Perdebatan Tagar #EsKrimDimakan atau #EsKrimDiminum yang Nggak Penting-Penting Amat

Artikel

Seto Wicaksono

Beberapa waktu lalu, tepatnya 29 Juli 2019 @Poconggg—yang g-nya ada tiga—membuat gempar dunia pertwitteran dengan tagar #eskrimdimakan atau #eskrimdiminum. Poconggg yang memang sudah tenar dari awal dan sampai dengan tulisan ini dibuat memiliki sekitar 4,6 juta pengikut pada alun twitternya, langsung memiliki banyak respon atas twit yang dibuatnya.

“Menurut kalian #eskrimdimakan atau #eskrimdiminum sih? Sepertinya ini masalah hidup yang harus kita pecahkan bersama”. Begitu kata Poconggg pada cuitannya. Hingga kini, twit tersebut mendapat 4.400-an replies, diretweet sekitar 1.900 kali, dan mendapat kurang lebih 12.900 likes. Hal tersebut semakin menegaskan bahwa, apa pun yang dicuitkan oleh Poconggg akan berakhir menjadi trending.

Paling tidak, untuk selebtwit dengan nama akun berakhiran tiga huruf belakang yang sama, Poconggg lebih dikenal dan viral—bahkan melegenda—dibanding dengan siskaeee—yang e-nya tiga itu, tuh. Eh, sebelum tulisan ini lebih fokus kepada perbincangan siskaeee, baiknya kembali lagi ke pembahasan awal. Jadi, es krim itu sebenarnya dimakan atau diminum, sih?

Begini, saya sudah bertanya secara langsung kepada 20 orang teman saya, 16 diantaranya menjawab dimakan dan 4 yang lain dengan yakin menjawab diminum. Ada pula yang menjawab secara diplomatis, “kalau masih dingin dan beku ya dimakan, kalau sudah cair ya diminum”.Tentu ini tidak bisa dijadikan patokan akhir karena hanya berupa survey kecil-kecilan dan dilakukan secara sembarang. Hanya saja, saya menjadi tahu gambaran tentang bagaimana dan jawaban apa yang diberi oleh orang di sekitar dalam menanggapi perdebatan tersebut.

Saya pribadi menganggap pertanyaan atau perdebatan tersebut tidak ada faedahnya, tapi untuk menanggapinya tentu menjadi urusan lain. Kan, lumayan untuk sekadar panjat sosial atau hanya ikut-ikutan. Eh?

Baik mereka yang menjawab menikmati es krim dengan cara dimakan atau diminum tentu punya alasan masing-masing. Yang belum pernah saya temui barang sekali pun adalah mereka yang mengonsumsi es krim dengan cara sengaja dicairkan, lalu diminum laiknya minum susu. Pertanyaannya, memangnya ada orang yang demikian? Kalau pun ada, rasa-rasanya menjadi kurang praktis. Sebab, jika memang seperti itu, kenapa tidak meminum susu langsung saja? Meskipun begitu, es krim yang cair itu memang memiliki cita rasa dan sensasi tersendiri, sih.

Baca Juga:  Bikinin Akun Instagram Pribadi Buat Anak-Anak: Apa Nggak Berlebihan?

Diantara sengitnya perdebatan antara #eskrimdimakan atau #eskrimdiminum pada kolom reply di akun Poconggg, lalu muncul dua kelompok baru dalam menikmati es krim, yakni tim menikmati es krim dengan cara digigit dan dijilat. Saya sendiri sih, lebih condong kepada penikmat es krim dengan cara digigit. Setelah itu, potongan es krim yang ada pada mulut dinikmati hingga meleleh.

Beda dengan mereka yang menikmati es krim dengan cara dijilat. Bagi saya, cara tersebut terbilang lama dan terasa capek. Karena jika terlalu lama, es krim akan mencair dan luber ke mana-mana. Lengah sedikit saja akan berakibat kotornya pakaian yang dikenakan. Niat mau menikmati manis dan lezatnya es krim, eh malah dibuat repot karena harus membersihkan. Lain halnya ketika disertai cone sebagai pelengkap, tentu harus digigit.

Jauh sebelum ada perdebatan antara #eskrimdimakan atau #eskrimdiminum, ada yang jauh lebih genting dan penting dalam dunia per-es krim-an di Indonesia, yakni hilangnya es krim Walls Vienneta dari peredaran. Pada masanya, es krim ini sungguh terkenal meski harganya mahal. Pada tahun 1990-an saja—masa-masanya rakyat Indonesia dihadapkan dengan krisis moneter—harga es krim Vienetta berkisar 30 ribuan.

Beruntung, sekali dalam seumur hidup saya pernah mencicipinya sekali. Iya, hanya sekali. Sebab, untuk ukuran es krim harga tersebut terbilang sangat mahal, ditambah sedang krismon—krisis moneter—sehingga, mustahil bagi orang tua saya membeli es krim yang terlampau mewah dan mahal tersebut berulang kali.

Saat ini, banyak orang yang kehilangan Vienetta karena sudah lama tidak diproduksi khususnya di Indonesia. Banyak yang menduga secara kasar dan tebak-tebakan, kalau pun diproduksi hingga dijual kembali harganya ditaksir mencapai 150.000-200.000 ribu-an. Yang mengaku sobat missqueen, saya rasa sih akan tetap dan bisa membeli jika Vienetta diproduksi kembali. Toh, ke-missqueen-an kalian di media sosial hanya pencitraan, kan? Eh?

Lalu, bagi kalian yang memperdebatkan #eskrimdimakan atau #eskrimdiminum, apakah sudah menentukan jawaban? Kalau saya sih, tim penikmat es krim dengan cara digigit karena lebih praktis. (*)

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.
---
1


Komentar

Comments are closed.