Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Pengalaman Pertama Tinggal di Apartemen Malang Penuh Penderitaan, Saya Cuma Tahan Sebulan

Vranola Ekanis Putri oleh Vranola Ekanis Putri
13 September 2025
A A
Pengalaman Pertama Tinggal di Apartemen Malang Penuh Penderitaan, Saya Cuma Tahan Sebulan

Pengalaman Pertama Tinggal di Apartemen Malang Penuh Penderitaan, Saya Cuma Tahan Sebulan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pengalaman pertama kali tinggal di sebuah apartemen di Malang yang bikin hidup saya malang…

Tinggal di apartemen, dalam bayangan saya, seperti hidup di film-film. Hidup yang tenang, bebas dari tetangga julid, nggak perlu waspada tiap keluar rumah, dan tentu saja jauh dari catcalling. Wong namanya aja apartemen, saya kira isinya manusia-manusia urban yang punya adab. Ternyata saya salah besar.

ADVERTISEMENT

Alih-alih ketenangan, saya malah mendapat ujian batin. Apartemen ini memang kelihatan sepi. Tapi sepinya bukan karena penghuninya introvert semua. Sepinya karena yang beneran tinggal di sini bisa dihitung jari. Selebihnya? Ya penghuni temporer, alias yang nyewa per jam. Iya, per jam, bukan per hari. Saya juga sempat bingung, ini apartemen atau hotel syariah rasa diskonan.

Bulan lalu, saya butuh tempat tinggal sementara sekaligus bisa buat menyimpan barang. Ketemulah iklan apartemen di Malang harga miring: Rp2,5 juta per bulan, sudah termasuk IPL. Untuk ukuran gaji saya yang masih kategori “asal bisa hidup”, ini jelas agak mahal. Tapi lokasinya strategis, ruangannya lega. Saya pikir, “Nggak papa, nanti juga terbiasa.”

Eh ternyata, penderitaan dimulai sejak hari pertama.

Parkir apartemen mahal, dompet menjerit

Lantaran belum sempat ngurus kartu parkir penghuni, saya harus bayar parkir harian. Rp50 ribu. Per hari. Lama-lama saya merasa bukan tinggal di apartemen, tapi ngekos di parkiran. Mau marah, tapi saldo m-banking udah lebih dulu sesak napas.

Makan harus irit, tapi parkir kayak langganan VIP. Kadang saya mikir, jangan-jangan mobil saya lebih dianggap “penghuni tetap” daripada saya.

Dicurigai check-in

Masalah makin lucu (dan menyebalkan) waktu satpam mulai mencurigai saya sebagai salah satu dari “rombongan” orang yang biasa check-in dadakan. Jadi tiap kali masuk, saya harus menunjukkan kunci unit, padahal udah jelas-jelas tinggal di sana. Mungkin karena muka saya nggak meyakinkan, atau mungkin karena standar penghuni di tempat itu memang sudah terlalu… bias.

Baca Juga:

Pemilik kos nggak problematik, fasilitas yang seharusnya tercantum dalam brosur

Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua

Paling bikin jengkel kalau keluar pas jam 12 siang. Lift selalu penuh karena berbarengan dengan mereka yang mau check-out. Saya jadi harus antre panjang hanya untuk turun sebentar. Suasananya absurd: lorong apartemen penuh orang-orang yang jalannya nunduk, kayak takut ketemu tetangga sekampung. Rasanya kayak nonton parade rasa bersalah kolektif.

Saya sampe hafal ciri khas mereka: hoodie, masker, dan tentengan kresek Indomaret. Kadang masuk lift pun ragu-ragu, kayak nyelundupin diri sendiri. Yang bikin tambah nyesek, lift di apartemen Malang ini nggak dibedakan antara penghuni tetap dan sewa harian. Jadi mau bayar sebulan penuh atau cuma numpang semalam, nasibnya sama: rebutan tombol “B1” di jam genting.

ADVERTISEMENT

Di situ saya sadar, tombol lift lebih demokratis daripada negara: semua orang punya hak yang sama, meski jelas beda modal.

Catcalling dan kejadian aneh lainnya

Apartemen di Malang ini memang aneh. Hotel dan apartemen nyampur jadi satu. Tapi yang paling bikin saya pengen pindah adalah waktu jalan di lorong sendirian, tiba-tiba ada yang catcalling. Padahal saya lagi buang sampah pakai daster panjang, tertutup, nggak neko-neko. Tetap aja dilecehkan secara verbal.

Kebersihan sih lumayan. Tapi kenyamanan? Nol besar. Lorong kadang kosong melompong, teriak sedikit bisa menggema kayak di gua. Kalau malam Minggu, parkiran rame kayak pasar malam. Tapi begitu Senin pagi, suasananya kayak habis kiamat: sepi, suram, hanya meninggalkan bekas jejak ban dan puntung rokok.

Mati lampu, IPL apartemen rasa donasi

Puncaknya, apartemen di Malang ini sering mati lampu. Saya jadi bertanya-tanya, IPL yang tiap bulan dibayar itu sebenarnya lari ke mana? Wong di kos kabupaten aja ada genset, jadi kalau listrik PLN tumbang, lampu tetap nyala. Lah di apartemen ini? Mati lampu ya sudah, gelap gulita. Rasanya kayak ikut uji nyali gratis, cuma tanpa host yang bisa diajak bercanda.

IPL terasa kayak donasi sukarela, bedanya: saya nggak pernah rela.

Akhirnya, saya pindah dari apartemen 

Cukup sudah. Sebulan tinggal di apartemen ini rasanya kayak ikut reality show Uji Mental Penghuni Kota. Saya sadar, tinggal di apartemen itu bukan soal mewah atau nggaknya. Tetapi soal nyaman atau nggak.

Dan apartemen ini? Jauh dari kata nyaman.

Akhirnya saya pindah ke kos. Memang lebih kecil, mungkin jauh dari kata estetik, tapi setidaknya nggak ada yang mandang saya sinis tiap masuk lift. Nggak ada drama satpam, nggak ada parkir harian, dan yang paling penting: saya bisa tidur tenang tanpa mikir siapa yang bakal check-in di kamar sebelah.

ADVERTISEMENT

Pengalaman sebulan itu pahit, iya. Tapi saya jadi belajar satu hal: feed Instagram bisa bohong, tapi tagihan IPL selalu jujur. Kadang, apartemen hanya tempat transit bagi mereka yang tak ingin pulang.

Dan bagi saya, kos kecil yang sunyi jauh lebih berharga daripada apartemen besar yang penuh prasangka.

Penulis: Vranola Ekanis Putri
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 4 Kekurangan Tinggal di Apartemen yang Perlu Dipertimbangkan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 September 2025 oleh

Tags: apartemenapartemen malangkoskota malangMalangTinggal di Apartemen
Vranola Ekanis Putri

Vranola Ekanis Putri

ArtikelTerkait

Menyalahkan Mahasiswa Pendatang atas Semua Persoalan Kota Malang Adalah Pendapat yang Aneh yang Perlu Dibongkar   Mojok.co

Menyalahkan Mahasiswa Pendatang atas Semua Persoalan Kota Malang Adalah Pendapat Aneh yang Perlu Dibongkar  

30 Mei 2025
5 Kampus Swasta di Malang yang Nggak Terlalu Terkenal tapi Mutunya Nggak Kaleng-Kaleng  

5 Kampus Swasta di Malang yang Nggak Terlalu Terkenal tapi Mutunya Nggak Kaleng-Kaleng  

24 Juli 2025
5 Jenis Tetangga Menyebalkan yang Lebih Baik Dihindari Mojok.co

5 Jenis Tetangga Menyebalkan yang Lebih Baik Dihindari

12 Desember 2023
Songgoriti, Gang Macan, dan Stereotip Negatif yang Tak Kunjung Lepas terminal mojok.co

Songgoriti, Gang Macan, dan Stereotip Negatif yang Tak Kunjung Lepas

12 Januari 2022
Alasan Tinggal di Apartemen Nggak Cocok buat Orang Dusun Terminal mojok

Alasan Tinggal di Apartemen Nggak Cocok buat Orang Dusun

11 Februari 2021
Kalau Tidak Pernah Nyasar di Labirin Sawojajar Malang, Anda Mungkin Orang Sakti mojok.co/terminal

Kalau Tidak Pernah Nyasar di Labirin Sawojajar Malang, Anda Mungkin Orang Sakti

9 Maret 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kaza Mal Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi Mojok.co

Kaza Mall Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi

19 Agustus 2026
Derita mahasiswa Unsoed, sudah kampus dan faslitasnya medioker, kini harus menahan malu karena rektornya korupsi Mojok.co

Derita mahasiswa Unsoed, sudah kampus dan fasilitasnya medioker, kini harus menahan malu karena rektornya korupsi

23 Agustus 2026
Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya Mojok.co

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya

21 Agustus 2026
Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama Mojok.co

Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama

22 Agustus 2026
Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa (Unsplash)

Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa hanya demi memuaskan ego merusak milik segelintir orang

17 Agustus 2026
Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah Mojok.co lamongan

Sudah tahu jalan di Lamongan jelek, kok malah beli Honda Scoopy, aneh!

21 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.