Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Pemkot Surabaya Tak Serius Urus Transportasi Umum, Bukannya Makin Bagus, Malah Makin Remuk!

Dito Yudhistira Iksandy oleh Dito Yudhistira Iksandy
12 Agustus 2024
A A
Pemkot Surabaya Tak Serius Urus Transportasi Umum, Bukannya Makin Bagus, Malah Makin Remuk!

Pemkot Surabaya Tak Serius Urus Transportasi Umum, Bukannya Makin Bagus, Malah Makin Remuk! (Mujiono Ma'ruf via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebelum tulisan ini dibuat, saya punya harapan tinggi pada kemajuan transportasi umum Surabaya. Bagaimana tidak, kemunculan Suroboyo Bus sebagai transportasi umum pertama yang dikelola dengan “serius” begitu disambut oleh banyak orang. Meskipun ada beberapa kekurangan saat itu, tapi wajar, namanya juga masih baru.

Angin segar berikutnya juga datang dari pemkot yang mengeluarkan angkutan feeder bernama Wirawiri Suroboyo untuk mendorong minat masyarakat pada transportasi umum. Tak tanggung-tanggung, Pemkot Surabaya bahkan mengambil alih pengelolaan Trans Semanggi dari Kementerian Perhubungan demi menciptakan sistem yang terintegrasi antar-armada.

Praktis, berbagai hal tersebut membuat saya saat itu percaya kalau masa depan transportasi umum di Surabaya perlahan mulai cerah. Akan tetapi, harapan saya langsung hancur lebur ketika kembali menggunakan transportasi umum setelah sekian lama.

Pengalaman buang-buang waktu karena transportasi umum Surabaya

Ceritanya beberapa hari lalu, saya sedang menemani kawan pergi ke Unesa Lidah Wetan. Posisi kami saat itu sedang berada di Unesa Ketintang. Jadi kami harus menempuh perjalanan kurang lebih selama 30 menit menggunakan motor. Mempertimbangkan matahari Surabaya yang begitu menyengat, motoran selama itu tentu akan sangat menyiksa. 

Akhirnya, saya mengusulkan agar kami menjajal transportasi umum di Surabaya. Selain terlindungi dari panas, tarifnya juga lebih murah, hanya Rp2.500 bagi pelajar dan mahasiswa. Praktis, kawan saya pun menyetujui saran ini, sehingga kami langsung meluncur ke halte terdekat. Dan, inilah pintu awal menuju kekecewaan.

Perjalanan kami ternyata memakan waktu jauh lebih banyak daripada estimasi yang ditentukan. Bayangkan, untuk berangkat kami membutuhkan sekitar 1 jam. Sementara untuk arah kembali, memerlukan waktu 1 jam lebih 30 menit. Parahnya, waktu kami terbuang sia-sia karena menunggu armada yang tak kunjung lewat, kalaupun ada pasti sudah penuh.

Iya, saya tahu kalau menggunakan transportasi umum pasti harus menunggu, tapi yang ini kebangetan. Mosok perjalanan yang hanya 30 menit jadi sampai 1 jam lebih?

Wirawiri Suroboyo yang salah fungsi

Menurut saya, penyebab terjadinya molor waktu yang berlebihan ini adalah kesalahan memilih transportasi umum di Surabaya untuk rute yang ditetapkan. Saya akan jelaskan singkat, untuk ke Unesa Lidah Wetan dari Unesa Ketintang, saya perlu melewati dua rute. Rute pertama adalah Purabaya–Perak, dan rute kedua Terminal Joyoboyo–Yono Suwoyo.

Baca Juga:

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

Jalan Mayjen Jonosewojo Surabaya Kawasan Elite, Kualitas Jalan Sulit: Daerah Mahal kok Aspalnya Rusak!

Dulu, kedua rute ini masih dilayani oleh Suroboyo Bus, sehingga meskipun termasuk rute yang padat, tidak terjadi penumpukan penumpang di halte karena satu bus bisa muat lebih dari 60 orang. Masalahnya, rute Terminal Joyoboyo–Yono Suwoyo sekarang sudah diganti dengan rute baru Terminal Joyoboyo–Lakarsantri yang dilayani Wirawiri Suroboyo.

Nah, di sini sumber masalahnya. Wirawiri Suroboyo seharusnya hanya berfungsi sebagai feeder. Jadi, fungsinya cuma untuk mengumpulkan orang untuk dioper ke rute utama atau angkutan umum yang lebih besar. Oleh karena itu, ukurannya dibuat lebih kecil, hanya muat sekitar 8 orang. Tapi, di kasus ini, Wirawiri justru mengambil jalur milik transportasi umum Surabaya lainnya, Suroboyo Bus.

Jadi, ya, sudah ditebak kalau akhirnya mereka kewalahan sendiri. Bayangkan, di Terminal Joyoboyo, angkutan Wirawiri pasti sudah langsung penuh hanya dalam hitungan detik. Padahal, selisih tiap angkutannya itu 15 menit. Kalau nggak kebagian, ya, harus nunggu 15 menit lagi, gitu terus sampai kebagian kursi.

Nggak heran, kalau terjadi penumpukan penumpang di halte Marmoyo. Padahal, halte ini posisinya tepat setelah Terminal Joyoboyo, tapi mereka sering kali nggak kebagian kursi. Lha, gimana, wong sudah penuh duluan. Bahkan, petugas Wirawiri Suroboyo sendiri mengatakan kalau sebaiknya mereka jalan kaki ke Terminal Joyoboyo agar nggak menunggu terlalu lama.

Fasilitas armada yang nggak diperbaiki

Selain hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas, ada satu lagi yang mengganjal perasaan saya ketika menggunakan transportasi umum di Surabaya. Sekitar satu tahun lalu, saya sedang sering-seringnya menggunakan transportasi umum. Dan, terus terang nggak ada masalah yang berarti, kecuali keterbatasan rute yang tersedia.

Akan tetapi, ketika saya mencoba lagi beberapa hari lalu, ternyata sudah banyak fasilitas armada yang butuh diperbaiki. Misalnya, di armada Suroboyo Bus yang saya kendarai saat itu AC-nya sudah nggak dingin, LED penunjuk rute rusak, bel untuk berhenti nggak berfungsi, dan colokan USB juga nggak bisa digunakan.

Sementara di unit Wirawiri Suroboyo kerusakannya lebih minim, tapi krusial, yakni pada papan LED penunjuk rute di bagian atas yang nggak bisa dirubah. Akibatnya, saya sempat beberapa kali salah memberhentikan armada karena hal ini. Beruntung petugasnya ramah, sehingga mau menjelaskan kalau terjadi kerusakan di penunjuk rute dan memberitahu armada mana yang seharusnya saya naiki.

Itulah kekecewaan saya terhadap transportasi umum di Surabaya. Harusnya sesuatu itu mengalami perbaikan dan peningkatan kualitas seiring berjalannya waktu. Lha, ini malah sebaliknya, awalnya bagus, tapi seiring waktu malah makin merosot. Ayolah, Pemkot Surabaya, tolong ini dibenahi dulu. Ini saja belum beres, kok, udah buru-buru mau bikin kereta tanpa rel. Ih, gemes banget jadi pengin cubit.

Penulis: Dito Yudhistira Iksandy
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Betapa Problematiknya Trans Semanggi Surabaya: Waktu Kedatangan yang Tak Bisa Diprediksi, Nunggu Sampai Lumutan!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2024 oleh

Tags: Kota Surabayapemkot surabayaSurabayaSuroboyo Bustransportasi umumWirawiri Suroboyo
Dito Yudhistira Iksandy

Dito Yudhistira Iksandy

Alumnus Sosiologi Universitas Negeri Surabaya. Bekerja sebagai crew event organizer. Suka menonton anime dan drama korea.

ArtikelTerkait

Jalan Mastrip Jombang, Jalur Utama Jombang-Mojokerto-Surabaya yang Bikin Anda Selangkah Lebih Dekat dengan Maut

Jalan Mastrip Jombang, Jalur Utama Jombang-Mojokerto-Surabaya yang Bikin Anda Selangkah Lebih Dekat dengan Maut

24 Januari 2024
Lapangan Kodam V Brawijaya, Lapangan Militer yang Disulap Jadi Pasar Malam di Surabaya

Lapangan Kodam V Brawijaya, Lapangan Militer yang Disulap Jadi Pasar Malam di Surabaya

5 Februari 2024
PRJ Surabaya, Sebuah Usaha Meniru PRJ di Jakarta yang Maksa Banget

PRJ Surabaya, Sebuah Usaha Meniru PRJ di Jakarta yang Maksa Banget

24 Oktober 2023
Sidoarjo Menyimpan Peluang Bisnis yang Menggiurkan (Unsplash)

Sidoarjo Menyimpan Peluang Bisnis yang Menggiurkan

12 Maret 2023
Biaya Hidup di Kalimantan Timur Begitu Mahal bagi Perantau Jawa

Biaya Hidup di Kalimantan Timur Begitu Mahal bagi Perantau Jawa

2 Desember 2023
Grand Heaven Surabaya, 'Hotel Jenazah' dengan Fasilitas Mewah Terminal Mojok

Grand Heaven Surabaya, ‘Hotel Jenazah’ dengan Fasilitas Mewah

27 Juni 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

31 Januari 2026
Sudah Saatnya KAI Menyediakan Gerbong Khusus Pekerja Remote karena Tidak Semua Orang Bisa Kerja Sambil Desak-Desakan

Surat Terbuka untuk KAI: War Tiket Lebaran Bikin Stres, Memainkan Perasaan Perantau yang Dikoyak-koyak Rindu!

7 Februari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.