Pengalaman Tinggal di Jenewa, Swiss di Masa Lockdown karena Virus Corona

Tanggal 16 Maret 2020, akhirnya pemerintah Swiss menetapkan kebijakan lockdown untuk menghentikan penyebaran COVID-19.

Artikel

Kalau orang mendengar tentang Swiss, biasanya yang terbayang adalah keju, sapi, cokelat T*bler*ne, pemandangan gunung bersalju seperti di kalender warung, dan lain-lain. Mungkin di antara kita juga ada yang tahu kalau Swiss dari dulu adalah negara yang sering berusaha netral jika tetangga-tetangganya di Eropa pada berantem. Jadi lengkap deh image damai dan tenangnya negeri ini.

Bayangkan saja tinggal di tempat di mana tetangga-tetangga jarang keluar, ngerasani, dan bikin gara-gara. Paling yang sering nongkrong di luar dan arisan adalah sapi. Beda dengan sewaktu saya tinggal di New York, paling tidak seminggu sekali ada orang gila yang bertingkah aneh di subway. Jadi ketika ada anjuran social distancing dan stay at home dari pemerintah Swiss, sebenarnya secara suasana tidak terlalu berpengaruh, sih. Apalagi untuk orang introvert, rumahan, dan mageran seperti saya, ini justru terasa seperti ‘surga’.

Sedikit flashback, COVID-19 pertama kali muncul di Swiss pada akhir Februari. Kota Jenewa yang terletak di daerah berbahasa Prancis di mana saya tinggal, termasuk salah satu kota dengan pasien COVID-19 pertama di Swiss. Swiss memang berdekatan dengan Italia, tetapi di kota ini sebagian besar orang woles saja. Stok vitamin C di apotek terkadang habis, tapi biasanya cepat terisi kembali. Untuk masker dan hand sanitizer, sama masalahnya seperti negara lain, stoknya banyak yang habis. Kabar baiknya, pemerintah Swiss berani menjamin bahwa stok makanan tidak akan habis.

Sekitar tanggal 10 Maret 2020, kantor saya mengumumkan supaya karyawan jangan lagi bersentuhan secara fisik (social distancing). Selain itu, karyawan harus duduk selang satu kursi waktu sedang rapat. Dua hari kemudian, kantor sudah mewajibkan para karyawan untuk bekerja dari rumah terutama yang berusia lanjut atau punya penyakit diabetes, tekanan darah tinggi, atau penyakit pernapasan. Hanya sedikit orang yang boleh datang ke kantor, contohnya staf IT yang perlu melakukan server maintenance. Untungnya, saya bisa bekerja dari rumah karena server yang saya tangani adalah public cloud server dan saya pun masih bisa terkoneksi ke kantor melalui VPN.

Efek social distancing lainnya adalah ibadah salat Jumat di kantor yang ditiadakan. Karyawan muslim diminta salat Zuhur biasa di rumah masing-masing. Namun, komunitas muslim di kantor saya yang sebagian besar berasal dari Maroko, Aljazair, Mesir, Turki, dan beberapa negara mayoritas muslim lain berinisiatif untuk tetap bertemu setiap Jumat siang lewat video conference demi menjaga silaturahmi. Pertemuan dimulai dengan ceramah, sesi diskusi, kemudian doa bersama setelah itu menjalankan salat Zuhur sendiri-sendiri.

Baca Juga:  Berjibaku Naik KRL di Bawah Bayang-Bayang Virus Corona

Tanggal 16 Maret 2020, akhirnya pemerintah Swiss menetapkan kebijakan lockdown untuk menghentikan penyebaran COVID-19. Dengan kebijakan ini, tidak boleh ada acara publik atau pribadi yang mengumpulkan orang-orang. Sebagian besar warga patuh terhadap anjuran pemerintah untuk tetap tinggal di rumah. Namun, tetap saja namanya manusia, ada juga yang ngeyel nongkrong-nongkrong di café dan danau Jenewa dengan sengaja. Bahkan ada saja yang percaya kalau wabah ini hanya dibesar-besarkan dan merupakan teori konspirasi. Akhirnya, pemerintah Swiss mengeluarkan kebijakan bahwa restoran, bar, fasilitas olahraga, dan kultural juga harus ditutup. Hanya fasilitas umum esensial seperti supermarket makanan, bank, dan kantor pos yang beroperasi, itu pun dengan memperhatikan social distancing. Lebih lanjut, diberlakukan aturan yang melarang kumpul-kumpul lima orang atau lebih di tempat umum. Jika ketahuan oleh polisi, maka akan didenda.

Social distancing berusaha diterapkan oleh berbagai pihak, termasuk ketika ingin belanja di supermarket. Lantaran jumlah pembeli di dalam supermarket dalam satu waktu dibatasi, pembeli antre dengan anggun (walaupun miring-miring dan belok-belok, tidak selurus warga di Jepang) dengan jarak 2-3 meter antar orang. Saya sendiri hanya keluar seminggu sekali untuk belanja dan sejauh ini belum lihat ada yang nyelonong memotong antrian. Antrian pun cepat berjalan. Terakhir kali ke supermarket, saya menunggu 15 menit saja. Ketika ingin membayar di kasir, antrean tetap dijaga minimal 2 meter. Untuk melindungi kasir, diberi pembatas berupa plastik tebal antara kasir dan pembeli sehingga pembeli tidak bisa terlalu dekat dengan kasir.

Lantaran sebagian orang stay at home, maka jalanan Jenewa terasa lebih damai dan sepi. Namun, keramaian pun berpindah ke media sosial. Banyak perdebatan terjadi di media sosial (contohnya di grup FB ekspatriat jenewa) mengenai efek lockdown ini. Ada yang marah-marah karena banyak orang berkeliaran di jalan dan tidak menghormati aturan stay at home. Ada juga yang berargumen bahwa keluar rumah penting untuk menghilangkan kepenatan mereka. Ngomong-ngomong soal ini, saya jadi teringat kehidupan di kampung sebelum masa lockdown ini. Biasanya, orang sering menggosipkan orang lain yang jarang nongkrong atau keluar rumah. Sekarang, situasi sudah terbalik sepertinya. Semoga dengan kejadian ini mulai ada saling paham antara yang sering keluar dengan yang tidak pernah keluar sehingga tidak saling nyinyir dan saling menghormati privasi masing-masing.

Baca Juga:  Mau Tahu Seberapa besar Kadar Literasi Para Netizen, Baca Aja Komentar-Komentar Pada Setiap Hidangan Mojok

Ngomong-ngomong soal bosan di dalam rumah, beberapa penghuni apartemen di Jenewa ada yang bernyanyi, main alat musik, nge-DJ, dan saling sahut dan sapa dari beranda apartemen mereka. Pernah suatu hari waktu saya sedang kerja di ruang tamu, tiba-tiba serasa seperti sore-sore bulan Ramadan di kampung halaman. Ternyata penghuni gedung sebelah menyetel tape pengajian hingga terdengar satu jalan. Hari-hari setelah itu tidak terdengar lagi sayangnya, mungkin diperingatkan tetangga.

Tidak lengkap bercerita soal lockdown kalau kita belum mengapresiasi para tenaga kerja yang tetap bekerja di luar rumah. Di sini pun petugas kebersihan, apoteker, pegawai supermarket, pegawai pos, dan sektor kritis lainnya tetap bekerja. Sama seperti di negara-negara lain, para tenaga kesehatan pun kewalahan menangani pasien terlebih karena ada sekitar 14.354 kasus positif dan 278 korban meninggal di Swiss saat tulisan ini dibuat. Untuk mengapresiasi para tenaga kesehatan, banyak warga yang memberikan tepuk tangan dari beranda apartemen mereka setiap jam 9 malam.

Jadi ya… sejauh ini alhamdulillah kehidupan saya di sini baik-baik saja, nyaris tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Mungkin bedanya sekarang lebih sering minum vitamin dan lebih banyak tidur supaya sistem kekebalan tetap prima. Saya dan istri pun sama-sama kerja dari rumah dan dengan begini kami bisa lebih menikmati kebersamaan. Semoga pengalaman ini menyadarkan kita bahwa kita sama-sama manusia yang bisa lemah terhadap virus jika kita tidak menguatkan diri dan tidak saling menguatkan sesama.

BACA JUGA Salut Buat Mahasiswa yang Nolak Pulkam Karena Corona dan tulisan Ramadhan Praditya Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
5


Komentar

Comments are closed.