Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Pesta Demokrasi Berujung Maut

Dinda Anisa Eqsanti oleh Dinda Anisa Eqsanti
2 Mei 2019
A A
Pesta Demokrasi Berujung Maut
Share on FacebookShare on Twitter

Tahun 2019 merupakan tahun yang sangat istimewa bagi Indonesia. Tepatnya 17 April 2019, rakyat Indonesia yang telah punya hak pilih ikuti pemilu. Hanya butuh waktu lima menit untuk mencoblos, tetapi sangat berpengaruh untuk lima tahun ke depan.

Sayangnya, pesta demokrasi tahun 2019 ini diwarnai banyak kejadian sedih. Isu kecurangan, hingga ratusan petugas KPPS meningal dunia karena kelelahan. Banyak yang perlu dievaluasi.

Kasus Demokrasi

Salah satu kasus yang saya tahu adalah meninggalnya Soemantri (51), Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Desa Kertajadi. Beliau meninggal karena kelelahan mengerjakan tugas yang seperti tidak kunjung selesai.

Soemantri sebenarnya telah mengeluhkan dadanya sakit sejak penghitungan suara. Namun, beliau tetap mengerjakan tugas. Dan pada akhirnya, ketika ambruk dan dibawa ke rumah sakit, Soemantri dinyatakan meninggal dunia.

Camat Cidaun, Herlan Iskandar, berharap agar kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi. Herlan juga meminta kepada partai politik agar tidak selalu berprasangka buruk kepada petugas KPPS di lapangan yang kerjanya sudah sangat berat. Itu baru satu kasus. Hingga 1 Mei 2019, ada 377 petugas KPPS yang meninggal dunia dan 883 orang sakit karena kelelahan.

Salah seorang warga Lubang Buaya, Jakarta Timur, Bachtiarudin Alam menyebut, pelaksanaan pemilu tahun ini sangat melelahkan. Rumitnya alur tugas menambah beban penyelenggara.

Baba, demikian dia akrab disapa, juga melihat waktu pengerjaan tugas yang terlalu sempit. Jatah istirahat lewat begitu saja demi mengejar waktu. Kendati begitu, menurutnya, jatuhnya korban bukan hanya karena pola pemilu serentak, melainkan mekanisme teknis yang kurang diperhatikan.

“Kalau menurut saya, pemilu serentak seperti ini tidak terlalu berpengaruh. Asal, pembuat aturan dapat membuat mekanisme yang simpel dan memudahkan. Jangan ingin terkesan aman dan teliti pada akhirnya hanya sia-sia contoh logistik yang terlalu beragam dan rumit,” tuturnya.

Baca Juga:

Mantan Narapidana Korupsi Jadi Ketum Parpol Adalah Bukti Bobroknya Sistem Demokrasi Indonesia

Emangnya Kenapa kalau Artis Jadi Caleg?

Untuk itu, lanjut Baba, pola tersebut tidak relevan untuk diterapkan di Indonesia. “Idealnya mungkin saya berharap electronic vote saja, sepertinya lebih simpel dan mudah. Semo nggak saja pemilu atau pilkada nanti e-vote sudah bisa dilaksanakan di Indonesia,” katanya berharap.

Keresahan Pemilu

Sehari setelah pesta demokrasi, kuping saya panas ketika setiap orang bertanya “Di TPS-mu selesai jam berapa kemarin? Ada kejadian apa saja?” Mereka malah sibuk mencari kabar dan membandingkan dengan TPS lain. Ya, gimana nggak panas, ketika sudah seharian penuh ngurus pemilu, besoknya masih dibahas lagi. Dengar ceritanya saja sudah capek apalagi mengingatnya.

Nah, lebih panas lagi ketika mendengar banyak terjadi kecurangan. Ada oknum yang sengaja menggiring pemikiran negatif yang ditujukan kepada KPPS. Padahal, KPPS sudah disumpah untuk bersikap adil dan netral.

Menurut pendapat saya, daripada berprasangka buruk soal kecurangan, lebih baik menunggu hasil resmi dari KPU. Jangan saling menuduh satu sama lain. Pesta demokasi sudah merenggut korban jiwa, masih dituduh curang.

Pada pemilu tahun ini, selain sebagai pemilih, saya juga ditugaskan sebagai saksi salah satu partai. Namun, di sini sebenarnya saya tidak ingin memperlihatkan lebih condong ke siapa. Saya hanya bercerita pengalaman saya.

Saksi Pesta Demokrasi

Mulai dari bangun pagi untuk datang lebih awal, hingga dini hari menjalankan tugas sebagai saksi yang hanya duduk memperhatikan saja capeknya luar biasa. Apalagi saya melihat para petugas KPPS yang super sibuk, bahkan ada yang tidak sempat mandi. Saya juga memperhatikan beberapa petugas yang full time bekerja di TPS. Apakah sudah salat atau belum? Saya tidak tahu.

Mereka merelakan kepentingan pribadi dan ibadahnya demi honor yang tidak sebanding. Sebuah wujud kecintaan kepada negara. Honor tak seberapa, pengorbanan maksimal.

Mari berprasangka baik kepada KPU. Mereka sudah mempersiapan pemilu serentak ini sekuat tenaga, tetapi masih difitnah dan banyak isu yang dibuat-buat. Salah satunya yaitu tentang kesalahan data C1.

Memang, bisa saja terjadi kesalahan input data karena faktor kelelahan karena bekerja lebih dari 24 jam. Jadi, saran saya untuk para netizen, mohon bersabar menunggu pengumuman resmi dari KPU pada tanggal 22 Mei 2019.

Para petugas KPPS, TPS, saksi, dan pihak lain yang menjadi korban pesta demokrasi perlu mendapatkan apresiasi. Tak perlu disebut sebagai pahlawan. Cukup dengan menghargai kerja keras mereka dengan tidak taklid buta menyebut ada kecurangan. Jika merasa ada kecurangan, gunakan kanal yang tepat untuk menggugat.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 November 2025 oleh

Tags: DemokrasiPilpres 2019
Dinda Anisa Eqsanti

Dinda Anisa Eqsanti

ArtikelTerkait

humanis 22 mei

Potret Humanis dan Sisi Positif dari Aksi 22 Mei 2019

24 Mei 2019
Mentakwil Pertarungan Politik di Tahun 2020

Mentakwil Pertarungan Politik di Tahun 2020

10 Februari 2020
ijtima ulama iv

Menanggapi Delapan Poin Hasil Ijtima Ulama IV yang Gitu-Gitu Aja

7 Agustus 2019
lebaran Khong Guan

Cerita Hari Raya, Dari Khong Guan Hingga Pelaminan

3 Juni 2019
Mari Bersepakat, 5 Oktober Adalah Hari Pengkhianatan Nasional terminal mojok.co RUU Ciptaker Omnibus Law

Demokrasi Saja Tidak Cukup

27 September 2019
media sosial

Puasa Media Sosial: Sarana Refleksi Diri

25 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang Mojok.co

Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang

1 April 2026
Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

4 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Ruwet Urusan sama Pesilat: Tak Nyapa Duluan dan Beda Perguruan Pencak Silat Langsung Dihajar, Diajak Refleksi Malah Merasa Paling Benar
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga
  • Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.