Perspektif Mantan Produser Acara TV pas Nonton Acara yang Nampilin Kehidupan Orang Miskin

Artikel

Dessy Liestiyani

Subuh tadi saya agak mbrebes mili pas nonton sebuah acara sahur di TV. Padahal nih ya, itu acara lawakan. Walaupun agak garing kriuk, tapi dari acara yang (niatnya) ngajak ketawa supaya melek pas sahur itu, saya malah jadi mewek gara-gara ada selipan konsep charity yang bahas kehidupan keluarga pemulung yang cacat, lengkap dengan live chat di studio bareng keluarga bapak tersebut.

Kebanyakan acara TV seperti ini memang menampilkan kemiskinan dan kekurangan mereka. Hidup susah karena penghasilan tidak tetap, anak banyak, dan rumah yang seadanya. Tapi, apakah benar (kata orang) acara seperti ini mengekspos orang miskin? Sebagai orang yang pernah bekerja jadi produsen acara TV seperti ini, buat saya acara ini justru bikin banyak kalangan hepi lho.

Perusahaan TVnya hepi karena dapat rating yang tinggi. Perusahaan sponsornya hepi karena dapat image dan exposure yang baik. Sementara si Bapak pemulung juga hepi dapat uang tunai dan aneka hadiah. Satu-satunya yang tidak pernah saya ketahui adalah, apakah pemirsa hepi nonton acara kayak gini?

Sebenarnya acara kayak gini tuh baik kok. Setidaknya kita jadi tahu kalau ada keluarga yang hidupnya susah—dan bisa jadi mereka ada orang yang selama ini tinggal di daerah yang dekat dengan kita. Selain itu, acara ini bikin yang nonton jadi lebih bersyukur atas apa yang mereka miliki, ini tentu saja bisa mematahkan mitos kalo rumput tetangga nggak selalu lebih hijau dari rumput kita.

Sebenarnya seberapa penting sih acara seperti ini ditayangkan?

Sebagai mantan orang produksi di TV, saya melihat mungkin konsep seperti ini memang masih bisa dijual.  Berdasarkan analisa rating mungkin masih banyak orang yang ingin melihat tayangan seperti ini. Dan secara sponsorship juga masih laku untuk ditawarkan ke perusahaan-perusahaan pengiklan.

Baca Juga:  Ngabuburit di Pasar Ramadan yang Menggerus Perasaan

Namun saat ini kacamata saya adalah sebagai pemirsa. Di satu sisi saya cukup bisa memahami bagaimana rumitnya sebuah konsep bisa meluncur menjadi sebuah tayangan on air, namun di sisi lain jujur saja batin saya masih abu-abu masalah ini.

Memang acara ini bisa membuka mata kita untuk lebih peduli dengan orang lain dan lebih bersyukur. Namun apakah memang harus mengekspos mereka seperti itu? Alhamdulillah kalau efeknya baik. Dalam arti uang dan sumbangan yang diberikan bisa memperbaiki taraf hidup mereka selama beberapa waktu. Kalau di acara Bedah Rumah malah mereka bisa dapat tempat tinggal yang layak. Artinya mereka bisa merasakan efeknya lebih lama.

Namun jangan sampai niat yang sudah baik tersebut malah menimbulkan akibat yang dapat menyulitkan mereka. Misalnya dengan menerima sumbangan berjuta-juta yang ditayangkan secara langsung ke seluruh negeri, nanti malah dimintain uang sama tetangga-tetangganya. Atau dari kasus bapak pemulung yang cacat tadi, di mana anak-anak sang Bapak juga mempunyai kekurangan di tangan dan kakinya. Mereka masih kecil. Apakah mereka sudah siap mental kalau diejek teman-temannya? Maaf, tahu sendirilah karakter orang kita seperti apa, bukannya prihatin malah diliatin..

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah kita memang perlu ‘dibangunkan” dulu seperti itu untuk bisa berempati terhadap sesama? Dikasih tayangan yang mengaduk emosi, bikin dada sesak dan idung kembang kempis? Sumprit itu nggak enak banget..

Terus kalau kita nggak suka dengan tayangan seperti itu, bagaimana caranya kita bisa tahu dan bantu orang yang kekurangan? Mungkin cara yang paling mudah adalah membuka mata, melihat, dan mencari sendiri paling tidak di lokasi sekitar tempat tinggal kita. Bila kita menemukan orang yang sepertinya hidupnya susah, bantulah semampunya. Bisa berupa uang, makanan, sembako, atau sekedar kupon nasi bungkus. Bila secara materi kita pun susah, mungkin kita bisa bantu melaporkannya ke Pak RT, RW atau Pak Lurah setempat. Siapa tahu mereka bisa terdaftar sebagai penerima bansos.

Baca Juga:  Luhut, Mahfud MD, dan Upaya Menghibur Diri dengan Meme

Satu hal yang selalu saya ingat pada saat dulu mengerjakan acara seperti ini, yaitu melihat betapa bahagianya mereka menerima pemberian kita. Padahal mungkin uang atau barang yang kita berikan juga tidak seberapa. Tapi melihat mereka tersenyum, seakan aura bahagia mereka sudah cukup menjadi balasan, tanpa perlu mendengar ucapan terima kasih.

BACA JUGA Bagi Rakyat Miskin, Pemerintah Memang Tak Pernah Lebih Baik Ketimbang Acara Bedah Rumah atau tulisan Dessy Liestiyani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
16


Komentar

Comments are closed.