Pengalaman Berurusan dengan Tukang Parkir yang Nggak Mau Kepanasan – Terminal Mojok

Pengalaman Berurusan dengan Tukang Parkir yang Nggak Mau Kepanasan

Artikel

Avatar

Barangkali kalau ada entitas paling menyebalkan di multisemesta, itu adalah tukang parkir liar. Itu loh, yang ada di mana-mana, mulai dari photocopy-an, angkringan, warung kelontong, semua ada tukang parkirnya.

Pun, ragam jenis tukang parkir liar juga kadang bikin mangkel. Ada yang pas kita datang nggak ada, eh mendadak pas mau pulang auto ada dong. Ada juga yang cuma bilang, “TEROOOSSS. TEROOOSSS,” dari kejauhan sambil duduk di motor. Ada juga yang nggak bantuin narik motor pas mau balek, eh pas mau tancap gas, tiba-tiba ditagih, dong.

Tetapi jangan salah, banyak juga tukang parkir—meski liar—yang bertanggung jawab. Artinya, beneran nata motor-motor yang ada, terus bantu narikin motor, terus nyeberangin jalan sekalian. Asli, jenis tukang parkir yang baik dan budiman seperti itu harusnya menjadi contoh bagi semua tukang parkir—meski liar—di multisemesta ini.

Nah, dari semua jenis tukang parkir liar, saya pernah mengenal tukang parkir yang nyebelin banget. Bahkan sesama tukang parkir di daerah sana juga sama sebelnya kayak saya. Tukang parkir itu adalah bapak-bapak yang jaga parkiran kedai kopi tempat saya bekerja. Sekilas, sih, bapak-bapak itu terlihat baik-baik saja dan nggak nyebelin sama sekali, sampai akhirnya ketika dia mulai markirin, gerak-geriknya lucu banget. Ya, gimana nggak lucu, wong dia cuma niup peluit sambil lambai-lambaiin tangan dari kursi tempatnya duduk.

Biasanya, kan kalau ada mobil masuk, tukang parkir yang baik langsung sigap deketin mobil, ngasih aba-aba suruh mundur, suruh ke kanan, suruh bales kiri, dan teriak, “HOOOPPP!” Tak lupa, aba-aba menggunakan tangan harus sangat jelas, gimana aba-aba maju atau mundur. Lah, kalau si Pak Parkir yang saya kenal ini, sebut saja Pak Hahuhahu—saya dan anak-anak memanggilnya demikian karena cara ngomong blio kayak kumur-kumur gitu—dia cuma melambaikan tangan yang nggak jelas maksudnya harus maju atau mundur.

Mentok, Pak Hahuhahu ini jalan beberapa langkah ke bawah pohon yang masih teduh sambil niup peluit dan lambai-lambaikan tangan. Itu yang di dalem mobil pasti mangkel pol karena bukannya bantuin parkir, Pak Hahuhahu malah bikin bingung.

Kalau tukang parkir lain kan jelas, ngode ke kanan, yang di dalem mobil tinggal ke kanan. Kalau ngode ke kiri, ya tinggal ke kiri. Itu Pak Hahuhahu malah kayak lagi dada-dada sama yang di dalem mobil. Nggak passionate sama sekali. Berdiri dengan lesu, jepit peluit di bibir, terus dada-dada. Abis mobil terparkir dengan baik dan benar—yang sebenarnya tanpa adanya Pak Hahuhahu juga bisa baik dan benar—si bapak-bapak ini langsung balik duduk di kursi kebanggaannya.

Dia baru bangkit lagi saat ada pelanggan yang mau pulang. Nggak bantuin narik motor, apalagi bantu nyeberangin. Cuma berdiri di samping pelanggan dan nodongin tangan. Asli, nggak bermanfaat sama sekali. Jangan harap juga Pak Hahuhahu ini mau rapiin kendaraan di lahan parkir, wong kena terik matahari aja nggak mau. Makanya, area langkah Pak Hahuhahu hanya sebatas kursi kayunya dan area parkir yang teduh terkena rimbun pohon. Ya, paling rapiin kendaraan di bagian yang teduh itu aja.

Pernah beberapa kali saya dan teman-teman menegur Pak Hahuhahu biar lebih passionate saat menjalankan tugasnya, tetapi respons blio malah makin nyebelin karena bilang, “Saya sudah dari dulu jadi tukang parkir.” Tentu saja bagian paling jelas adalah kalimat itu, karena kalimat lain yang terlontar dari mulut blio hanya terdengar seperti ha hu ha hu. Tapi maksudnya, okelah blio sudah lama jadi tukang parkir, tapi ya mbok berkembang lebih baik, seperti anak-anak muda yang semangat banget nata motor, bantuin nyeberang jalan, dan teriak, “BALES KANAN… BALES KANAN. HOPPP!” itu.

Perihal tukang parkir yang justru membingungkan alih-alih membantu ini sempat jadi obrolan serius dengan tukang parkir akamsi—anak kampung sini—yang muda-muda itu. Mereka juga sebenernya sebel sama blio, tapi ya gimana, kalau mereka minta agar Pak Hahuhahu buat berhenti markir, mau makan apa blio? Namun, kalau tetep lanjut, kok kayak nggak ada gunanya gitu?

Akhirnya ya, Pak Hahuhahu masih bertahan markirin area kedai kopi sampai saat ini, meski untuk urusan kerapian motor kadang saya dan teman-teman kudu turun tangan. Barulah kalau sore tiba, Pak Hahuhahu pulang, maka urusan parkir menjadi lebih santai karena banyak akamsi yang lebih passionate saat bertugas menjaga parkir.

BACA JUGA Beberapa Jenis Tukang Parkir yang Menyebalkan dan tulisan Riyanto lainnya.

Baca Juga:  Saya Usul Supaya Profesi Tukang Parkir Jadi Pilihan Cita-Cita
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
5


Komentar

Comments are closed.