Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Personal Branding Ahmad Fauzi Begitu Berlebihan, Faktanya Tidak Sehebat Itu

Aqil Husein Almanuri oleh Aqil Husein Almanuri
17 Juli 2023
A A
Bupati Sumenep Maju Jadi Wagub Jatim 2024: Benahi Dulu Sumenep, Baru Mikir yang Lain! ahmad fauzi

Bupati Sumenep Maju Jadi Wagub Jatim 2024: Benahi Dulu Sumenep, Baru Mikir yang Lain! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Persobal branding Ahmad Fauzi saya kira sudah terlalu berlebihan

Menciptakan personal branding untuk membentuk opini positif masyarakat adalah hal wajar bagi para politikus yang ingin nyalon. Bagi saya ini adalah manusiawi. Tanpa personal branding yang bagus, kepercayaan masyarakat akan luntur, eksistensinya kurang dilirik. Bahkan, parahnya, jarang atau bahkan tidak ada yang mengenalnya. Branding itulah yang kemudian berpengaruh terhadap elektabilitas.

Begitu juga yang dilakukan Bupati Sumenep, Ahmad Fauzi (saya panggil Cak Fauzi saja, biar lebih akrab). Cak Fauzi mungkin telah sukses menciptakan branding yang bagus untuk dirinya, sehingga pada 2021 silam, dia dan Ny. Eva resmi dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Sumenep.

Terlepas dari pengaruh dominasi partai, barangkali dengan branding yang dibawa Cak Fauzi atas dirinya bisa menyentuh hati masyarakat Sumenep kala itu, termasuk saya.

Peserta politik elektoral tanpa personal branding itu bagai sop tanpa garam, hambar. Maka dibutuhkanlah beberapa daya pukau untuk menarik masyarakat, seperti contoh: Anies Baswedan dengan gaya Top of Mind Awareness-nya dan beberapa politisi lainnya, dengan gayanya masing-masing. Wajar!

Ahmad Fauzi diisukan maju jadi gubernur Jatim

Di Pilkada Jawa Timur mendatang, Cak Fauzi diisukan akan maju menjadi Gubernur Jawa Timur. Isu ini sedang gencar diberitakan dan menjadi obrolan. Beberapa momen pertemuan Fauzi dan Khofifah pun seolah makin memantapkan langkahnya untuk naik posisi.

Maka dari itu, sejak saat ini Cak Fauzi terlihat mulai menciptakan personal branding (sebagaimana yang saya maksud di awal). Glorifikasi-glorifikasi atas dirinya semakin santer dipromosikan, yang terbaru adalah deklarasi dukungan relawan Cak Fauzi Jatim untuk maju sebagai gubernur. Deklarasi tersebut digelar di Resto Agis Surabaya, 19 Juni yang lalu.

Para relawan mendorong Ahmad Fauzi untuk maju di Pilgub Jatim mendatang karena Cak Fauzi dinilai sangat pantas. Cak Fauzi—kata mereka—telah berhasil membangun Kabupaten Sumenep, menuntaskan kemiskinan, dan mensejahterakan masyarakat.

Baca Juga:

Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep

4 Pandangan Norak Orang Luar Madura tentang Orang Madura yang Perlu Diluruskan

Selain itu, karena kerinduan mereka terhadap M. Noer, mantan Gubernur Legendaris Jawa Timur. Maka, sosok dan kepribadian seorang Cak Fauzi dianggap bisa merepresentasikan sosok beliau.

Tapi, sebagai konsumen kebijakan Sumenep, setelah dipikir-pikir, glorifikasi dan apa yang dikatakan relawan atas Ahmad Fauzi bagi saya terlalu berlebihan. Bolehlah sebagai personal branding, tapi yang perlu diingat, personal branding itu harus selalu sejalan dengan track record. Biar tidak terkesan menipu atau mengelabui.

Tsunami fakta

Namun kembali lagi, diksi dalam politik elektoral itu memang hanya sekadar daya pukau dan cenderung omong kosong. Tak lebih.

Ketika relawan berkata Fauzi berhasil membangun Sumenep, saya tidak menemukan itu. Ada banyak masalah yang tidak diselesaikan dengan baik oleh Pemkab hingga saat ini. Kasus dan konflik lama masih banyak yang belum selesai. Konflik baru (yang bahkan lebih naif) berdatangan.

Ada beberapa alasan kenapa saya mengatakan branding atas Fauzi terlalu berlebihan.

Pertama, Sumenep di era Ahmad Fauzi tetaplah Sumenep yang menyedihkan. Cak Fauzi tak pernah benar-benar membangun Sumenep. Dia hanya pewaris yang (hampir) nggak ngapa-ngapain. Apalagi melihat maraknya konflik agraria yang terjadi belakangan.

Sedang panas-panasnya konflik ihwal privatisasi laut di Gersik Putih. Terjadi sengketa antara pemilik Sertifikat Hak Milik (SHM) dengan warga lokal yang rata-rata nelayan. Keduanya gaduh, namun sejauh ini belum ada rangkulan dari pihak Pemkab terkait masalah tersebut. Padahal, ini adalah bentuk meledaknya konflik agraria di yang terjadi di Sumenep.

Regulasi Pemkab atas perizinan tambak-tambak yang ada di Sumenep menjadi efek domino menakutkan bagi masyarakat. Bahkan, ada yang mengatakan pemkab telah terafiliasi dengan beberapa investor.

Alih-alih untuk bikin sejahtera, warga sekitar tambak justru merasakan dampak buruk, entah secara lingkungan dan ekonomi. Kalau begini, slogan “Bismillah Melayani” untuk siapa, Cak?

Ini baru satu masalah, belum lagi masalah lain. Seperti kemiskinan Sumenep yang makin mengkhawatirkan, prospek Visit Sumenep yang nggak jelas, pertambangan batu kapur atau fosfat yang bikin resah, dan lain-lain. Membangun Sumenep bagaimana yang dimaksud?

Perbandingan yang berlebihan

Kedua, perbandingan sosok Cak Fauzi dengan M. Noer. Semuanya sepakat bahwa M. Noer adalah gubernur legendaris yang tidak tergantikan di hati masyarakat kebanyakan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa jika ditanya siapa Gubernur Jawa Timur, jawabannya M. Noer, yang lain cuma pengganti.

Alasan relawan menyamakan sosok mereka ini salah satunya adalah karena keduanya dianggap sama-sama sebagai penggagas. M. Noer yang menggagas Jembatan Suramadu dan Fauzi dengan Reaktivasi Kereta Api Madura.

Fauzi (kabarnya) akan me-reaktivasi rel kereta kalau dia kepilih. Saya jadi ingat dengan janji tiket Coldplay Muhaimin Iskandar dan janji pemberantasan korupsi oleh Fahri Hamzah. Kurang dapat dipercaya, apalagi sudah menjadi rahasia umum, janji elektoral itu rata-rata bodong.

Sebagaimana yang ditulis aktivis lingkungan dan kiai muda Sumenep, Dardiri Zubairi, di akun Facebooknya beberapa waktu silam, sebenarnya reaktivasi kereta api itu bukan ide Fauzi. Melainkan, ini adalah ide salah satu tokoh agama di Madura sebagai counter atas didirikannya tol Bangkalan-Sumenep. Jadi, lagi-lagi Fauzi bukan penggagas, melainkan hanya pewaris ide.

Jadi menurut saya Cak, daripada Cak Fauzi menjual janji reaktivasi kereta api untuk maju ke Pilkada Jatim, lebih baik membenahi Sumenep yang amburadul dulu. Kalau rumah sendiri masih berantakan, ngapain ngurus rumah orang lain?

Penulis: Aqil Husein Almanuri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Madura Justru Amat Butuh Kereta Api!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Agustus 2023 oleh

Tags: ahmad fauzibrandinggubernurjawa timurPemilupemilu 2024sumenep
Aqil Husein Almanuri

Aqil Husein Almanuri

Hamba Tuhan yang Melankolis. Kadang mengajar, kadang nulis, kadang kuliah, kadang ngopi, dan gemar mengamati dunia politik pemerintah.

ArtikelTerkait

Bandara Dhoho Kediri Bikin Warga Kecewa dan Nggak Percaya karena Jadwal Operasional Molor Terus

Bandara Dhoho Kediri Bikin Warga Kecewa dan Nggak Percaya karena Jadwal Operasional Molor Terus

6 Januari 2024
Toko Basmalah, Toko Kelontong Penguasa Daerah Tapal Kuda, Pesaing Utama Indomaret dan Alfamart

Toko Basmalah, Toko Kelontong Penguasa Daerah Tapal Kuda, Pesaing Utama Indomaret dan Alfamart

21 November 2024
Rasisme Jawa Itu Nyata Dari Ngapak, Mataraman, sampai Arekan (Pexels)

Mencermati Rasisme Sesama Orang Jawa dari Ngapak, Mataraman, sampai Arekan

27 Januari 2025
5 Rekomendasi Tempat Wisata di Banyuwangi selain Kawah Ijen Terminal Mojok

5 Rekomendasi Wisata di Banyuwangi selain Kawah Ijen

23 Maret 2022
Mendol, Olahan Tempe Paling Enak yang Pernah Ada

Mendol, Olahan Tempe Paling Enak yang Pernah Ada

10 Januari 2022
Mojokerto Tenggelam Jika Jalan Benteng Pancasila Menghilang (Unsplash)

Membayangkan Nasib Orang Mojokerto jika Jalan Benteng Pancasila Tak Pernah Ada, Pasti Menderita dan Terlalu Bergantung sama Surabaya

28 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Keistimewaan Jadi Driver Ojol yang Saya Yakin Nggak Dirasakan Pekerja Lain Mojok.co

4 Keistimewaan Jadi Driver Ojol yang Saya Yakin Nggak Dirasakan Pekerja Lain

27 Januari 2026
Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya Mojok.co

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

29 Januari 2026
5 Cacat Pikir yang Orang Percayai tentang Cleaning Service, Pekerjaan yang Kerap Dipandang Sebelah Mata (Gil Ribeiro via Unsplash)

5 Cacat Pikir yang Orang Percayai tentang Cleaning Service, Pekerjaan yang Kerap Dipandang Sebelah Mata

30 Januari 2026
Pronosutan Kulon Progo, Tujuan Baru para Pelari dan Pencari Ketenangan

Pronosutan Kulon Progo, Tujuan Baru para Pelari dan Pencari Ketenangan

26 Januari 2026
Stasiun Cawang, Stasiun yang Bikin Saya Nangis Bawang Saking Ramenya yang Nggak Masuk Akal

Stasiun Cawang, Stasiun yang Bikin Saya Nangis Bawang Saking Ramenya yang Nggak Masuk Akal

26 Januari 2026
Kopi Klotok Jogja Tidak Buka Cabang (Foto milik Hammam Izzudin)

Kopi Klotok Jogja Tidak Buka Cabang karena Fenomena Ndeso Itu Mewah Tidak Bisa Ditiru

26 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah
  • Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS
  • Sasar Sekolah, Ratusan Pelajar di Bantul Digembleng Kesiagaan Hadapi Gempa Besar

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.