Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Peninggalan Mbah Moen dan Tugas Kita Sebagai Ahli Warisnya

Rohmatul Izad oleh Rohmatul Izad
8 Agustus 2019
A A
mbah moen

mbah moen

Share on FacebookShare on Twitter

Kabar duka itu datang. Sekali lagi, Indonesia telah kehilangan ulama besar dan seorang pendakwah lintas zaman. Beliau adalah Kiai Maimoen Zubair, atau yang kita kenal sebagai Mbah Moen, salah seorang ulama penggerak umat dan berpengaruh yang dimiliki Indonesia saat ini.

Mbah Moen lahir di Sarang, Rembang, pada 28 Oktober 1928. Sejak kecil, Mbah Moen sudah sangat akrab dengan pendidikan agama, khususnya di pesantren. Ini tidak lepas dari peran ayahnya, Kiai Zubair, seorang alim dan faqih. Kiai Zubair merupakan murid dari Syaikh Said al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani.

ADVERTISEMENT

Ketika memasuki usia 21 tahun, Mbah Moen mondok dan melanjutkan belajar agama di kota Makkah. Di antara ulama-ulama besar yang sempat mendidik Mbah Moen antara lain; Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Qutbhi, Syekh Yasin Isa al-Fandani, Syekh Abdul Qadir al-Mandaly, dan masih banyak lagi.

Beliau bukan hanya ahli di bidang ilmu fikih, tetapi juga ahli dalam strategi politik. Tercatat, Mbah Moen adalah salah satu dari pendiri partai PPP dan pernah menjadi anggota DPRD Rembang selama 7 tahun. Selain itu, beliau juga pernah menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah. Luasnya cakrawala pemikiran beliau, membuatnya sangat piawai dalam banyak hal, di antaranya beliau juga salah seorang aktivis yang selalu mengkampanyekan toleransi antar umat beragama.

Mbah Moen adalah ulama yan tak pernah berhenti berdakwah. Walau beberapa tahun terakhir ini kesehatannya mulai menurun disebabkan faktor usia yang sudah sepuh, tetapi beliau tetap eksis menghadiri acara-acara pengajian, khoul, sampai menjadi tamu terhormat di Istana.

Di samping ulama yang kharismatik, beliau juga seorang negarawan yang banyak memberikan kontribusi tentang arti penting Pancasila sebagai ideologi pemersatu. Pernah, dalam suatu ceramahnya, beliau mencoba memberikan pandangan tentang hubungan antara Islam dan negara. Dengan bertitik tolak bahwa Pancasila sudah sangat searah dengan nilai-nilai Islam dan tidak perlu mendirikan negara khilafah yang justru akan banyak menimbulkan gejolak dan konflik sebagaimana di negara-negara Timur Tengah.

Ini menunjukkan bahwa Mbah Moen adalah sosok yang multidimensi. Di samping ahli fikih, ia juga aktivis sosial, pemikir Islam, dan da’i profesional. Terbukti bahwa beliau banyak melahirkan ide-ide kebangsaan yang patut menjadi acuan pokok bagi generasi sekarang. Sebab, sangat sulit menemukan seorang ulama sekelas beliau.

Dasar keilmuwan Mbah Moen memang begitu lengkap, ia mendalami tradisi pemikiran keislaman dan menjadi bagian penting dari karir keulamaannya. Sehingga kontribusinya bagi pengembangan moderasi Islam dan ide tentang negara bangsa di Indonesia sangat besar dan amat berharga. Maka sepatutnyalah bagi kita semua, generasi penerus, untuk mengikuti jejak beliau.

Baca Juga:

Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama

Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan

Memang, Mbah Moen masih sangat gelisah melihat Indonesia semakin jauh dari keadaan ideal. Di benaknya bergemuruk banyak ide bagi masa depan Indonesia. Meski sudah sangat sepuh diusianya yang ke-90, beliau menolak untuk berhenti untuk ngayomi umat. Kini, beliau telah tiada, sudah menjadi suatu keharusan bagi kita semua untuk terus memperjuangkan aspirasi beliau dan meneladani berbagai petuah bijaknya.

Boleh jadi, Mbah Moen dapat pergi dengan tenang bila generasi sesudahnya dapat meneruskan cita-cita dan harapan besarnya tentang masa depan Indonesia. Melalui warisan ilmu beliau yang amat kaya, kita masih punya banyak kesempatan untuk mempelajarinya, meneruskan dan berjuang atas nama keislaman dan keindonesiaan.

Sebagai seorang ulama living legend dalam dunia Islam Indonesia, Mbah Moen sudah seharusnya dijadikan ikon moderasi Islam di tengah krisis kebangsaan dan ideologi yang melanda Indonesia saat ini.

Kita perlu banyak belajar dari Mbah Moen yang mengajarkan betapa pentingnya menjaga dan mengembangkan tradisi keislaman yang berwawasan keindonesiaan, petuah-petuah beliau tentang toleransi dan keragaman harus benar-benar kita dengar dan menjadi penting bagi pembejalaran kita hari ini. Tak bosan-bosan beliau menyuarakan persatuan, keutuhan NKRI dan secara bersama-sama membangun kemajuan.

Krisis identitas yang kita alami hari ini, ketika tak tahu siapa lawan dan siapa kawan, mengharuskan kita kembali pada cara berpikir yang Islamis sekaligus nasionalis dan selalu mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan diri sendiri. Mbah Moen melalui segudang peninggalannya dapat memudahkan kita untuk belajar kembali arti penting persatuan dan menuju cita-cita Indonesia lebih baik.

Kita perlu meninggalkan semua perbedaan dan mulai menyatukan diri atas nama cita-cita bersama. Lawan semua jenis penindasan dan kebodohan. Beda pilihan politik tidaklah masalah, tetapi jangan sampai perbedaan itu merusak harmonisasi dan melupakan harapan-harapan besar kita di masa mendatang. Mbah Moen akan tetap hidup, bersama kita, dan kitalah yang akan mewujudkan cita-citanya menuju masa depan Indonesia yang ideal. (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2022 oleh

Tags: Kiai Maimoen Zubairmbah maimunmbah moenmbah moen meninggalPesantrenrembangsholat goibulamaulama indonesia
Rohmatul Izad

Rohmatul Izad

Dosen Filsafat di IAIN Ponorogo.

ArtikelTerkait

Saya Tidak Kenal Gus Baha’

Saya Tidak Kenal Gus Baha’

6 Desember 2019
5 Cara Pengurus Pesantren Membangunkan Santri (Visual Karsa, unspalsh.com) dukuh babakan

5 Cara Pengurus Pesantren Membangunkan Santri Menjelang Salat Subuh

5 Juni 2022
3 Hal yang Jarang Orang Bicarakan Soal Rembang

3 Hal yang Jarang Orang Bicarakan Soal Rembang

6 Desember 2025
7 Cara Santri agar Tidak Kehilangan Sandal di Pesantren

7 Cara Santri agar Tidak Kehilangan Sandal di Pesantren

7 Juni 2022
Asyiknya Ramadan dengan Ngaji Pasaran

Asyiknya Ramadan dengan Ngaji Pasaran

26 April 2020
modin kiai desa tahlilan mengurusi mayat pemakaman salat jenazah pendidikan tes cara menjadi modin tahan uji nyali mojok

Di Desa Ada Pekerjaan Prestisius tapi Butuh Nyali Tinggi, Namanya Modin

17 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park memang bukan tempat wisata termurah, tapi Jatim Park jelas adalah tempat wisata terbaik, paling worth it, dan masih affordable, kok

30 Juli 2026
Pertemukan dengan duit Rp100 miliar, saya akan bangun usaha kue, laundry kiloan, dan toko buku Mojok.co

Pertemukan dengan duit Rp100 miliar, saya akan bangun usaha kue, laundry kiloan, dan toko buku

29 Juli 2026
Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang banjir di semarang

Banjir di Semarang selama ini tak hanya perkara alam, tapi justru gara-gara ulah warganya sendiri,

27 Juli 2026
Toyota Veloz 2017, MPV RWD lawas yang perkasa di tanjakan, mobil FWD baru nggak ada apa-apanya

Toyota Veloz 2017, MPV RWD lawas yang perkasa di tanjakan, mobil FWD baru nggak ada apa-apanya

30 Juli 2026
Saya pikir, publikasi jurnal saat kuliah pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, ternyata lebih banyak menguji mental Mojok.co

Saya pikir publikasi jurnal saat pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, nyatanya lebih banyak menguji mental

29 Juli 2026
QRIS Dianggap sebagai Puncak Peradaban Kaum Mager, tapi Sukses Bikin Pedagang Kecil Bingung

Membayangkan Indonesia masa kini tanpa QRIS, transaksi akan benar-benar ribet

29 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.