Kebiasaan pengendara Jogja yang jarang membunyikan klakson menuai pujian dari banyak orang. Terutama pendatang yang baru pertama kali berkendara di Kota Pelajar ini. Pengendara Jogja jadi lekat dengan citra santun dan tertib. Sebab, tanpa membunyikan klakson pun lalu lintas bisa berjalan lancar.
Kondisi ini sungguh berbeda dengan jalanan di kota-kota besar, sebut saja Jakarta. Di sana bunyi klakson kendaraan begitu mudah terdengar. Sementara lalu lintas atau jalannya tetap saja semrawut.
Perbandingan dan narasi tersebut terus diulang-ulang. Jalanan Jogja kerap jadi panutan, jadi percontohan. Seolah-olah, kalau sudah berkendara di Jogja, kita otomatis naik tingkat sebagai manusia lalu lintas yang beretika.
Padahal, kalau mau mengulik lebih jauh, lalu lintas Jogja tidak seindah itu. Jarang membunyikan klakson bukan berarti pengendara santun dan taat aturan saat berkendara. Semakin sering “mengaspal” di jalanan Jogja, saya kian menyadari kalau ada banyak kelakuan kecil yang tidak berisik, tapi cukup bikin jengkel. Dan, karena tidak berisik, ia sering luput dari kritik.
#1 Merokok dengan santai di jalanan Jogja seolah-olah mereka sedang piknik
Di Jogja, ada pengendara yang bisa mengendarai motor sambil merokok dengan ekspresi damai. Satu tangan di setang, satu tangan memegang rokok. Abu beterbangan, asap ke mana-mana, dan pengendara di belakang tinggal pasrah menerima residu kebebasan orang lain. Tidak ada klakson. Tidak ada konflik. Tapi, ada paru-paru orang lain yang dijadikan asbak berjalan.
Ketika teguran dilayangkan, biasanya mereka mengelak atau tidak terima. Pernah saya dengar yang ditegur malah menyahut, “Lha po helemmu ora mbok tutup?” yang kurang lebih berarti “Kenapa helmmu tidak kamu tutup?” Begitu katanya tanpa merasa berdosa.
#2 Persoalan rambu-rambu “kiri jalan terus”
Ada persimpangan yang jelas-jelas tidak memiliki plang rambu “kiri jalan terus”. Artinya, lampu rambu lalu lintas masih menyalakan warna merah dan pengendara wajib berhenti karenanya. Tapi, entah kenapa, banyak pengendara yang tetap belok kiri dengan keyakinan penuh. Seolah-olah aturan lalu lintas tersebut bekerja berdasarkan intuisi dan perasaan.
Tapi, ironisnya, di persimpangan dengan lampu merah dan jelas ada plang bertuliskan “Kiri Jalan Terus”, jalur paling kiri yang seharusnya menjadi jalur aman bagi pengendara yang ingin belok kiri, malah justru sering dipenuhi pengendara yang ingin lurus atau bahkan berhenti menunggu lampu hijau. Akibatnya, pengendara yang benar-benar ingin ke kiri malah terjebak dan ikut berhenti. Aturan ada, rambu jelas, tapi fungsinya kalah oleh logika “yang penting saya dulu”.
Pengendara yang mau ke kiri juga tidak tahu harus berbuat apa. Mau membunyikan klakson pun tidak enak hati. Nanti takutnya diteriaki, “Nek kesusu mangkat wingi!” dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti, kalau terburu-buru berangkat sejak kemarin.
#3 Pelan itu mungkin baik, tapi jangan di tengah jalan juga dong
Jogja identik dengan santai, tapi jujur saja, kadang santainya kebablasan sampai ke cara berkendara. Ada pengendara yang melaju pelan, bahkan mungkin terlalu pelan, dan memilih posisi tepat di tengah lajur.
Pengendara yang ada di belakangnya menjadi serba bingung: mau nyalip salah, mau klakson tidak enak, mau sabar tapi jadwal hidup terus berjalan. Ini bukan ketertiban, ini ujian kesabaran yang dibungkus sopan santun.
#4 Pengendara Jogja menatap ponsel
Apa pun alasannya, berkendara sambil melototin layar ponsel itu dosa besar . Mungkin orang akan memaklumi kalau itu dilakukan oleh driver ojek online meskipun itu juga tidak bisa dibenarkan. Lha ini, pengendara biasa yang hanya mendengar bunyi notifikasi WhatsApp, kok bisa-bisanya tangannya gatal untuk memegang HP dan matanya melototin. Anehnya, ia tetap kalem tapi mata jelas lebih setia pada layar daripada jalan.
Sekilas hal itu tampak tidak berbahaya karena kecepatannya rendah. Tapi justru itulah masalahnya. Lambat, tidak fokus, dan sulit diprediksi. Kombinasi yang sunyi tapi rawan.
#5 Berhenti di persimpangan lampu merah, tapi melewati marka seolah itu zona abu-abu
Saat lampu merah di persimpangan, marka jalan seharusnya jadi batas bersama. Tapi nyatanya, banyak pengendara yang berhenti melewati garis marka, bahkan mengambil jalur lawan arah.
Alasannya mungkin sepele: ingin lebih depan, ingin cepat jalan, atau sekadar ikut-ikutan. Tapi, dampaknya nyata: pengendara dari arah berlawanan kehilangan ruangnya. Semua itu terjadi tanpa suara, tanpa klakson, tanpa drama. Tapi, itu tetap salah.
Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: ketertiban lalu lintas tidak selalu soal kebisingan. Jogja mungkin unggul dalam hal minim klakson, tapi bukan berarti bebas dari problem berkendara. Di sini, pelanggaran sering dilakukan dengan tenang, santai, dan penuh kesadaran, “Ah, nanti juga aman.”
Jogja bukan kota tanpa masalah lalu lintas. Dia hanya kota yang masalahnya dibungkus dengan kesunyian. Tidak ribut, tidak kasar, tapi tetap merepotkan. Dan karena tidak ribut itulah, dia jarang dikritik.
Justru karena dibungkus kesunyian itulah, banyak pelanggaran terasa lebih bisa diterima. Minim suara klakson, minim ada makian, dan minim ada adu emosi. Semua dilakukan dengan wajah tenang dan gerak pelan, seolah ketidaktertiban atau pelanggaran itu bisa dimaafkan asal tidak berisik. Di Jogja, melanggar aturan sering tampil sopan, dan kesopanan itulah yang membuatnya jarang dianggap masalah.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti mengglorifikasi Jogja sebagai teladan lalu lintas hanya karena jalanannya lebih sunyi. Karena tertib itu bukan soal seberapa jarang kita mengklakson, tapi seberapa sadar kita bahwa jalan adalah ruang bersama, bukan tempat mengekspresikan kenyamanan pribadi secara sepihak.
Sunyi memang menenangkan. Tapi, sunyi tidak selalu berarti benar.
Penulis: Supriyadi
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
