Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pernikahan yang Gagal, Si Tunggal vs Si Bungsu yang Tak Bisa Bersatu

Anisa Cahyani oleh Anisa Cahyani
1 Juli 2020
A A
Cewek Indonesia Impiannya Menikah dengan Bule Apa Nggak Pernah Pikir Panjang? terminal mojok.co

Cewek Indonesia Impiannya Menikah dengan Bule Apa Nggak Pernah Pikir Panjang? terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Ketika masuk kepala dua, hubungan yang langgeng tak hanya ditentukan oleh seberapa besar cinta kalian kepada pasangan. Banyak hal-hal di luar logika yang dahulu terasa tidak mungkin tapi nyatanya menjadi batu sandungan bagimu dan kekasihmu untuk melangkah lebih jauh, menuju pernikahan.

Perspektif sejauh mana target hubunganmu tentu hanya dirimu yang tahu. Namun, bukankah tujuan akhir dari pacaran itu, biasanya, menikah?

“Pacarku itu baik, pengertian, tiap hari ngisiin kuota, antar-jemput, traktir makan, lunasin keranjang belanja di Tokopedia, rajin ibadah, nggak main perempuan, de el el. Pasti dia calon bojoku kelak,” ujarmu dengan penuh semangat. Eits, jangan senang dulu! Coba kamu ingat lagi, sebelum ngomongin pernikahan, pacarmu menduduki klasemen anak keberapa?

Semakin hari, permasalahan di sepanjang rute menuju pernikahan semakin ada-ada saja dan selalu dihiasi bumbu balado-barbeque-asin-gurih yang bikin sakit tenggorokan. Mulai dari beda kasta, beda negara, sampai beda keyakinan (kamu yakin tapi dianya enggak).

Semua itu adalah hal lumrah yang bisa kamu temukan di mana saja. Jangan lega dulu, masih ada masalah lain yang berpotensi menjadi batu sandungan menuju pernikahan, yaitu urutan ke berapa pasangan dalam keluarga. MAMAM.

Kamu dan pasangan sudah satu kasta, satu negara, satu keyakinan, akan tetapi…tadaaa! Kenyataan mengatakan bahwa kamu dan pacar adalah si tunggal vs si bungsu kesayangan masing-masing orang tua.

Si tunggal tak boleh meninggalkan rumah karena menjadi harta satu-satunya bagi mama-papa dan si bungsu, dengan status “anak terakhir”, diharapkan menetap bersama orang tua. Kalau sudah begini, bagaimana jalan keluarnya?

“Nggak ada jalan keluarnya.Tiga tahun hubunganku ambyar karena masalah kayak gitu,” kata Amin, yang beberapa waktu yang lalu mengadu ke saya setelah pernikahan gagal terjadi.

Baca Juga:

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

Perasaan Bahagia Saat Sahabat Menikah Berubah Sedih dan Kesepian karena Sadar Kehilangan Teman Main dan Cerita

Amin adalah anak bungsu sementara mantan pacarnya adalah anak tunggal. Amin bercerita bahwa sebenarnya permasalahan kedudukan dalam keluarga sudah tercium di umur satu tahun hubungan. Namun, baru mencapai puncaknya setelah prosesi wisuda.

Ketika para perantau kembali ke daerah asalnya, mereka yang menjalin cinta di kota orang pun harus siap dengan segala kemungkinan. Perpisahan seperti ini, contohnya.

Para korban cinta beda domisili ini kemudian harus merelakan sang pujaan hati untuk bersanding dengan orang lain, padahal masih saling mencintai.

Tak hanya kasus si tunggal dan si bungsu yang menyedihkan, banyak juga dijumpai kasus anak tunggal bertemu rekan sejawatnya yang tak kalah mengenaskan.

Sebut saja Budi. Merelakan wanita yang dipacarinya selama 5 tahun pergi dengan orang lain karena sama-sama memegang gelar anak tunggal. Diskusi alot telah dilakukan selama hubungan berlangsung, tapi berakhir dengan sang pujaan yang tak berani mengambil resiko. Ya, perbincangan menuju perpisahan seperti ini tak hanya menguras tenaga dan air mata, tapi juga dompet.

“Jelas rugi, kalau mau hitung-hitungan. Kalau sekali jalan bisa habis Rp50 ribu, coba hitung 5 tahun dikali 365 hari dikali Rp50 ribu. Totalnya Rp91 juta lebih! Bisa buat nyicil rumah,” terang Budi suatu kali. Tapi masak, sih, rencana pernikahan yang gagal perlu dihitung seperti itu?

“Rasanya seperti buang waktu. Harusnya aku udah bisa koleksi lima mantan! Satu tiap tahun, kalau caranya begini,” gerutu Budi. Saya cuma bisa mendoakannya yang terbaik, terhindar dari masalah anak tunggal vs si bungsu.

Sesungguhnya permasalahan seperti ini dapat diatasi ketika kedua belah pihak orang tua tak saling meninggikan ego. Jika orang tuamu berada di Desa A dan si dia menghuni Desa C, bukankah kalian berdua bisa tinggal di Desa B?

Dibikin gampang saja. Lagian, biasanya, kalau tinggal di wilayah antara kayak gitu bikin enak untuk saling mengunjungi. Ya itu kalau solusi paling sederhana dari saya untuk pernikahan yang gagal terjadi karena masalah hierarki.

Lalu apa lagi yang dapat dilakukan bagi kalian para korban status anak dalam keluarga?

Saya mencoba bertanya kepada Budi terkait solusi yang seharusnya bisa diterapkan guna menyelamatkan hubungannya dengan sang mantan.

“Harusnya aku hamili dulu. Bisa buat nembusin langsung ke pernikahan,” jawab Budi. Jawaban yang serem betul dan jangan ditiru, ya. Budi cuma kebawa emosi saja dan nggak beneran sejahat itu. Udah saya jitak juga, kok.

Kini, giliran Amin yang mengeluarkan pendapatnya.

“Harusnya kan bisa tinggal di rumah salah satunya dan salah satu keluarga harus ada yang mengalah,” ujar Amin. Saya menyarankan agar Amin saja yang mengalah dan tinggal bersama pihak perempuan. Alasannya, orang tua Amin masih memiliki anak-anak yang lain walaupun tidak satu rumah.

Sementara itu, Ika (mantan Amin) adalah anak tunggal. “Ya nggak bisa gitu juga, Ca. Aku anak terakhir kudu tinggal sama ibu-bapak,” sanggah Amin. Terserah kau sajalah, Min!

Seandainya ada bintang jatuh, mungkin pilihan termustahil yang diharapkan untuk terwujudnya pernikahan adalah dilahirkan kembali dengan status berbeda. Tetapi siapa yang dapat mengubah takdir?

Ternyata benar apa yang disarankan orang tua jaman dahulu ketika memilih pasangan yaitu melihat bibit, bebet, dan bobotnya. Tiga kata tersebut tidak selamanya berkonotasi negatif atau hanya mengacu pada latar belakang dan kekayaan calon pasangan saja. Hal tersebut juga berguna untuk menghindari permasalahan cinta semacam ini.

Jika tidak ingin memiliki pengalaman yang sama dengan Amin atau Budi, kalian dapat menanyakan beberapa hal seperti:

“Kamu anak ke berapa?”

“Jumlah saudara kandungmu di bawah Atta Halilintar kan?”

“Wetonmu apa?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menurut saya masih dalam batas wajar dan tidak menyinggung perasaan. Jadi, sebaiknya dicoba, ya! Seperti kata slogan kesehatan, “Lebih baik mencegah daripada mengobati”.

Karena kalau sudah luka, Rumah Sakit tidak mampu untuk menyembuhkan patah hati manusia karena gagal menuju pernikahan.

Walaupun Budi sempat memberi saran yang tidak patut diikuti, ia memberikan sebuah pesan indah untuk para pembaca. Menurut saya, kalimatnya sangat cocok diletakkan di bagian akhir.

“Pernikahan itu nggak cuma soal kamu dan dia yang kamu cintai. Tapi banyak faktor-faktor pendamping yang nggak bisa pura-pura nggak kamu perhatiin. Keluarga, status, pekerjaan, pandangan hidup, semua saling terkait. Hal-hal kayak gitu jangan dianggap kecil.”

Ya. Pada akhirnya, melepas ego adalah proses yang paling sulit dari semua.

BACA JUGA Bagaimana Polisi Seharusnya Menangani Aksi Demonstrasi dan tulisan-tulisan lainnya di Terminal Mojok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Juli 2020 oleh

Tags: anak tunggalBungsuPernikahanpernikahan gagal
Anisa Cahyani

Anisa Cahyani

Perempuan yang gemar merangkai kata menjadi tulisan dan juga pemburu matahari terbenam.

ArtikelTerkait

Gara-gara Pantangan Menikah Ngalor-Ngulon, Calon Suami Saya Dibuang

Gara-gara Pantangan Menikah Ngalor-Ngulon, Calon Suami Saya Dibuang

26 Februari 2022
Park Shin Hye Nggak Lupa Vendor Pernikahan di Caption Instagram Mendobrak Dunia Pernikahan Artis Korea Terminal Mojok

Park Shin Hye Nggak Lupa Vendor Nikah di Caption Instagram Mendobrak Dunia Pernikahan Artis Korea

28 Januari 2022
3 Hal yang Bikin Saya Suka Datang ke Pernikahan Adat Madura

3 Hal yang Bikin Saya Suka Datang ke Pernikahan Adat Madura

21 September 2023
Mengambil Sisi Positif Saat Menjalani Long Distance Marriage. Nggak Selamanya Menderita, kok terminal mojok

Mengambil Sisi Positif Saat Menjalani Long Distance Marriage. Nggak Selamanya Menderita, kok

5 Juni 2021
Pernikahan Teman Adalah Kado Perpisahan Bagi Hubungan Persahabatan

Pernikahan Teman Adalah Kado Perpisahan Bagi Hubungan Persahabatan

31 Desember 2019
Bridesmaid di Pernikahan Nggak Wajib-wajib Amat, Kenapa Masih Drama Soal Seragam sih Terminal Mojok pager ayu

Bridesmaid di Pernikahan Nggak Wajib-wajib Amat, Kenapa Masih Drama Soal Seragam sih?

4 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Andai Suzuki Burgman Street 125 Ganti Logo Jadi Honda, Pasti Laris di Indonesia

Saya Kira Orang Bilang Suzuki Burgman Jelek Itu Cuma Lebay, ternyata Memang Sejelek Itu

9 Juni 2026
Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan lulusan UIN

Lulusan UIN Sulit Cari Kerja Itu Mitos, Kenyataan Membuktikan Sebaliknya!

5 Juni 2026
5 Stereotipe Purwokerto yang Sudah “Kedaluwarsa”, tapi Masih Saja Banyak Dipercaya Mojok.co

5 Stereotipe Purwokerto yang Sudah “Kedaluwarsa”, tapi Masih Saja Banyak Dipercaya

8 Juni 2026
Bekas Pasar Burung dan Hal-hal Lain yang Jarang Dibicarakan Soal Pasar Ngasem, Tempat Sarapan Paling Kalcer di Jogja Mojok.co

Bekas Pasar Burung dan Hal-hal Lain yang Jarang Dibicarakan Soal Pasar Ngasem, Tempat Sarapan Paling Kalcer di Jogja

7 Juni 2026
Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya Mojok.co

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya-Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya

4 Juni 2026
6 Lagu Sheila On 7 yang Kurang "Nyeila", Terdengar seperti Band Lain. Perlu Diputar Berkali-kali untuk Sadar Itu Memang Lagu Mereka Mojok.co

6 Lagu Sheila On 7 yang Kurang “Nyeila”, Terdengar seperti Band Lain. Perlu Diputar Berkali-kali untuk Sadar Itu Lagu Mereka 

6 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.