Perkara Desain, Vans Harus Rela Diboikot Hong Kong

Label streetwear itu harus berhadapan dengan para pendukung aksi demonstrasi RUU Ekstradisi Hong Kong beberapa waktu lalu itu. Sempat viral kan?

Artikel

Ayu Octavi Anjani

Siapa sih yang nggak tau label streetwear yang digandrungi banyak anak muda dari dulu sampai sekarang. VANS. Vans menjadi salah satu label sepatu yang sangat terkenal khususnya di kalangan anak-anak muda yang berjiwa muda dan bebas. Teman-teman kuliahan saya banyak banget yang pakai Vans kalau ngampus. Nggak heran sih, saya juga suka dengan desain-desain sepatu Vans yang menarik dan warna-warni.

Nggak hanya sepatu, produk Vans juga banyak jenisnya mulai dari kaus, hoodie, sampai snapback yang anak muda banget. Mari kita ulas sedikit sejarah berdirinya Vans yang nggak asing lagi buat kalian pecinta streetwear.

Vans pertama kali diluncurkan pada tahun 1996 di Anaheim, California sebagai The Van Doren Rubber Company. Fyi, pendirinya namanya Paul Van Doren. Pertama kali toko dibuka, hanya ada tujuh belas pengunjung saat itu. Pada tahun 1980 ada usulan terkait Vans yang perlu memproduksi sepatu khusus olahraga dan breakdancing. 1998 bisa jadi tahun di mana Vans mengalami cobaan. Pasalnya, penjualannya menurun dan hampir bangkrut.

Setelah berbisnis selama lima puluh tahun, Vans mampu mencapai angka penjualan hingga US$ 400 juta. Usaha tidak mengkhianati hasil. Vans pertama kali menyelenggarakan Vans Warped Tour yang jadi hitsnya anak-anak muda saat itu. Ya, begitulah sejarah singkat gimana Vans bisa jadi sesukses sekarang.

Beberapa waktu lalu saya sempat scrolling beberapa marketplace dan iseng-iseng mencari sepatu. Saya lebih suka model-model sepatu seperti Converse atau Keds sih. Kalau Converse saya suka karena lebih sederhana dan warna-warni. Beda lagi dengan Keds yang cewek banget. Jadi, ya cocok buat saya. Nggak sengaja saya menemukan sepatu Vans dengan motif yang lucu sekali. Peanut. Lalu dari ditu saya mulai cari-cari lagi motif sepatu Vans dan ternyata banyak sekali yang menarik hati.

Baca Juga:  Curhatan Seorang Sarjana yang Melamar dan Bekerja Sebagai Driver Ojol

Seumur hidup saya sampai pada hari ini, saya belum pernah menjajal produknya Paul Van Doren itu. Saya nggak pernah punya sepatu Vans. Hmm, mungkin setelah melihat motifnya yang lucu-lucu saya bisa mulai pakai sepatu Vans sebentar lagi. hehe

Terus hubungannya dengan judul yang saya tulis ini apa? Oke, judulnya nggak clickbait kok tenang. wqwq. Kontroversi. Satu kata yang tepat menggambarkan keadaan Vans saat ini. Label streetwear itu harus berhadapan dengan para pendukung aksi demonstrasi RUU Ekstradisi Hong Kong beberapa waktu lalu itu. Sempat viral kan?

Kontroversinya dimulai dari gelaran tahunan yang diadakan Vans. Vans Custom Culture. Gelaran ini membebaskan masyarakat khususnya para Vans lovers untuk mendesain sepatu Vans. Hasil desain terbaik, karyanya akan dipakai dan dihadiahi uang tunai sebesar US$ 25 ribu. Siapa juga yang nggak antusias apalagi buat yang jago desain seperti saya.

Akhirnya eh akhirnya, seorang desainer asal Kanada, Naomiso mendapatkan suara terbanyak saat pemilihan desain lewat media online. Tapi, duduk perkaranya adalah doi gambar keadaan waktu aksi demo di Hong Kong itu. Duh kandas dah. Gambarnya sepele sih, para demonstran yang pakai masker, kacamata, topi, dan ada simbol-simbol Hong Kong di sana (jujur sejujur-jujurnya padahal desainnya lucu!). Sepele buat kita masyarakat yang bukan orang Hong Kong. Orang Hong Kongnya jelas murkalah.

Padahal proses voting masih berjalan waktu itu. Tapi pihak Vans terpaksa menghapus desain kontroversial itu dari kompetisi. Meskipun pihak Vans sudah memberikan pernyataan bahwa tidak pernah berorientasi politik pada setiap desainnya dan selalu menjunjung tinggi rasa hormat dan toleransi, tidak serta merta membuat netizen di media sosial reda begitu saja. Tidak semudah itu, Ferguso~

Masyarakat yang protes dengan Vans berbondong-bondong melakukan aksi membuang sepatu Vans mereka ke tong sampah. Ada yang sampai dibakar lho. ckck, sayang banget sepatunya mending dilempar ke saya aja 😥. Yhaaa, namanya juga bentuk protes. Eh, tapi mereka nyesel nggak ya sepatunya dibakar?

Baca Juga:  Nggak Usah Sok Ngomong Bahasa Jawa Saat Belanja di Malioboro, Nggak Semua Pedagangnya Orang Jawa Kok!

Nggak sedikit pendukung aksi demo Hong Kong akhirnya membuat tagar #BoycottVans di media sosial mereka. Duh beberapa hari ini saya berurusan dengan tagar terus deh. Untunglah, lebih baik daripada berurusan dengan mantannya pacar saya yang pacar saya saja tidak punya mantan. Lho gimana.

Sayang seribu sayang, akibat kontroversi yang dibuat oleh satu orang desainer itu, beberapa produk Vans yang dicintai kalian semua anak-anak muda harus rela tak beredar di Hong Kong. Indonesia masih aman berarti ya. Hffft. Dampak lainnya bahkan sampai membuat beberapa toko streetwear mengumumkan berhenti menjual produk Vans. Waduh! Sebesar itu pengaruhnya ternyata. huhu. Tapi mungkin itu hanya sementara.

Well, di balik kontroversi yang sedang menimpa Vans nggak membuat saya mundur untuk menjajal sepatunya yang lucu-lucu motifnya itu. hehe. (*)

BACA JUGA Berkaca dari Kasus Sulli: Netizen Memang yang Terbaik Untuk Urusan Merusak Kesehatan Jiwa Orang Lain atau tulisan Ayu Octavi Anjani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya

---
11


Komentar

Comments are closed.