender Laki-laki di #4 Shounen Maid (2016)

Selain good cop bergaya komedi yang hangat di Gakusen Babysitters, ada juga gaya komedi nyeleneh. Berawal dari manga (2008), Shounen Maid adalah salah satu anime wajib tonton terkait parenting karena benar-benar berbeda.

Ketika dua orang yang asing satu sama lain berbeda usia, latar belakang, dan kepribadian harus tinggal seatap sudah pasti hasilnya adalah chaos. Tapi ternyata dua orang ini menemukan cara yang nyaman, dengan cara yang tak biasa. Sebagai anak dan wali pula.

Lantaran ibunya meninggal sebab sakit jantung, Chihiro menjadi anak yatim piatu. Ia meyakini hanya ibunya lah satu-satunya keluarga yang ada. Ternyata Chihiro salah. Suatu hari Chihiro bertemu Madoka yang mengaku sebagai pamannya. Ia mengajak Chihiro tinggal bersamanya.

Awalnya Chihiro mau karena tak punya pilihan, tapi setelah melihat rumah besar Madoka ia menjadi sangsi. Chihiro dan ibunya hidup sangat sederhana bahkan berkekurangan. Karena itulah ibunya sangat sibuk bekerja sampai tak punya waktu untuk Chihiro. Bahkan saat ibunya sakit pun, tak ada yang mengulurkan bantuan dari keluarga Takatori.

Chihiro serta merta menolak bantuan Madoka. Namun, Madoka punya cara jitu yaitu menawarkan pekerjaan sebagai pelayan karena Chihiro sangat suka bersih-bersih. Bayaran Chihiro adalah makan 3 kali per hari plus camilan, biaya sekolah, dan disediakan ruangan pribadi.

Trik Madoka ini adalah gaya good cop yang tak biasa. Meski lebih tua dan berstatus wali, Madoka menempatkan diri setara dengan Chihiro. Alih-alih memaksa atas nama perwalian, Madoka malah menawarkan pekerjaan.

Ia memahami Chihiro tidak ingin berutang budi pada keluarga Takakori. Padahal Madoka adalah seseorang yang sudah dewasa, sementara Chihiro hanyalah anak SD. Madoka menghormati Chihiro sebagai individu, sekaligus menghormati pola asuh yang diterapkan kakaknya pada Chihiro.

Hubungan keluarga memang sering kali rumit. Merasa benar dan minta dipatuhi karena usia lebih tua malah cenderung merusak hubungan. Jika kamu ada kecenderungan seperti ini, coba tonton Shounen Maid.

***

Tentu saja ada orang tua laki-laki yang memilih jadi bad cop, seperti Isshin Kurosaki di Bleach (2004-2012). Atau orang tua perempuan menjadi good cop, seperti Hana di Wolf Children (2012). Akan tetapi, memang ada pola tertentu di penceritaan manga tentang parenting. Dan hal ini lazim di masyarakat dengan kultur patriarki yang kuat.

Meski terbukti efektif untuk jangka pendek, gaya parenting good cop bad cop juga punya kelemahan. Ia berisiko menumbuhkan pola hubungan negatif yang mengikis rasa aman anak saat berinteraksi dengan orang tua, membuat anak memiliki bias terkait gender, dan membuat anak memihak serta memilih salah satu orang tua sebagai favorit.

Oleh karena itu, jika memutuskan memakai gaya parenting yang ini kita harus ekstra berhati-hati karena risikonya terlalu besar.

Sumber Gambar: Unsplash.com

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 November 2021 oleh

Tags: animegaya parentingGood Cop Bad Coppilihan redaksi
Aminah Sri Prabasari

Aminah Sri Prabasari

Perempuan yg merdeka, pegawai swasta yg punya kerja sambilan, pembaca yg sesekali menulis. Tertarik pada isu gender, politik, sosial dan budaya.

ArtikelTerkait

Meskipun Upah di Jogja Murah, Saya (Terpaksa) Kuat untuk Bertahan

Meskipun Upah di Jogja Murah, Saya (Terpaksa) Kuat untuk Bertahan

30 November 2022
Kalau Mau Menua dengan Tenang Jangan Nekat ke Malang, Menetaplah di Pasuruan!

Kalau Mau Menua dengan Tenang Jangan Nekat ke Malang, Menetaplah di Pasuruan!

15 Desember 2025
5 Drama Korea yang Wajib Ditonton Minimal Sekali Seumur Hidup Terminal Mojok

5 Drama Korea yang Wajib Ditonton Minimal Sekali Seumur Hidup

4 Juli 2022
Apakah Malioboro Masih Istimewa Tanpa PKL di Emperan Toko? terminal mojok.co

Apakah Malioboro Masih Istimewa Tanpa PKL di Emperan Toko?

20 Januari 2022
5 Alasan Mie Sukses's Nggak Sukses Merebut Hati dan Lidah Masyarakat Indonesia

5 Alasan Mie Sukses’s Nggak Sukses Merebut Hati dan Lidah Masyarakat Indonesia

7 Agustus 2025
Anggota DPR, Profesi yang Paling Cocok dan Sesuai dengan Gaya Hidup Gen Z

Anggota DPR, Profesi yang Paling Cocok dan Sesuai dengan Gaya Hidup Gen Z

6 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

1 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

1 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga
  • Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.