Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pendakian Gunung Slamet dan Pengalaman Horor di Pos Samarantu

Fadlir Nyarmi Rahman oleh Fadlir Nyarmi Rahman
21 Desember 2021
A A
Pendakian Gunung Slamet dan Pengalaman Horor di Pos Samarantu terminal mojok.co
Share on FacebookShare on Twitter

“Tapi, yang paling nakutin di Gunung Slamet tuh pas rombonganku sampai di pos 4, Samarantu. Hawanya langsung lebih dingin dan mistis gitu. Jadi ada dua pohon kaya pintu gapura gitu. Kata seniorku, Samarantu itu portal antara dunia kita sama dunia gaib.”

Cerita yang kira-kira isinya begitu, saya dapat sekitar sepuluh tahun lalu dari Mas Agung. Ia adalah abang-abangan selisih dua rumah dari rumah saya. Itu adalah pendakian pertamanya karena diajak seniornya di pramuka saat SMA. Dan cerita itu sangat membekas di ingatan saya.

Apalagi, saat saya menginjak bangku SMA dan ikut ekstrakulikuler pecinta alam. Cerita yang menggambarkan betapa angker dan seramnya pos 4 pendakian Gunung Slamet via Bambangan, Purbalingga itu lebih sering saya dapat dari para senior.

Bertahun-tahun kemudian semenjak saya mendengar cerita Mas Agung, akhirnya saya menginjakkan kaki juga di Samarantu. Saat itu, rombongan kami yang berjumlah 14 orang sedang sok-sokan nasionalis ingin merayakan HUT RI ke-70.

Saat tiba di pos 4 itu, rombongan kami langsung hening. Alias, kami tidak slengean, banyak omong, dan seceria saat perjalanan sebelum sampai sana. Padahal saat tiba di pos 1 sampai 3, kami selalu menyempatkan untuk foto-foto dengan background plang setiap pos. Namun, di Samarantu tidak ada yang berani sekadar mengajak foto-foto. Intinya, kami saling diam dengan kecamuk masing-masing.

Mungkin di benak mereka kala itu adalah apa yang ada di benak saya juga. Yaitu banyak pikiran yang nggak-nggak menjurus mistis karena setiap dari kami, saya yakin, tahu rumor mengenai pos ini tapi tidak berani membicarakannya.

Tidak bermaksud mendramatisir, tapi tiba-tiba salah satu teman kami nyeletuk ingin pulang. Sontak, saya dan yang lain pun terkejut karena perasaan dari tadi aman-aman aja, deh. Lah, ini udah sampai pos 4 yang kira-kira sudah setengah jalan kok malah minta balik?

Lantas, kami menanyakan mengapa ia bersikap demikian. Anehnya, ia tak mau menjawabnya dengan alasan takut untuk bilang. Seketika, saya merinding. Selain karena saya memang sedang menahan keinginan untuk BAB, saya juga memikirkan hal-hal berbau mistis melihat sikap aneh teman saya.

Baca Juga:

3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Mikutopia Kota Batu, Hidup Dihantui Macet, Berisik, dan Waswas dengan Ancaman Bencana Ekologis Masa Depan

Singkat kata, ia akhirnya mau cerita. Katanya, dari semenjak berangkat dari basecamp ia diikuti semacam serangga di belakang kepalanya. Sepanjang perjalanan ia merasa seperti mendapat bisikan untuk turun dan pulang. Namun, ia selalu mengabaikannya. Dan ketika sampai di pos 4 itu, serangga yang ia maksud tak lagi mengikutinya dan bisikan-bisikan itu pun hilang.

Oleh karena itu, ia berkesimpulan bahwa ia tidak boleh melanjutkan perjalanan. Sebab, sudah sepanjang jalan ia mengabaikan peringatan dari bisikan itu, ia takut mungkin si pemberi peringatan seperti mau lepas tangan dan membiarkannya tertimpa hal buruk nantinya karena terus mengabaikan peringatan itu. Itulah yang membuatnya kekeuh untuk pulang meski tidak ada yang mau ikut dengannya. Bahkan, termasuk pacarnya sendiri yang juga ada dalam rombongan kami.

Mula-mula, kami meyakinkannya bahwa tidak akan terjadi apa-apa dan itu hanya firasat setengah halu belaka. Namun, ia tetap teguh dengan keputusannya. Maka, kami akhirnya membiarkannya untuk balik pulang untuk menghormati firasat dan keputusannya. Dan pacarnya yang sebetulnya tampak enggan ikut pulang tadi pun, kami minta untuk mendampinginya.

Sementara teman saya dan pacarnya turun, kami melanjutkan perjalanan tanpa ada yang berani memulai membahas insiden tadi. Sebab kami ragu, jangan-jangan firasatnya bukanlah bualan semata. Apalagi, saat itu teman saya yang lain ada yang menemukan semacam sesajen di sekitar sana. Tapi, hasrat muda-mudi yang ingin pamer foto di puncak Gunung Slamet, mengalahkan keraguan kami itu.

Sepanjang saya mendaki gunung, hal itu adalah pengalaman paling horor yang pernah saya rasakan. Saya pernah diperdengarkan suara gamelan saat malam-malam di pendakian gunung lain, tapi tidak pernah merasa setakut dan semerinding saat itu. Mungkin karena hal itu terjadi tiba-tiba dan di tempat yang terkenal angker pula, meski saat itu masih siang hari.

Namun, terlepas dari pengalaman saya tersebut, pos Samarantu memang punya cukup daya horor tersendiri bagi kebanyakan pendaki Gunung Slamet. Setidaknya, teman-teman saya lainnya yang pernah mendaki Gunung Slamet pasti me-notice lebih saat beristirahat di Samarantu.

Bahkan di YouTube, banyak vlog tentang pendakian Gunung Slamet yang meng-highlight saat mereka tiba di Samarantu. Entah itu bertujuan untuk menarik penonton atau memang mereka ingin membagi pengalaman horornya saat di sana.

Bahkan, rumor horor ini sudah menjadi semacam urban legend bagi penduduk di sekitar Gunung Slamet, terutama daerah Purwokerto dan Purbalingga. Sekalipun ia tidak pernah dan tidak suka mendaki, setidaknya ia tahu atau pernah dengar bahwa Samarantu adalah lokasi mistis yang dikenal sebagai portal antara dunia nyata dan gaib yang ada di Gunung Slamet.

Sumber Gambar: Pixabay

Editor: Audian Laili

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Desember 2021 oleh

Tags: gunung slametpendakianpilihan redaksiSamarantu
Fadlir Nyarmi Rahman

Fadlir Nyarmi Rahman

Seorang radiografer yang sedikit menulis, lebih banyak menggulir lini masa medsosnya. Bisa ditemui di IG dan Twitter @fadlirnyarmir.

ArtikelTerkait

Kasta Es Krim Wall’s dari Sultan hingga Legend Terminal Mojok

Kasta Es Krim Wall’s dari Sultan hingga Legend

7 Oktober 2022
5 Hal yang Bikin Pendatang Melongo Saat di Solo

5 Hal yang Bikin Pendatang Melongo Saat di Solo

21 Februari 2023
Kesaksian Suporter Malam Mencekam di Kanjuruhan dan Saya yang Gagal Menjadi Manusia Terminal Mojok

Kesaksian Suporter: Malam Mencekam di Kanjuruhan dan Saya yang Gagal Menjadi Manusia

3 Oktober 2022
Sisi Gelap Tinggal di Kecamatan Moyudan Sleman

Sisi Gelap Tinggal di Kecamatan Moyudan Sleman

9 April 2023
Kata Siapa Ijazah S2 Nggak Ada Artinya di Dunia Kerja? 5 Profesi Ini Justru Butuh Ijazah S2 sebagai Tiket Masuk ke Dunia Kerja

Kata Siapa Ijazah S2 Nggak Ada Artinya di Dunia Kerja? 5 Profesi Ini Justru Butuh Ijazah S2 sebagai Tiket Masuk ke Dunia Kerja

26 Agustus 2024
Salah Kaprah Hidup Hemat, dari Dinilai Pelit Sampai Dianggap Miskin terminal mojok

Salah Kaprah Hidup Hemat, dari Dinilai Pelit Sampai Dianggap Miskin

28 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor matic itu kutukan yang selalu rusak kalau saya punya uang (Unsplash)

Saya curiga, motor matic punya indra penciuman terhadap saldo rekening karena selalu rusak ketika saya punya uang

16 Juli 2026
Mengapa banyak pengangguran di Jogja enggan merantau? (Unsplash)

Mengapa banyak pengangguran di Jogja enggan merantau?

15 Juli 2026
Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

16 Juli 2026
Desa Jangkar, Desa Paling Nyaman di Bangkalan Madura. Menetap Sehari, Langsung Ingin Datang Lagi

Desa Jangkar Bangkalan: desa paling anomali di Madura saat musim kemarau, tapi bikin desa lain cemburu

12 Juli 2026
3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

Bukan cuma soal dingin, ini 4 kejanggalan di Lembang yang bikin wisatawan Semarang heran

15 Juli 2026
Kalian boleh kesal sama emak-emak, tapi oknum bapak-bapak merokok saat berkendara jauh lebih meresahkan

Kalian boleh kesal sama emak-emak, tapi oknum bapak-bapak merokok saat berkendara jauh lebih meresahkan

11 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.