Ironi di ujung gerbang tol
Puncaknya adalah saat bus Bekasi-Cikupa yang saya tumpangi akhirnya berhasil keluar dari gerbang tol Cikupa. Rasa lega itu biasanya hanya bertahan sedetik, karena jalanan menuju kantor pun tak kalah semrawut dengan kendaraan. Kita merasa sudah menang melawan tol, padahal perjuangan sebenarnya masih berlanjut.
Ada ironi yang sangat menyesakkan, energi saya sudah benar-benar terkuras oleh kemacetan yang tiada habisnya. Kita semua hanyalah budak aspal yang terpaksa berkompromi dengan kenyataan pahit bahwa hari esok pun mungkin akan sama macetnya.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa menjadi komuter adalah sebuah seni untuk tetap waras. Saya belajar untuk tidak berharap banyak pada kelancaran jalanan yang memang tidak pernah ramah kepada kami.
Setiap kali naik bus Bekasi-Cikupa, saya sudah menyiapkan mental, karena saya tahu Jalan Tol Jakarta-Merak tidak pernah menjanjikan kecepatan, melainkan menjanjikan pengalaman menikmati kemacetan yang tiada habisnya di tanah Banten.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













