Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Musik

Pesan Moral yang Bisa Dipetik dari Kangen Band untuk Indonesia

Deddy Perdana Bakti oleh Deddy Perdana Bakti
14 Maret 2022
A A
Pesan Moral yang Bisa Dipetik dari Kangen Band untuk Indonesia Terminal Mojok

Pesan Moral yang Bisa Dipetik dari Kangen Band untuk Indonesia (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jika ada band yang melakukan gebrakan di kancah musik Indonesia pada tahun 2004, Kangen Band adalah salah satunya. Sayang seribu kali sayang, jika gebrakan sering kali identik dengan cara baru yang bisa memberikan napas segar atau inovasi baru yang disambut dengan gembira, Kangen Band justru tidak hadir dengan kesan seperti itu pada awal kariernya.

Waktu itu saya masih duduk di kelas 5 SD ketika grup band asal Lampung ini mulai tenar membawakan lirik-lirik lagu mereka yang mendawai dengan alunan musik pop Melayu. Lirik lagu mereka terdengar di mana-mana.

ADVERTISEMENT

Tulis cerita
Tentang aku dan dia
Sehingga membuatmu terluka
Sudah usai sudah
Jangan menangis lagi

Lirik lagu yang sekarang saya akui mampu menyayat hati ini, dulu disukai sekaligus dibenci banyak orang. Kehadiran Kangen Band bagaikan sebuah anomali. Mereka berbeda dengan apa yang ditawarkan oleh band lain seperti Peterpan (Noah), Dewa, Padi, Sheila on 7, dll., band-band dengan vokalis bersuara bagus, lagu puitis, dan tentunya penampilan tampan, bak syarat wajib iklan-iklan lowongan kerja sekarang.

Kangen Band berbeda dari Sheila on 7 yang begitu digandrungi masyarakat pada masanya (Bonma Suriya/Shutterstock.com)

Sebaliknya, lagu Kangen Band dianggap sebagai “lagu banci” dengan vokalis yang dijuluki “babang tamvan” oleh beberapa orang baru-baru ini. Ketika pertama kali muncul, suara Andika, sang vokalis Kangen Band pun dianggap fals.

Kebencian banyak orang pada Kangen Band waktu itu menurut saya menggambarkan bagaimana karakter masyarakat kita yang mudah membenci sesuatu tanpa pendirian, meremehkan karya lokal, dan suka membohongi diri sendiri.

Jangan membenci sesuatu karena ikut-ikutan

Perihal benci terhadap Kangen Band yang mungkin sempat bersemayam dalam pikiran kita, saya yakin itu bukan seratus persen berasal dari diri sendiri, melainkan pengaruh orang lain pada waktu itu. Saya baru menyadari kalau hal itu salah. Semudah itu kita bisa tergiring pada kebencian dan mengejek masa lalu orang yang tidak kita ketahui akar masalahnya.

Ego seseorang yang sedang atau masih mengalami masa puber akan mencari hal mana yang dianggap keren di mata orang banyak. Kita tentu tidak bisa mengakui betapa bagus dan easy listening-nya lagu Kangen Band karena takut dibully teman-teman sekitar kita. Padahal kalau diingat, sebetulanya ada beberapa lagu Kangen Band yang hits pada waktu kemunculan mereka. Bahkan mungkin ada satu atau dua lagu Kangen Band yang pernah kita simpan di hape Nokia atau Sony Ericsson kita zaman dulu dan pernah diputar berkali-kali. Hayo, ngakuuu.

Baca Juga:

Lampung Tak Hanya Terbuat dari Kopi dan Gajah, Ini 5 Hal yang Bisa Kalian Temukan di Lampung

3 Lirik Lagu Payah Kangen Band tapi Nyatanya Stuck in Your Head

Kebiasaan ikut-ikutan tidak berprinsip ini tampaknya menimbulkan bahaya laten yang sepertinya menjadi bom waktu bagi satu generasi masyarakat Indonesia. Jika seangkatan dengan saya, para pembenci Kangen Band itu berarti sudah berusia 19 tahun saat 2014 tiba. Usia tersebut sudah masuk kriteria pemilih aktif Pemilu. Hal ini tergambar pada situasi ketika Pilpres 2014 dan 2019 lalu di mana banyak black campaign yang disulut oleh beberapa orang tak bertanggung jawab dan diikuti banyak orang yang tidak kritis dan menyebarkan hoaks sampai ke sela-sela grup WhatsApp keluarga.

Banyak hoaks bertebaran jelang Pilpres 2014 dan 2019 lalu (Unsplash.com)

Dari fenomena yang terjadi itu, tidak menutup kemungkinan para pembenci Kangen Band dulu ikut andil dalam menyebarkan kebencian pada Pilpres lalu. Atau memang generasi kita yang sering menyimpulkan sesuatu tanpa observasi terlebih dahulu? Sudah berapa banyak orang di lingkungan kita—atau malah termasuk kita sendiri—yang masih sering tergiring opini liar?

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Jangan meremehkan karya lokal

Kehadiran band bergenre pop Melayu dengan lirik menye-menye tentu tidak seirama dengan band-band popular yang naik daun kala itu. Grup band Indonesia pastilah berkiblat ke band-band mancanegara macam Linkin Park, Avenged Sevenfold, Muse, Guns N’ Roses, dll.

Faktanya, Kangen Band dengan lagu Melayunya dianggap tidak mbois. Lagu dengan genre pop Melayu seolah tidak punya tempat di negeri ini. Padahal bahasa Melayu adalah akar dari bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia. Sebetulnya gaya dan bahasa yang dipakai pada lagu-lagu Kangen Band sangatlah dekat dengan kita, tetapi kita tidak menyadari potensinya.

Tak heran jika waktu itu industri musik Indonesia tergerus perlahan oleh budaya musik boyband dan girlband asal Korea Selatan. Hal tersebut berlangsung hingga tahun 2019 sampai mencuatnya legenda musik Didi Kempot yang berhasil menembus hati para generasi muda lewat lagu campursari berbahasa Jawa. Kehadirannya lantas diikuti penyanyi berbahasa Jawa muda lainnya seperti Denny Caknan, Ndarboy Genk, Guyon Waton, dll.

Kangen Band mengajarkan pada kita semua untuk tidak meremehkan musisi lokal (Unsplash.com)

Yang terbaru, lagu-lagu berbahasa lokal dari daerah timur Indonesia pun sudah mulai membanjiri kontestasi musik Indonesia. Kita tentunya sudah mendengar lagu yang berjudul “Janji Putih” dengan kata khas beta atau “I Love Mama Mantu” dari Bulan Sutena yang mulai mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia.

Seperti kata pepatah, “Kita tidak akan tahu betapa berartinya seseorang sampai kita kehilangannya.” Itulah yang bisa menggambarkan rasa kerinduan masyarakat Indonesia kepada karya-karya lokal seperti Didi Kempot atau yang lainnya setelah hilang sekian purnama. Rasa kangen itu juga dialami oleh Kangen Band. Ketika band asal Lampung ini kembali berkarya, lagu “Cinta Sampai Mati” yang mereka bawakan sampai sekarang masih masuk trending YouTube. Sempat dibenci, sekarang dirindukan.

Jujur dan apa adanya

Tabahkanlah hatimu
Oleh siksa orang tuamu
Ku yakin kita mampu
Bila kita saling menunggu

Jika diresapi, kejujuran Kangen Band dalam menuliskan lirik pada lagu “Penantian yang Tertunda” tersebut harusnya diartikan bahwa mereka berkarya dengan apa adanya. Bukan dengan cara membohongi diri sendiri dengan bergaya jadi seperti orang lain yang menggunakan kata-kata puitis.

Lirik lagu yang entah jujur, apa adanya, atau malah polos di atas tidak akan kita temui pada lirik lagu band-band luar terkenal macam Avenged Sevenfold atau Guns N’ Roses. Kita tidak akan menemukan lirik lagu berbahasa Inggris seperti di bawah ini pada lagu-lagu Avenged Sevenfold atau Guns N’ Roses.

Please, be patient
From your parent’s torture

Sepertinya Matt Shadows atau Axl Rose malu untuk menyanyikan lirik lagu seperti itu. Rocker macam apa nanti kata orang. Tidak segamblang Andika yang jujur, kalau ambyar ya ambyar. Kangen Band pede saja membawakan lagu yang memang sejalan dengan realitas kehidupan.

Dari penjabaran di atas, sebaiknya kita bisa belajar dari apa yang terjadi antara masyarakat Indonesia dan Kangen Band dahulu. Bahwa membenci sesuatu tanpa pendirian, meremehkan karya lokal, dan membohongi diri sendiri bukanlah sikap yang baik. Itu semua bisa dijadikan pembelajaran untuk generasi muda dalam menjalani kehidupan. Faktanya, Kangen Band dengan segala proses pahitnya, sekarang mulai diakui, diterima, dan mendapat tempat hati di masyarakat Indonesia. Nasib yang mungkin berbeda dialami oleh penghujatnya dulu.

Penulis: Deddy Perdana Bakti
Editor: Intan Ekapratiwi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 Maret 2022 oleh

Tags: kangen bandpesan moral
Deddy Perdana Bakti

Deddy Perdana Bakti

Lulusan Pendidikan Bahasa Inggris UMS. Seorang personalia perusahaan IT. Fans MU dan Timnas Indonesia (kalau menang)

ArtikelTerkait

acara musik alay RCTI promo program tv wagu mojok

Mengaku Saja, Kita Sebenarnya Rindu Acara Musik Alay di TV

3 Juli 2021
Mari Bersepakat 'Terbang Bersamaku' Adalah Lagu Kangen Band yang Terbaik terminal mojok.co

‘Juminten’ Adalah Lagu Kangen Band Paling Tidak Masuk Akal

26 November 2020
3 Hal Aneh pada Lagu Kangen Band Cinta Sampai Mati Terminal Mojok

3 Hal Aneh pada Lagu Kangen Band Cinta Sampai Mati

7 Maret 2022
Ternyata Juminten-nya Kangen Band Adalah Mbak-mbak Pekok yang Gemar Hedon terminal mojok.co

Ternyata Juminten-nya Kangen Band Adalah Mbak-mbak Pekok yang Gemar Hedon

11 Februari 2021
Di Kampung Saya Dulu, Kangen Band Adalah Band yang Sangat Dipuja terminal mojok.co

Di Kampung Saya Dulu, Kangen Band Adalah Band yang Sangat Dipuja

16 Oktober 2020
6 Istilah Lampung yang Wajib Diketahui Wisatawan

Lampung Tak Hanya Terbuat dari Kopi dan Gajah, Ini 5 Hal yang Bisa Kalian Temukan di Lampung

2 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen Mojok.co

8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen 

11 Juli 2026
Serengan, kecamatan paling mungil di Kota Solo yang potensial yang kerap terlewatkan Terminal

Serengan, kecamatan paling mungil di Kota Solo yang potensial, tapi kerap terlewatkan

12 Juli 2026
Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

8 Juli 2026
Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

11 Juli 2026
Orang Madura Serasa “Tamu” di Universitas Trunojoyo Madura, Mahasiswa hingga Dosen Isinya Pendatang Mojok.co

Nasib Alumni Universitas Trunojoyo Madura: Balik ke Rumah Menanggung Ekspektasi Orang Sekampung, Merantau Malah Jadi Insecure

7 Juli 2026
Di Madura, Biaya Oleh-oleh Haji Hampir Sama Besarnya dengan Biaya Keberangkatannya, Bikin Orang Jadi Enggan Berangkat  

Banyak Orang Madura Mampu Berangkat Haji tapi Nggak Berani karena Harus Beli Oleh-oleh buat Tetangga, Bisa Habis Puluhan Juta!

10 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.