Dari sekian organisasi eksternal (ormek) yang ada di Indonesia, saya yakin kalian akan mudah menebak ormek mana yang mendominasi di Bangkalan Madura. Ya, tentu saja the one and only, yakni PMII. Keberadaan PMII bahkan bukan saja mendominasi di Bangkalan Madura, tapi juga sampai memonopoli gerakan, terutama gerakan-gerakan di internal kampus. Singkatnya, kalau kalian bukan PMII artinya kalian nggak boleh ikut. Hehehe.
Nah, yang perlu kalian sadari, ketahuilah bahwa yang anggotanya banyak belum tentu kondisinya sehat, yang memukau luarnya juga belum pasti bagus dalamnya.
Demikian pula PMII Bangkalan, karena mereka mayoritas bukan berarti kebijakan mereka selalu benar-benar bijak. Beberapa masih perlu dikritik, terutama kebiasaan mereka bersama pejabat yang sering bermanis-manis.
PMII Bangkalan tidak bisa lepas dari para pejabat
Kalau saya ilustrasikan, PMII Bangkalan itu paling tepat kita sebut sebagai anak angkat para pejabat. Sebab, program kerja mereka seperti tak pernah bisa jalan jika tak dapat ridlo dari Pemkab. Kenapa saya bilang begitu, toh buktinya foto bupati dan wakil bupati tak pernah absen di pamflet proker PMII Bangkalan. Bahkan bukan bupati-wabup saja, jajaran DPR juga ikut terpasang.
Kemudian, foto para pejabat ini juga sering terpampang lebih besar daripada pengurus PMII Bangkalan sendiri. Misalnya, pamflet Konferencabnya kemarin. Haduh, apa patut foto pejabat pemkab ikut juga ikut ditempel. Lebih besar lagi. Jujur, saya malah berpikir kalau PMII Bangkalan itu sudah terang-terangan mengakui bahwa mereka disetir sama pejabat Bangkalan.
Maksud saya gini, kalau memang tidak disetir, apa urgensi nempelin wajah mereka di pamflet kalian?
Demo yang diadakan jadi percuma
Kalau kita perhatikan mana ormek yang cukup sering mengkritik Pemkab Bangkalan, mungkin PMII akan berada di urutan pertama. Bahkan menurut saya, sepertinya tidak ada kader PMII Bangkalan yang sepanjang tahun bisa berjalan tenang tanpa ada demonstrasi. Saya sampai bingung, demonstrasi itu emang udah jadi program kerja atau benar-benar panggilan hati mereka, atau cuma pengen cari muka.
Saya tak mengatakan menyuarakan pendapat itu tidak baik. Kebebasan untuk menyampaikan kritik itu sangat baik. Apalagi di negara demokrasi seperti kita ini. Tapi masalahnya, apalah arti demo-demo itu jika setelahnya kalian tetap bermanis-manis pada kelompok yang kalin lawan. Bukankan itu malah mencederai gerakan?
Inilah yang membuat PMII Bangkalan terasa aneh, bulan kemarin demo mengkritik pemkab. Eh, bulan depan bisa ngadain acara besar-besaran sama pejabat.
Harus 100% berdiri bersama rakyat
Gerakan pemuda, apalagi mengatasnamakan mahasiswa, sudah tidak ideal kalau hubungan dengan penguasanya sudah sangat harmonis. Bisa-bisa idealisme mereka akan dipangkas oleh uang, jabatan, dan kepopuleran. Nah, tiga hal itu saya harap tidak ada dalam diri PMII Bangkalan. Sebab jika demikian, sama saja gerakan merekan menipu masyarakat.
Seharusnya, PMII Bangkalan mesti menjadi gerakan yang berdikari. Tak perlu minta ditopang sama pemkab, apalagi secara terang-terangan bermanis-manis ditampilkan pada rakyat. Maksud saya gini, apakah konferencab-nya akan gagal jika tidak memasang wajah pejabat, apakah kalian tidak kreatif sampai kalian harus menjadi anak angkat mereka.
Jika PMII Bangkalan bisa berdiri dengan gerakannya sendiri, tentu kalian akan sepenuhnya bisa membela rakyat. Yah, kalau setengah-setengah menghamba pada pejabat, ya pengabdiannya untuk masyarakat juga pasti setengah.
Coba bayangkan, mau konferencab saja kalian harus minta izin sama bupati dan wakil bupati, apalagi kalau kalian bersikap kontra pada mereka.
Ya, itulah kritik saya pada PMII Bangkalan. Saya tak menyebut semua kadernya seperti itu, tapi strukturalnya memperlihatkan fenomena demikian. Maka maklum jika saya menyimpulkan PMII Bangkalan itu aneh, suku kritik tapi juga bermanis-manis sama orang yang sama.
Kalau PMII Bangkalan begini terus, jangan heran ya kalau mahasiswa akhirnya pindah ke ormek lain. Atau malah ormek akan makin tenggelam. Entah ya!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
