Perjalanan ke Pati Lewat Pantura Bikin Heran: Kudus Sudah Mulus, Demak Masih Penuh Lubang

Perjalanan ke Pati Lewat Pantura Bikin Heran: Kudus Sudah Mulus, Demak Masih Penuh Lubang

Perjalanan ke Pati Lewat Pantura Bikin Heran: Kudus Sudah Mulus, Demak Masih Penuh Lubang (Unsplash)

Meski Ramadan masih begitu awal berjalan, suasana mudik kecil-kecilan sudah mulai terasa. Itulah yang juga dirasakan Mbak Nia, yang memutuskan pulang ke Pati untuk menjalani awal puasa bersama orang tuanya. Perjalanan dari Semarang menuju Pati ditempuh lewat jalur utama Jalan Pantura, jalur yang selama ini dikenal sebagai urat nadi transportasi pesisir utara Jawa.

Namun di tengah perjalanan, ada hal yang membuatnya heran sekaligus mengeluh. Bukan soal macet atau cuaca, melainkan kondisi jalan yang berbeda mencolok antara satu wilayah dan wilayah lainnya.

Saat melintasi wilayah Kudus, Mbak Nia mengaku cukup nyaman. Sebagian ruas jalan, baik jalur kota maupun jalan nasional Pantura, tampak sudah mulus dengan lapisan aspal baru. Permukaannya rata, kendaraan bisa melaju stabil, dan tidak terasa banyak guncangan. Marka jalan pun terlihat jelas. “Enak banget lewat sini, mobil nggak terlalu goyang,” katanya.

Namun kondisi itu berubah ketika ia memasuki wilayah Demak. Ruas jalan Pantura Semarang–Demak di beberapa titik justru tidak rata dan dipenuhi lubang. Ada bagian yang bergelombang, ada pula yang tambalannya tidak merata. Mbak Nia harus mengurangi kecepatan karena khawatir ban mobilnya menghantam lubang yang cukup dalam.

Siapa yang bertanggung jawab?

Yang paling membuatnya terkejut adalah kondisi jalan di kawasan Bintoro, salah satu ruas penting di wilayah Kota Demak. Di sana, kerusakan terlihat cukup parah. Lubang-lubang menganga di sejumlah titik, dan ketika hujan turun, genangan air membuat lubang itu sulit terlihat. Situasi ini jelas berpotensi membahayakan pengendara, terutama sepeda motor yang lebih rentan oleng.

“Heran aja, kok bisa beda banget kondisinya. Padahal sama-sama Pantura,” ujarnya.

Perbedaan yang menonjol antara wilayah Kudus dan Demak ini menimbulkan pertanyaan besar siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas perawatan jalan tersebut?

Jalur Pantura dan sejumlah ruas penghubung memang memiliki kewenangan berbeda-beda, tergantung pada status jalannya. Ada yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat karena berstatus jalan nasional, ada yang di bawah kewenangan pemerintah provinsi sebagai jalan provinsi, dan ada pula yang menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota. Perbedaan status ini sering kali membuat masyarakat bingung ketika terjadi kerusakan harus mengadu ke mana, dan siapa yang seharusnya bergerak cepat.

Bagi pengguna jalan seperti Mbak Nia, yang terpenting sebenarnya bukan soal siapa yang berwenang, melainkan kapan jalan tersebut diperbaiki. Apalagi menjelang Ramadan dan Idulfitri, arus kendaraan dipastikan meningkat. Banyak perantau yang pulang kampung, kendaraan logistik tetap berjalan, dan aktivitas masyarakat makin padat. Jalan yang rusak tentu meningkatkan risiko kecelakaan.

BACA JUGA: Dulu Primadona, Kini Jalur Juwana-Batang jadi Neraka di Pantura

Pantura memang vital, harusnya jadi perhatian utama

Pantura sendiri dikenal sebagai jalur vital. Truk-truk besar bermuatan berat setiap hari melintas, membawa hasil industri dan kebutuhan pokok. Beban kendaraan yang tinggi memang menjadi salah satu faktor cepat rusaknya jalan. Namun tanpa perawatan rutin dan perbaikan menyeluruh, kerusakan kecil bisa berubah menjadi lubang besar yang membahayakan.

Kondisi ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan juga keselamatan dan kelancaran ekonomi. Jika kendaraan harus memperlambat laju karena jalan berlubang, distribusi barang bisa terhambat. Jika pengendara terjatuh akibat lubang yang tak terlihat, dampaknya jauh lebih serius lagi.

Mbak Nia mengaku tetap bersyukur bisa pulang ke Pati dan berkumpul bersama keluarga. Namun pengalaman di perjalanan itu meninggalkan kesan tersendiri. Ia berharap ada percepatan perbaikan, terutama di titik-titik yang sudah rusak parah. “Semoga sebelum puncak mudik, sudah ada perbaikan. Kasihan kalau banyak yang celaka cuma gara-gara jalan rusak,” katanya.

Harapan itu tentu bukan hanya milik Mbak Nia. Banyak pengguna jalan lain yang merasakan hal serupa. Mereka tidak menuntut jalan sekelas tol, hanya ingin jalur utama yang aman, rata, dan tidak penuh lubang.

Menjelang Ramadan, momen kebersamaan dan pulang kampung seharusnya diwarnai rasa tenang, bukan kecemasan di jalan. Perbedaan kondisi antara Kudus yang sudah mulus dan Demak yang masih penuh lubang menjadi pengingat bahwa pemerataan perbaikan infrastruktur sangat penting.

Semoga ke depan, perjalanan lewat Pantura tak lagi menghadirkan rasa heran, melainkan rasa nyaman dari awal hingga tiba di kampung halaman. Karena bagi para perantau yang ingin pulang, jalan yang aman adalah awal dari kebahagiaan bertemu keluarga.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pati Bukan Sarang Penjahat dan Plat K Bukan Berarti Kriminal, Ada Hal Baik yang Bisa Diapresiasi di Sini

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version