Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Pengalaman Buruk Saya Dikejar Debt Collector di Jogja, Bikin Trauma dan Overthinking Saat Berkendara

Rachelia Methasary oleh Rachelia Methasary
16 Agustus 2025
A A
Jogja Darurat Mata Elang alias Debt Collector: Sering Bikin Onar dan Meneror Pengendara padahal Salah Sasaran, Bikin Waswas Saat Berkendara! matel

Jogja Darurat Mata Elang alias Debt Collector: Sering Bikin Onar dan Meneror Pengendara padahal Salah Sasaran, Bikin Waswas Saat Berkendara!

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi banyak orang, berkendara di Jogja memang seru, apalagi naik motor. Syahdu dan jarang terdengar klakson. Namun, ketika saya membaca artikel di Terminal Mojok baru-baru ini mengenai permasalahan mata elang (matel) alias debt collector di Jogja, rasa nyaman berkendara jadi sirna. Tulisan tersebut membawa ingatan saya pada kejadian serupa saat tinggal di Jogja 2 tahun lalu. Saya sendiri yang mengalaminya, jadi incaran matel setiap lewat Seturan dan sekitarnya.

Matel sering mangkal di area yang banyak mahasiswa atau pendatang, contohnya di Seturan itu atau di dekat UGM saya pernah lihat. Mereka justru bukan menyasar warlok, tapi orang-orang luar Jogja yang punya motor. Tugas mereka menagih konsumen leasing kendaraan (khususnya motor) yang belum bayar cicilan atau bahkan kena kredit macet. Seharusnya dengan SOP yang berlaku, tapi seringnya memaksa bahkan sampai terjadi keributan.

Nah, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, saya sempat menjadi incaran komplotan debt collector di Jogja. Entah kenapa, padahal motor yang saya gunakan saat itu sudah lunas dan tidak ada tunggakan apa pun. Bukan hanya sekali, saya diberhentikan berkali-kali. Perasaan cemas dan waswas selalu menghantui kehidupan saya di Jogja. Kok gini amat ya?

Data penagihan salah tapi selalu jadi sasaran debt collector

Saya lupa kapan tepatnya Mio mungil ini jadi data para debt collector seram. Pertama saya dicegat sewaktu melintas di Jalan Seturan dekat Kampus UPN. Kalau yang paham daerah itu, mereka suka ngetem di sana. Kira-kira ada lebih dari 3 orang sambil mencocokkan data di handphone. Ketika melirik plat saya, mereka langsung mengejar. Saya masih belum sadar kalau jadi incaran, masih tenang saja ngegas motor.

Akhirnya, saya diberhentikan di pinggir jalan raya. Meski ramai, sepertinya masyarakat ini sudah biasa lihat orang dicegat matel. “Ini motor Lexi ya?” seorang lelaki bertanya dengan agak kasar. Saya belum bisa mencerna maksud si mas ini apa ya. Oh, saya baru paham, mereka ini mengira motor saya mereknya Yamaha Lexi. Saya menjelaskan tentang motor ini dengan gemetar.

Dua orang ini tetap tidak mau tahu dan meminta diperlihatkan STNK untuk bukti. Jelas-jelas si merah ini Yamaha Mio M3, kenapa kekeuh Yamaha Lexi? Setelah orang ini membaca STNK, malah bingung sendiri sambil menjelaskan ke temannya bahwa data yang mereka pegang salah. “Maaf ya kak ini datanya salah. Kirain mereknya Lexi, soalnya belum bayar tunggakan” tukasnya sambil pasang muka malu tapi tetap sok garang.

Hari-hari berikutnya saya dihadang lagi saat melintasi Jalan Affandi Gejayan. Oknumnya beda tapi masih membawa data yang sama, Yamaha Lexi menunggak cicilan. Saya tunjukkan lagi STNK plus no mesin di dalam jok motor. “Tolong dong infokan ke atasannya, data ini dihapus karena salah. Kemarin juga begini. Bikin orang takut aja!” protes saya hampir mau nangis. Dan kamu tahu, saya sudah 4 kali dihadang debt collector seperti ini. Data ngawur dan saya tetap diincar.

Dikejar sampai ke dalam gang sempit

Ternyata, pengejaran ini bukan hanya di pinggir jalan raya saja. Pernah pada siang hari yang terik, saya diuber gerombolan matel sampai ke gang kecil daerah Seturan. Rasanya seperti sedang berada di film action, tapi saya yang jadi maling. Walaupun kerap kali mengalami insiden ini, saya tetap deg-degan dan ketakutan menghadapi mereka.

Baca Juga:

Motor Kredit Menciptakan Kabut Tebal yang Menyembunyikan Wajah Asli Kemiskinan, Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat

Jogja Darurat Mata Elang alias Debt Collector: Sering Bikin Onar dan Meneror Pengendara padahal Salah Sasaran, Bikin Waswas Saat Berkendara!

Saat di dalam gang, dengan data yang sama (masih salah), mereka ngeyel kalau saya nunggak bayar. Dengan keberanian dan amarah yang memuncak, saya berargumen bahwa motor ini sudah lunas dan bebas utang piutang. Seperti biasa, mereka bingung dan minta maaf lagi karena salah sasaran. Entahlah, siapa yang menyediakan informasi ini sampai saya terus-terusan jadi mangsa.

Untungnya hari masih terang, bakalan lebih horor lagi dicegat debt collector saat malam tiba. Orang sekitar pun nggak peduli jika ada seseorang yang disamperin matel, atau mungkin mereka juga takut dan ingin cari aman.

Trauma lewat daerah SCBD Jogja, sarangnya debt collector

Akibat dari kejadian ini, saya jadi trauma lewat daerah SCBD karena para kolektor ini sering stand by di sana. Bahkan, di dekat UGM dan Jalan Solo pun sudah ada. Setiap lewat Seturan sekitarnya, saya langsung ketakutan dan putar balik jika ada matel. Pernah suatu ketika saya bablas aja, eh nggak dicegat. Sepertinya data motor saya sudah dihapus. Akhirnya, saya bisa bernapas lega.

Meskipun begitu, terkadang saya tetap waspada, siapa tahu kesialan menimpa saya lagi. Saking takutnya, saya rela berputar jauh lewat ringroad demi menghindari orang-orang ini. Bagi kamu yang merasa kendaraanmu bermasalah, mending hindari wilayah SCBD siang hari daripada kamu diuber kayak saya.

Eh, tapi nggak hanya ruas jalan di SCBD saja, kamu lebih baik mewaspadai di semua daerah ramai Jogja. Gerombolan ini sepertinya sudah menyebar.

Harus berani melawan, jangan sampai kendaraan jadi korban

Dalam situasi seperti ini, wajar saja jika panik dan ketakutan, saya pun merasakannya. Namun, tidak ada salahnya jika kita bertindak lebih tegas bila tidak salah dan jangan sampai pasrah pada debt collector. Banyak juga kasus salah sasaran di Jogja, rekan saya pun sempat mengalami. Hal ini membuatnya trauma untuk keluar sekadar beli makan. I feel you, my friend.

Sebagai pemilik motor yang sah, kamu punya hak untuk melawan. Jangan takut karena mereka pun akan mundur jika kamu sedikit galak untuk membela diri. Saya menerapkan trik ini. Tidak peduli matel ini laki-laki berlagak seram semua, saya benar kok. Walaupun ada debat tipis, mereka kalah dan melengos pergi.

Untuk menguatkan, kamu boleh perlihatkan bukti bahwa kendaraanmu memang tidak ada tunggakan dan kredit macet. Hal ini dilakukan kalau si matel sudah ngeyel tingkat tinggi.

Boleh menagih asalkan caranya manusiawi

Tidak masalah buat saya soal penagihan ini asal caranya manusiawi dan tidak mengintimidasi. Selain itu, penting adanya pedoman resmi dari leasing terkait akan proses ini. Ya memang sudah sewajarnya konsumen membayar kewajiban sesuai ketentuan. Apabila debitur sudah sangat terlambat bayar dan sulit ditemui, biasanya menggunakan pihak eksternal untuk menagih. Ya kelompok matel inilah maksudnya.

Berdasarkan pengalaman, saya merasa tidak nyaman dengan proses pengalihan seperti ini. Sebaiknya pihak leasing memberikan arahan yang jelas mengenai tata cara menagih yang berperikemanusiaan. Tidak sampai kejar-kejaran dengan pemilik kendaraan atau bahkan mengancam. Alih-alih angsuran dibayarkan, debt collector dan konsumen malah gontok-gontokkan. Kok malah jadi kayak tawuran ya?

Saya harap sih permasalahan matel di Jogja ini bisa segera diselesaikan. Jangan sampai membuat Jogja semakin tidak nyaman untuk ditinggali. Masa harus memakan korban dan viral dulu baru dibereskan?

Penulis: Rachelia Methasary
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Hal-hal yang Kita Tak Ketahui dari Debt Collector: Mereka Tidak (Sekadar) Menagih, tapi (Juga) Mengingatkan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Agustus 2025 oleh

Tags: cicilan motordebt collectordebt collector motorleasingmata elang
Rachelia Methasary

Rachelia Methasary

Pustakawan di ibu kota yang senang ngopi, traveling, dan baca buku. Lebih memilih tempat yang sepi dan tenang karena introvert.

ArtikelTerkait

3 Alasan Pejabat Sebaiknya Nyoba Magang Jadi Debt Collector

3 Alasan Pejabat Sebaiknya Nyoba Magang Jadi Debt Collector

28 Desember 2021
Konten “Pinjam Dulu Seratus” Nggak Bikin Tukang Ngutang Minggat, Malah Bikin Kasus Pinjol Meningkat

Dear Orang-orang Mahasuci, Tak Semua Korban Pinjol Adalah Penjudi Slot, Banyak dari Mereka yang Dihantam Keadaan, Terhimpit Nasib

6 Oktober 2023
Motor Lelang Leasing, Solusi buat Kamu yang Ingin Beli Motor Murah Legal dan Tanpa Zonk

Motor Lelang Leasing, Solusi buat Kamu yang Ingin Beli Motor Murah Legal dan Tanpa Zonk

13 Agustus 2023
bpjs kesehatan negara debt collector tenggelam Nagih-Nagih Sampai Ngancam Denda 30 Juta, Negara dan BPJS Udah Kayak Debt Collector aja

Nagih-Nagih Sampai Ngancam Denda 30 Juta, Negara dan BPJS Udah Kayak Debt Collector aja

31 Mei 2020
Punya Usaha Kontrakan Ternyata Nggak Seindah yang Dibayangkan, Sering Terpaksa Cosplay Jadi Debt Collector

Punya Usaha Kontrakan Ternyata Nggak Seindah yang Dibayangkan, Sering Terpaksa Cosplay Jadi Debt Collector

10 Januari 2024
Jogja Darurat Mata Elang alias Debt Collector: Sering Bikin Onar dan Meneror Pengendara padahal Salah Sasaran, Bikin Waswas Saat Berkendara! matel

Jogja Darurat Mata Elang alias Debt Collector: Sering Bikin Onar dan Meneror Pengendara padahal Salah Sasaran, Bikin Waswas Saat Berkendara!

3 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Bandung dari Kacamata Orang Lokal, Nggak Kalah dari Kampus Negeri Mojok.co PTN

Tradisi Tahunan Datang, Sekolah Kembali Sibuk Merayakan Siswa Lolos PTN, sementara yang Lain Cuma Remah-remah

23 April 2026
Suzuki Jimny Jangkrik hingga Toyota Yaris Bakpao, 6 Julukan Mobil Paling Unik karena Desainnya yang Aneh Mojok.co

Suzuki Jimny Jangkrik hingga Toyota Yaris Bakpao, 6 Julukan Mobil Paling Aneh Terinspirasi dari Bodi yang Unik

20 April 2026
4 Tabiat Tukang Parkir yang Disukai Pengendara. Sederhana, tapi Tidak Semua Tukang Parkir Bisa Melakukannya  Mojok.co

4 Tabiat Tukang Parkir yang Disukai Pengendara. Sebenarnya Sederhana, tapi Tidak Semua Tukang Parkir Bisa Melakukannya 

18 April 2026
5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup

23 April 2026
Purwokerto Dipertimbangkan Orang Kota untuk Slow Living, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru Mojok.co

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

22 April 2026
UIN Malang dan UIN Jogja, Saudara yang Perbedaannya Kelewat Kentara

Biaya Hidup Murah, Denah Kampus Mudah Adalah Alasan Saya Masuk UIN Malang

19 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar
  • Ironi WNI Jadi Guru di Luar Negeri: Dapat Gaji 2 Digit demi Mengajari Anak PMI, Pulang ke Indonesia Tak Dihargai dan Sulit Sejahtera
  • Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik
  • Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI
  • Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki
  • “Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.