Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Pesan untuk Para Peserta Pemilu dari Guru PAUD

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
28 November 2022
A A
Pesan untuk Para Peserta Pemilu dari Guru PAUD

Pesan untuk Para Peserta Pemilu dari Guru PAUD (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

PAUD dianggap sebelah mata. Padahal tugasnya adalah gerbang utama mendidik penerus bangsa, yang jelas-jelas tak mudah

Ibu saya saat itu masih membereskan berkas-berkas sekolahnya ketika saya mengajaknya untuk ngobrol via telepon. Dalam beberapa bulan terakhir, Ibu saya yang seorang Kepala Sekolah PAUD sering mengeluhkan berbagai hal yang menyangkut pendidikan tingkat paling awal ini. Mulai dari merasa dianak tirikan oleh pemerintah, hingga disepelekan perjanjian kerjasamanya oleh salah satu Sekolah Dasar Negeri di daerah Kabupaten Lembata.

PAUD, hingga sekarang, masih sering disepelekan dan dianggap bukan sebagai bagian dari fase pendidikan anak oleh banyak masyarakat. Intinya PAUD atau pendidikan yang menaungi Taman Kanak Kanak (TK), Kelompok Bermain (KB), dan Satuan PAUD Sejenis (SPS) itu bukan pendidikan wajib.

Menyadari bahwa tahun depan telah memasuki tahun politik, saya kemudian bertanya kepada Ibu saya tentang apa yang menurutnya harus dilakukan oleh para caleg, cabup, atau capres itu untuk PAUD ketika berhasil memenangkan pemilu 2024 nanti.

Pengakuan Guru PAUD dalam Regulasi

Ibu saya membuka statement-nya dengan mengatakan bahwa akar masalah karut marutnya ekosistem PAUD, terlebih yang terletak di daerah-daerah pelosok adalah karena eksistensinya tidak diakui secara gamblang dalam UU Tentang Guru dan Dosen. Ini bikin status Guru PAUD ibarat mentimun bungkuk yang kehadirannya nggak diakui dan nggak diberikan perhatian secara lebih rinci. Guru PAUD (yang bukan PNS) hanya dianggap sebagai tutor atau relawan dengan beban kerja yang cukup berat.

Profesi Guru PAUD akhirnya dipandang sebelah mata. Banyak yang hanya menjadikan profesi guru PAUD sebagai batu loncatan karena tidak menawarkan golongan atau jenjang karier yang jelas ketika sudah berkecimpung.

Oleh karena itu, Ibu saya berpesan bahwa RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang di dalamnya memuat secara khusus tentang Guru PAUD agar menjadi prioritas yang harus segera disahkan.

RUU Sisdiknas memberi pengakuan kepada lembaga PAUD, pendidik, dan lembaga pendidikan nonformal yang melayani pendidikan kesetaraan. Melalui RUU ini, lembaga PAUD yang menyelenggarakan layanan untuk anak usia 3-5 tahun dapat diakui sebagai satuan pendidikan formal dan pendidiknya dapat diakui sebagai guru sehingga bisa mendapatkan peningkatan penghasilan dan kesejahteraan.

Baca Juga:

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan

Kesejahteraan ini salah satunya ditandai dengan memberikan kesempatan yang lebih luas untuk memperoleh fasilitas sertifikasi dan pelatihan peningkatan kapasitas SDM dari lembaga-lembaga kompetensi terkait di dalam negeri.

Peningkatan Insentif Guru PAUD

“Insentif jadi isu yang paling krusial dalam dunia PAUD”, ujar Ibu saya. Berbeda dengan jenjang pendidikan lainnya yang apabila statusnya negeri akan sedikit berkurang beban operasional dan insentif gurunya, tapi bagi PAUD atau TK Negeri, justru sebaliknya. Apabila PAUD Swasta bisa mengandalkan Yayasan untuk menambah kesejahteraan para guru-gurunya, PAUD Negeri sendiri harus berpeluh keringat menyusun strategi agar insentif untuk para guru honorer memperoleh nominal yang layak.

Nominal alokasi Biaya Operasional Penyelenggara (BOP) saja hanya di kisaran angka 100k-200k per guru dalam sebulan. Khusus di sekolah yang dipimpin oleh Ibu saya, setiap guru memperoleh 175k per bulan. Bayangkan, 175k. Jangan tanya cukup atau nggak, sebab jawabnya satu: NGGAK. Jangan ajari siasat hidup dengan uang segitu, itu namanya penghinaan.

Untuk menyiasati minimnya insentif untuk para guru, Sekolah PAUD pun membebankan biaya SPP. Nantinya biaya itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan si anak sekaligus menambah insentif. Kalau pemerintah desanya itu peka dan peduli, biasanya insentif ini akan ditambah juga dari dana desa. Tapi kembali lagi, nggak semua desa punya kepedulian begitu.

Ibu saya menegaskan bahwa insentif guru PAUD harus jadi perhatian oleh para caleg, cabup, cagub, dan capres. Dan tentu saja, diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Ingat, peran guru PAUD itu penting, mereka jadi pihak pertama yang mengenalkan dunia pendidikan  secara langsung ke anak-anak. Mereka harus mengajarkan hal-hal dasar seperti aspek kognitif, nilai agama dan moral, fisik motorik kasar dan halus, sosial emosional, seni dan dan kemampuan berkomunikasi dan berbahasa. Dengan tanggung jawab begitu, mosok yo cuma dikasih insentif 200 ribu per bulan.

Bikin Program yang Bikin Orang Tertarik Jadi Guru

Ini yang jadi perhatian Ibu saya. Menurutnya jadi guru PAUD itu sering kali dianggap sebagai relawan, jadi sepi peminat. Kalau ada yang minat, mereka datang dari SDM lulusan SMA. Padahal, pendidikan PAUD itu membutuhkan tenaga pendidik yang minimal S1. Ini jadi hal yang dilematis. Mau ditolak kok butuh tenaga pendidik, tapi diterima kok belum sesuai kualifikasi.

Minimnya sumber daya pendidik PAUD ini bikin kepala sekolah macam Ibu saya harus merangkap pekerjaannya. Yang mengurus sekolah dari aspek manajerial, kurikulum, administrasi, bahkan sampai jadi tukang kebun yang merapikan taman sekolah.

Oleh karena itu, dia berharap para petinggi negeri ini nantinya bisa menghadirkan program khusus guru PAUD agar profesi ini nggak dipandang sepele.

Saya yang mendengar pesan-pesan dari Ibu saya ini kemudian nyeletuk, “Bu, yakin pesan Ibu ini bakal didengar mereka? Lah wong sistem pendidikan di atas aja masih belum beres, ini mau ngurusin yang di bawahnya.”

Ibu saya diam. Saya pun ikutan diam. Saya dan Ibu sepertinya punya jawaban yang sama, yang tersampaikan meski tanpa suara.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Biaya PAUD Jogja Mahal, Niatnya Montessori jadi “Money, Sorry”

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 28 November 2022 oleh

Tags: guru paudkesejahteraanPendidikan AnakregulasisisdiknasTK
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Odong-odong: Hiburan Murah Tanpa Standardisasi dan Regulasi

Odong-odong: Hiburan Murah Tanpa Standardisasi dan Regulasi

16 Januari 2023
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
Sepeda Listrik di Alun-Alun Gresik Meresahkan Pengunjung

Sepeda Listrik dan Bocil Kematian, Kombinasi Maut yang Sukses Bikin Pening, Saatnya Bikin Regulasi!

7 April 2025
arti regulasi dan legislasi yang sering tertukar istilah hukum mojok.co

Arti Legislasi dan Regulasi, Dua Istilah yang Sering Tertukar

18 Agustus 2020
kesetaraan gender

Mengapa Perlu Memperkenalkan Kesetaraan Gender pada Anak?

27 Mei 2019
Susahnya Jadi Guru PAUD: Kadang Nggak Cuma Mendidik Anak, tapi Juga Kena Semprot Orang Tua yang Menyebalkan

Susahnya Jadi Guru PAUD: Kadang Nggak Cuma Mendidik Anak, tapi Juga Kena Semprot Orang Tua yang Menyebalkan

18 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menghadapi Kultur Lawan Arah di Lebak Bulus Raya: kalau Ditegur Galak, tapi kalau Kena Tilang Langsung Pasang Wajah Melas

Menghadapi Kultur Lawan Arah di Lebak Bulus Raya: kalau Ditegur Galak, tapi kalau Kena Tilang Langsung Pasang Wajah Melas

25 Februari 2026
Pulang ke Lembata NTT Setelah Lama Merantau di Jawa, Kaget karena Kampung Halaman Banyak Berubah Mojok.co

Momen Pulang ke Lembata NTT Setelah Sekian Lama Merantau di Jawa Diliputi Rasa Kaget, Kampung Halaman Banyak Berubah

25 Februari 2026
Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingunkan Pengunjung Mojok.co

Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingungkan Pengunjung

20 Februari 2026
Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya Mojok.co

Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Jadi Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya

23 Februari 2026
Jalan Kertek Wonosobo, Jadi Pusat Ekonomi tapi Bikin Sengsara (Unsplash)

Jalur Tengkorak Kertek Wonosobo Mematikan, tapi Pemerintah, Warga, hingga Ahli Klenik Saja Bingung Cari Solusinya

24 Februari 2026
Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang Mojok.co

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

23 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.